Romansa SMA

Romansa SMA
5. Claustrophobia


__ADS_3

Setelah memesan makanan, Rino dan Sam pun kembali ketempat duduk mereka bersama Keenan dan Laura. Tak lama makanan yang ditunggu pun tiba.


Karena sudah sangat lapar tanpa aba-aba lagi Laura pun melahap mie ayam yang menurutnya super lezat itu dengan suka cita, tak butuh waktu lama semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis pun tandas tanpa sisa.


Keenan, Sam dan Rino cuma bisa melongo melihat nafsu makan gadis kecil di depanya itu. Laura cuma bisa nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi kepada tiga cowok yang sedang menatap heran ke arahnya.


"Gila lo, Ra! badan mungil tapi nafsu makan kaya kuli, hahaha..." Sam tertawa seraya menggeleng-geleng kan kepalanya. Rino pun ikut tergelak memandang Laura dan Keenan hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Hehehe... iya, abis tadi pagi belom sempet sarapan." Balas Laura seraya menggaruk pipi kanannya walau tidak gatal.


Setelah makan dengan cepat Laura pun merasa dia harus ke toilet, sebelum ke toilet dia sempat bertanya terlebih dahulu pada Sam dimana letak toilet terdekat dari kantin dan Sam pun memberi tahunya. Selanjutnya Laura pergi meninggalkan 3 cowok yang masih sibuk dengan makanannya untuk menuju toilet.


Saat Laura baru berjalan melewati belokan menuju toilet, di sebuah lorong yang sepi ternyata sudah menunggu 4 cewek yang siap menghadangnya, mereka adalah Eva, Lina, Maya dan Devi. Mereka adalah murid dari kelas 12A sedangkan Laura adalah kelas 12B


Eva adalah cewek yang sangat populer di sekolah selain cantik dan memiliki proporsi tubuh yang sempurna dia juga seorang model majalah remaja ternama, jadi tidak mungkin ada yang tidak mengenalnya.


Dan semua murid di sekolah itu tau kalau Eva sangat menyukai Keenan, dan selalu mengejar-ngejar Keenan, murid-murid lain banyak yang mendukung hubungan Eva dengan Keenan karena di rasa mereka sangat serasi jika bersama dari segi visual.


Tapi tidak dengan Keenan, dia merasa risih dengan sikap perhatian Eva yang terlalu berlebihan kepadanya, sekuat apa pun Eva selalu bersikap baik kepada Keenan, Keenan tidak pernah perduli sama sekali dan selalu cuek.


Tapi sikap cuek Keenan malah membuat Eva semakin bersemangat untuk terus mengejar Keenan, baginya seseorang yang sangat sulit di taklukan itu sangatlah menarik.


***


Laura yang sama sekali tidak tahu ada orang di sana, jalan sedikit terburu dan tidak memperhatikan sama sekali ada sebuah kaki yang sengaja menghalangi jalanya.


Tanpa persiapan dan kuda-kuda Laura pun tersungkur di lantai, dia mengaduh seketika karena lututnya terasa nyeri. Masih dalam posisinya, Laura perlahan mengangkat kepalanya dan menganalisa situasi sekitarnya sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Terlihat 4 cewek dengan tatapan sinis sedang berdiri dengan angkuh persis di depan Laura. Melihat itu Laura coba menguasai dirinya, dengan tenang Laura beranjak berdiri lalu mengibas-ngibaskan baju dan menepukan telapak tanganya untuk menghalau debu yang menempel karena dia terjatuh tadi.

__ADS_1


"Hei... ada apa ini, hah?" Tanya Laura dengan tatapan menusuk tanpa rasa takut sedikitpun karena merasa tidak punya salah, dengan raut sedikit bingung menatap satu-satu kepada 4 murid perempuan yang dia yakini tidak satu kelas denganya.


Dia bahkan baru kali ini masuk sekolah, dan bahkan belum mengenal sama sekali murid-murid disini, tapi kenapa dia merasa sudah memiliki musuh.


"Wah... wah... ternyata punya nyali juga rupanya lo, ya!" Balas Eva dengan sinis, wajahnya terlihat cantik tapi sayang semua itu seakan menguap begitu saja bagi Laura, seiring dengan sifat angkuh dan sombong yang tergambar jelas di raut wajah murid perempuan itu.


"Dasar cewek gatel! berani-berani nya lo deketin Keenan, hah!" Timpal Lina tak kalah sinis, seraya mendorong bahu Laura dengan keras sampai Laura harus mundur beberapa langkah.


Merasa perlakuan yang di terima Laura semakin kasar, Laura yang sejak tadi tidak bergeming seketika bereaksi.


