
Ruang kepala sekolah tampak di penuhi oleh guru-guru yang merasa keberatan dengan kepetusan kepsek tentang mengeluarkan Wida dari sekolah.
"Maaf Pak, kami tidak setuju jika Wida di keluarkan," kata Bu Sri yang merupakan guru Bahasa Inggris. "Ia bukan siswa yang suka melakukan masalah."
"Iya, Pak. Tolong dipertimbangkan lagi. Ia murid yang selalu mendapat tiga besar dikelasnya. Bukan begitu Pak Anton?" Bu Rum ikut berbicara juga.
Pak Anton mengangguk mengiyakan perkataan Bu Rum.
"Iya, Pak. Saya sebagai guru BK akan membuat surat peringatan untuknya, kalau perlu surat perjanjian agar ia tidak mengulangi perbuatannya."
Kepala Sekolah nampak menghela napas. Sebenarnya ia juga tidak ingin mengeluarkan siswanya. Tapi bagaimana, orang yang memintanya adalah salah satu donatur yang cukup lumayan sumbangsihnya untuk sekolah ini.
"Bapak harus bersikap adil. Kalau Wida keluar Prima juga keluar. Bukankah Prima juga ada dalam gambar? Walau terlihat samar, tapi Prima telah mengakuinya bahwa itu dirinya," kata Bu Shinta tegas. "Dan Anin serta Sofi yang mengedarkan gambar tersebut juga harus di kenakan sangsi."
Kepala Sekolah menatap para pengajarnya satu persatu.
"Baiklah, saya akan pertimbangkan lagi. Nanti saya bicarakan lagi dengan Komite orang tua murid.."
"Kalau Bapak ingin bukti, saya mau kok kepenginapan itu untuk meminta rekaman cctv saat mereka minta ijin dengan resepsionisnya," kata Bu Shinta lagi dengan bersemangat saat mendengar Kepala Sekolah akan mempertimbangkannya.
Kepala Sekolah hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Sudahlah.. sekarang kalian kembali saja mengajar. Nanti siang saya akan kasih keputusannya.."
Wida sedang mencatat pelajarannya saat Asti berbisik ditelinganya.
"Aku lihat tadi beberapa guru keluar dari ruang kepsek," katanya yang membuat Wida langsung menoleh padanya.
"Sepertinya mereka sedang membahas masalah kita."
Wida menatap dalam Asti. Tanpa komando, detak jantungnya langsung berdetak cepat.
"Apakah sudah ada keputusannya?" tanyanya dengan nada takut.
Asti menggeleng.
"Aku tidak tahu.. aku hanya melihat para guru keluar dari sana."
Wida menggigit bibir bawahnya menandakan kalau ia sedang cemas. Pikirannya yang tiba-tiba kacau tidak bisa menebak kira-kira apa yang akan menjadi keputusan kepsek.
Waktu yang terasa berjalan lambat bagi Prima akhirnya berlalu. Dengan gerakkan kilatnya ia meraup peralatan sekolahnya dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya.
__ADS_1
Nina yang ingin memanggil Prima, membatalkan niatnya karena dilihatnya Prima yang telah melesat keluar kelas. Dengan mendesah kesal, ia memasukkan bukunya ke dalam tasnya.
Sifa yang melihatnya hanya menggeleng saja.
"Eh, iya... tadi para guru sepertinya sedang membahas masalah Wida," katanya setelah mengingat apa yang di lihatnya saat akan kembali kekelas dari jam istirahat. "Sepertinya mereka habis rapat diruang kepsek."
"Apakah sudah ada keputusan dari kepsek?" tanya Nina dengan alis berkerut.
Sifa mengangkat bahunya, "Entahlah..."
Bibir Prima tersenyum saat melihat Wida masih duduk dibangkunya, dengan langkah cepat dihampirinya Wida.
"Hai.." sapanya begitu telah sampai di pinggir meja Wida.
Wida melihat kearah Prima dengan senyum di ujung bibirnya.
"Hai..." katanya membalas sapaan Prima.
Asti yang duduk di pinggir bangku mendongak sekilas ke arah Prima. Lalu melihat ke arah belakang Prima seakan mencari seseorang.
Prima yang melihatnya tersenyum seakan tahu yang di cari Asti.
Asti yang tertebak oleh Prima, tersenyum malu. Lalu berpura-pura sibuk memasukkan buku-bukunya.
"Aku akan ke kelas Eko," katanya sambil berdiri, "kalian duluan saja, nanti kami akan menyusul." Dan Asti pun berlalu meninggalkan Wida dan Prima.
Prima lalu duduk di tempat Asti, menunggu Wida yang masih merapikan catatannya. Dipandanginya Wida yang tampak imut baginya, saat ia sedang serius.
