Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXX : Kau.. Menggemaskan..


__ADS_3

Prima melangkah memasuki halaman rumah Wida. Ia tersenyum saat dilihatnya Wida yang mengintip dari balik jendela. Pintu pun terbuka begitu ia sampai didepannya. Wajah Wida yang manis, terlihat semakin manis bagi Prima saat senyum menghias wajahnya.


"Hai.." sapa Prima.


"Hai..." balas Wida grogi. "Masuklah."


Prima yang masuk langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Dilihatnya sebuah teko beling berisi air putih dan sepasang gelas telah tersedia di meja tamu. Rupanya Wida telah menyiapkan semuanya sebelum ia datang.


Wida yang nampak canggung karena hanya ada mereka berdua saja dirumahnya, masih berdiri tak jauh dari Prima. Prima pun menoleh kearahnya. Ia menepuk-nepuk sofa menyuruh Wida agar duduk disampingnya.


"Duduklah," katanya sambil memiringkan kepalanya, menunjuk kesebelahnya yang kosong.


Namun Wida memilih duduk di sofa yang berbeda, yang ada disebelah Prima. Prima tersenyum geli melihatnya. Ia tahu kalau Wida merasa canggung.


"Hei... aku tak akan macam-macam dirumahmu..." katanya dengan senyum menggoda.


Ah, batin Wida, ia juga berkata begitu ketika di rumahnya.. tapi ia tetap melakukan sesuatu padanya... menciumnya!


"Aku disini saja," katanya lirih.


"Ya sudah... "Prima mengalah, "mana ponselmu? Aku ingin lihat nomor pengirimnya."


Wida terperanjat, ia lupa kalau ponselnya ada di kamarnya.

__ADS_1


"Sebentar... ponselku ada di kamar," katanya lalu bangun dan berjalan menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Wida langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Setelah ponsel sudah ada ditangannya ia pun hendak kembali keruang tamu di mana Prima berada.


Namun betapa terkejutnya ia saat membalikkan tubuhnya, karena Prima sudah berdiri di belakangnya, yang tengah melihat-lihat keadaan kamarnya.


"Kamarmu mungil sekali..." komentar Prima tentang kamar Wida, tanpa mempedulikan Wida yang terkejut karena kehadirannya di kamarnya.ô


Wida yang masih terkejut, merasa tenggorokkannya terhalang sesuatu, sehingga ia tidak dapat berkata-kata.


Prima berjalan ke arah Wida yang masih berdiri disisi tempat tidurnya. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur itu. Lalu dengan sekali sentak tangannya menarik tangan Wida, agar Wida duduk sisisinya.


Karena tarikkan tangan Prima cukup keras, Wida pun akhirnya terduduk disamping Prima.


"Kau... kenapa kau masuk ke kamarku?" tanya Wida gugup.


Wida terdiam mendengarnya. Namun rasa risih membuat Wida kembali berdiri dan berniat menjaga jarak dari Prima.


Tapi Prima kembali menarik tangan Wida yang berdiri, dan membuat Wida kembali terduduk disisinya.


"Di sini saja!" katanya gemas sambil menatap tajam mata Wida.


Wida yang takut dengan tatapan Prima, akhirnya menyerah, dan mau tidak mau ia duduk disamping Prima dengan hati yang tiba-tiba berdebar cepat.

__ADS_1


Prima meraih ponsel yang ada ditangan Wida. Dibukanya ponsel Wida, lalu di bacanya pesan ancaman itu.


"Apa kau tidak tahu ini nomor siapa?" tanya Prima sambil menoleh ke arah Wida. Sesaat Prima terkesima, ia baru menyadari bahwa Wida duduk begitu dekat dengannya. Sehingga jarak wajah mereka hanya sejengkal saja... yang langsung membuat jantung Prima bedetak cepat.


Wida menggeleng.


Prima kembali melihat ke ponsel Wida yang ada ditangannya, alih-alih untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh. Ia menghembuskan napasnya pelan agar tidak terdengar oleh Wida. Menyesal juga ia menarik Wida agar duduk di dekatnya, jika tahu akan membuatnya seperti ini.


"Menurutmu... siapa kira-kira orang yang melakukan ini padamu?" kata Prima yang kembali melihat ke arah Wida.


Wida yang sedari tadi terdiam, kembali menggelengkan kepalanya, membuat Prima gemas melihatnya.


"Kau ini... sedari tadi hanya menggeleng saja. Apa kau sariawan?" goda Prima sambil mencubit pipi Wida pelan.


Wida yang pipinya disentuh Prima langsung merasa jengah. Wajahnya tertunduk tersipu malu karena godaan Prima.


Prima meraih tangan Wida.


"Mulai sekarang, kau tidak boleh sendirian jika berpergian. Hubungi aku, kalau kau ingin pergi kesuatu tempat, oke?"


Wida menoleh ke Prima dan kembali mengangguk, membuat Prima tertawa.


"Kau ini... penurut sekali," kata Prima sambil mengacak rambut Wida, setelah meletakkan ponsel Wida di sampingnya.

__ADS_1


Tiba-tiba tawa Prima terhenti. Matanya menatap mata Wida dengan lembut. Sesaat mereka saling tatap.. sampai akhirnya tangan Prima menyentuh wajah Wida dan menariknya pelan agar semakin dekat kewajahnya.


Wida yang bagai terhipnotis hanya terdiam, membiarkan wajah Prima yang semakin dekat dengan wajahnya. Sampai akhirnya Prima mendaratkan bibirnya yang maskulin kebibir Wida dengan penuh kelembutan...


__ADS_2