"Hei... denger ya kalian semua, gw sama sekali gak ngedeketin siapa pun. Dan perlu kalian tahu juga, gw sama sekali gak kegatelan sama si manusia es itu, minggir!" Laura mengibaskan tanganya menerobos dua murid cewek di depanya dan berlalu menuju toilet, sekarang Laura baru tahu masalah ini ternyata ada hubunganya dengan Keenan.


Melihat kejadian yang baru saja terjadi membuat Eva geram dan mengepalkan tanganya dengan keras di iringi hentakan-hentakan kakinya menghujam lantai.


Tadinya Eva dan kawan-kawanya ingin mengikuti Laura ke toilet untuk meneruskan aksinya, tapi saat baru sampe depan pintu toilet Eva berpikir bahwa Laura bukanlah murid yang mudah di tindas, sehingga dia memiliki rencana lain.


Laura yang sudah selesai dengan urursanya di toilet bergegas keluar dari sana.


ceklek... ceklek...


kenop pintu toilet dia putar beberapa kali tapi tidak mau terbuka, karena penasaran dia putar lagi beberapa kali mungkin karena macet, saat itu Laura masih berpikir positif.


Lagi dan lagi hasilnya tetap nihil, pintu masih tidak bisa di buka. Merasa frustasi akhirnya Laura berteriak minta tolong seraya menggedor-gedor pintu berharap ada yang mendengarnya dan menolongnya segera.


Terus berteriak dan menggedor tanpa henti untuk waktu yang cukup lama Laura pun kehabisan tenaga dan terkulai lemas di atas lantai toilet.


Matanya menyapu seluruh sisi dan sudut ruangan, tanpa dia sadari kecemasan yang amat sangat mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Tubuhnya mundur perlahan ke sisi pojok dinding, yang sangat di takutkan Laura pun akhirnya terjadi tanpa bisa dia kendalikan


Ya, Claustrophobia. Sejak kecil Laura sudah mengidap syndrom ini. Claustrophobia adalah ketakutan yang tidak beralasan pada ruang tertutup atau ruang yang sempit.

__ADS_1


Laura yang memiliki syndrome cukup serius tubuhnya seketika bergetar dan dipenuhi dengan keringat dingin, denyut jantungnya berdetak lebih cepat, kepalanya pusing dia pun meremas dadanya karena rasa sesak dan nyeri yang dia rasakan.


"Ibu, tolong aku."


Ucap Laura dengan suara yang lirih di antara derai tangisnya menahan sakit yang menghujam, Kata itu muncul begitu saja seolah menyiratkan kerinduan yang mendalam akan sosok ibu nya.


***


Keenan dari tadi bolak-balik melihat jam tanganya, dia terlihat bingung kenapa Laura ke toilet begitu lama, kecemasan dan pikiran buruk tiba-dia merasukinya. Keenan pun tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu.


Melihat gelagat aneh yang di tunjukan Keenan, Rino pun tak tahan untuk bertanya kali ini dia dengan serius bertanya.


"Kenapa lo, Nan? koq kaya orang bingung gitu?"


Tanpa memperdulikan pertanyaan Rino, Keenan tiba-tiba beranjak dari duduknya dan langsung berlalu pergi hendak mencari Laura.Melihat pergerakan Keenan yang tiba-tiba pergi begitu saja membuat Rino dan Sam saling bertatap-tatapan, mereka tau pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


Rino dan Sam pun bergegas mengikuti kearah Keenan pergi. Dengan langkah besarnya Keenan pun sampai dengan cepat di depan sebuah toilet wanita yang tertutup rapat dan terdengar isak tangis di dalamnya.


Tubuh Keenan seketika di sulut oleh api yang panas, dengan segera dia memegang handel pintu dan ingin membukanya tapi tidak bisa, dia coba beberapa kali pun tidak bisa.


"Shit!" Ucap Keenan penuh amarah seraya mengacak-ngacak rambutnya.


"Laura... Laura... apa lo baik-baik aja?" Dengan suara terlihat begitu cemas coba memanggil-manggil Laura seraya menggedor-gedor pintu toilet.


Melihat tak mendapat tanggapan dan hanya mendengar sebuah isak tangis yang tiada henti membuat Keenan semaki frustasi. Dia pun tak tahan lagi jalan satu-satunya adalah mendobrak pintu yang ada di depanya.


Melihat Keenan mendobrak pintu dan tak kunjung membuahkan hasil, Rino dan Sam pun akhirnya turun tangan. Pada hitungan ketiga akhirnya pintu berhasil di dobrak.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2