"Mau aku bantu?" katanya sambil menyelipkan rambut Wida yang menjuntai ketelinganya.
Wida merasa jengah dengan sentuhan Prima yang tiba-tiba. Ia menggelengkan kepalanya menolak tawaran bantuan Prima, lalu melanjutkan catatannya. Akhirnya Prima memilih menunggu Wida dengan sabar, sambil memandangi wajah kekasihnya itu..
Ryan berjalan melintasi ruang kerja ayahnya dengan baju seragam yang telah rapi. Sepertinya ia akan berangkat sekolah lebih awal. Ayahnya yang baru datang dari luar kota, tampak menerima telepon dari seseorang.
"Terserah kau saja," katanya dengan suara berat, "ambil saja keputusan yang tepat menurutmu. Aku kan hanya memantau dari jauh saja, semuanya sudah aku percayakan padamu. Kalau memang harus keluar ya keluarkan, dari pada kita kehilangan donatur."
Langkah Ryan langsung terhenti saat mendengar ada kata 'keluar' dari mulut ayahnya. Entah mengapa ia merasa pembicaraan ayahnya ada sangkut pautnya dengan masalah yang ada di sekolah.
Ayah Ryan adalah pemilik sekolah SMA Jaya, namun ia jarang datang kesana karena telah percaya sepenuhnya pada Pak Subarja, kepala sekolah SMA Jaya yang juga merupakan sahabatnya semasa ia kuliah dulu.
Ryan menghampiri ayahnya, setelah ayahnya selesai menelpon.
__ADS_1
"Siapa, Pah?" tanyanya datar.
Pak Robert, ayah Ryan, menoleh ke arah anaknya yang datang menghampirinya.
"Om Barja," katanya sambil tersenyum. Ia merasa senang melihat perubahan anaknya yang sekarang sudah mulai rajin kesekolah.
"Apa ada masalah?" tanya Ryan penasaran.
"Tidak. Hanya ada seorang siswi yang sepertinya terkena masalah.. dan akan di keluarkan," katanya membuat mata Ryan membelalak.
"Apa?!" seru Ryan seakan tak percaya dengan ucapan ayahnya. "Siapa yang akan di keluarkan? Apa papah tahu siapa dia?"
Ryan sebenarnya tahu siapa yang sedang dibicarakan ayahnya. Hanya saja ia ingin mendengar lebih jelas dari mulut ayahnya.
"Siapa ya tadi namanya.." Pak Robert tampak mengingat-ingat nama yang disebut sahabatnya tadi, "oh.. Wida!" serunya tertahan setelah mengingat nama yang didengarnya saat di telepon. "Apa kau mengenalnya?"
"Tentu saja aku mengenalnya!" kata Ryan dengan suara yang terdengar sedikit emosi. "Ia temanku. Aku tidak ingin ia dikeluarkan!"
"Bukankah ia kelas tiga? Bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Pak Robert tanpa mengindahkan Ryan yang tampak emosi.
"Aku mengenalnya sudah lama, sejak aku SMP. Dan asal papah tahu, karena dialah aku jadi rajin kesekolah."
Ayah Ryan memandang anaknya dengan alis berkerut.
"Kau tampaknya menyukai kakak kelasmu ini.."
Ryan hanya terdiam mendengar perkataan ayahnya.
Pak Robert mendesah melihat ekspresi anaknya yang diam. Dengan diamnya Ryan ia tahu, bahwa anaknya memang menyukai kakak kelasnya itu.
"Papah sudah menyerahkan segala urusan sekolah pada Pak Barja. Biar ia yang menentukan mana yang terbaik."
Wajah Ryan kembali terlihat emosi.
"Tapi Kak Wida anak yang baik. Ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Dan ia anak yang berprestasi. Setidaknya papah memikirkan hal itu!" kata Ryan berusaha membela Wida.
Pak Robert berjalan ke arah kursi kerjanya dan duduk disana.
"Sudahlah..." katanya mengabaikan perkataan anaknya, " bukankah kau akan pergi kesekolah? Cepatlah kau berangkat, nanti kau telat."
Ryan yang tahu watak ayahnya yang tidak bisa di ubah keputusannya, mendesah kesal. Tanpa pamit pada ayahnya, ia meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan kekesalan di hatinya. Ia merasa tidak rela bila Wida di keluarkan. Bila ayahnya tidak bisa di ajak kompromi, ia akan menemui Pak Barja, orang yang sejak kecil biasa ia panggil 'Om' itu. Kali saja ia bisa mengubah keputusannya, bila dirinya yang memintanya... pikirnya..
__ADS_1