
Prima memainkan ponselnya di tangannya. Ia sepertinya ingin menghubungi Wida, namun bingung dari mana ingin memulainya. Baru satu jam perjalanannya menuju Jogja, ia sudah merindukan suara kekasihnya itu. Diliriknya Om Januar yang tampak konsen mengendarai mobilnya. Ia takut, bila ia menghubungi Wida, ia akan mengganggu Omnya yang sedang menyetir.
"Om..apakah akan mengganggu bila aku menelepon?" tanya Prima akhirnya pada Omnya.
Om Januar melirik sekilas pada Prima.
"Kenapa..?" tanyanya santai pada Prima. "Apa ada yang harus kau hubungi?"
"Iya.." jawab Prima singkat.
Om Januar tersenyum.
"Silahkan saja..."
Tanpa berpikir lama, Prima langsung menekan panggilan untuk Wida begitu mendapat persetujuan dari Omnya.
Nina yang duduk di kursi belakang tampak mengerutkan alisnya begitu nendengar permintaan Prima pada Omnya. Tanpa perlu dikatakan siapa yang akan di teleponnya, ia bisa tahu kalau Prima pasti menghubungi Wida. Apalagi saat mendengar nada mesra dari suara Prima saat berbicara di ponselnya.
"Hai..." Prima memulai percakapannya di ponselnya dengan sedikit malu-malu, karena ada dua pasang telinga yang mungkin akan mendengar pembicaraannya.
"Kau lagi dimana?"
Wida yang sedang rebah di tempat tidur Asti, langsung terduduk saat di layar ponselnya tertera nama Prima. Dengan gugup ia menjawab panggilan Prima.
"Hai juga..." jawabnya. "Aku... aku sedang di rumah Asti..."
"Lagi apa?" tanya Prima di seberang sana.
"Tidak lagi apa-apa.. hanya tiduran saja..." jawab Wida sambil melirik ke arah Asti yang sedang memperhatikannya.
"Apakah perjalanannya lancar?"
__ADS_1
"Lancarlah.. kan lewat tol.." jawab Prima dengan nada bercanda.
Wida tersenyum.
"Oh iya... lewat tol.." Wida tersipu sendiri mendengar jawaban Prima.
"Ada apa kau meneleponku? Apakah kau sudah kangen padaku?" goda Wida.
Prima tersenyum. Ia menoleh ke arah Omnya sebelum menjawab pertanyaan Wida.
"Iya... aku sudah kangen padamu.." jawab Prima dengan menurunkan nada bicaranya. Sepertinya ia takut Omnya atau Nina mendengar perkataannya.
Sepertinya Wida senang dengan jawaban yang diberikan Prima, terdengar dari tawanya yang renyah.
"Baru saja kita berpisah... masa kau sudah kangen.. jangan berlebihan.."
"Aku serius.. Aku sangat ingin mendengar suaramu. Kalau wajahmu bisa aku lihat di galeriku... tapi suaramu... aku belum pernah merekamnya.."
Prima tersenyum.
"Boleh.." jawabnya antusias.
Di kursi belakang Nina mendengar percakapan Prima dan Wida dengan wajah kesal. Tidak dapat di pungkiri ada rasa cemburu di hatinya. Apalagi saat mendengar suara tawa Prima yang terkesan sangat menyukai Wida. Hhhh.. desahnya membuang rasa kesalnya. Dan perjalanan ke Jogja pun terasa panjang baginya...
***
Mobil yang membawa Prima dan Nina tampak memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas, sepertinya rumah Om Januar. Prima yang sudah sering ke rumah Omnya itu tampak biasa saja, berbeda dengan Nina yang tampak takjub dengan ke megahan rumah itu.
"Kalian tinggal disini saja," kata Om Januar setelah menghentikan mobilnya. "Itu lebih baik daripada kost diluar. Kalian bisa menempati kamar yang ada di lantai dua. Dan kalian bisa pilih sendiri kamar yang kalian ingini."
"Aku tetap di kamar yang biasa aku tempati, jika aku menginap disini, Om.." kata Prima menanggapi perkataan Omnya sambil membuka pintu dan turun dari mobil.
__ADS_1
Nina yang hanya diam, ikut turun, dan langsung berjalan ke arah bagasi mobil. Ditanggapinya kopernya yang disodorkan oleh Prima.
"Terima kasih..." katanya lirih.
Prima sepertinya tidak mendengar perkataan Nina, karena ia terlihat acuh tak acuh. Nina yang melihatnya hanya mendesah pelan dan melanjutkan menurunkan barang-barang bawaannya.
Saat memasuki rumah, mereka di sambut oleh seorang wanita cantik yang tampak sedang hamil tua. Senyumnya yang merekah memperlihatkan sosoknya yang ramah. Prima yang melihatnya membalas senyumannya.
"Tante Ana..." sapanya memanggil nama wanita yang merupakan istri Omnya itu.
Wanita yang di panggil Tante Ana oleh Prima itu langsung mendekat ke arah Prima dan memeluknya.
"Wah.. ternyata keponakkan Tante sudah sebesar ini," katanya ramah.
Setelah melepas pelukkannya, Tante Ana berpaling ke arah Nina.
"Nina, ya?" katanya sambil tersenyum menyapa Nina.
Nina membalas senyum Tante Ana.
"Iya tante.." jawabnya ramah sambil mengangguk pelan.
"Langsung saja kalian keatas," kata Om Januar tiba-tiba begitu ia memasuki ruang tamu. "Kamar kalian berdekatan, jadi kalian bisa belajar bersama nanti. Bi Isah, tolong antar anak-anak keatas." Om Januar menyuruh seorang wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di ruang tamu itu. Sepertinya ia pengurus rumah tangga Omnya Prima. Dan tanpa bersuara Nina dan Prima mengikuti wanita paruh baya itu ke lantai atas.
Rupanya kamar Prima dan Nina saling berhadapan. Tanpa memeriksa kamar yang mana yang harus ia tempati, Prima langsung membuka salah satu pintu kamar dan langsung masuk kedalamnya. Sepertinya kamar itu adalah kamar yang biasa ia tempati, saat menginap di rumah Om Januar.
Nina yang melihatnya lagi-lagi hanya bisa menghela nafas pelan. Lalu tanpa mempedulikan sikap Prima, ia pun langsung masuk kedalam kamar yang diperuntukkan untuknya. Baru dua langkah ia memasuki kamar itu, ia tampak takjub. Betapa tidak, kamar yang bernuansa merah muda itu tampak begitu luas, lebih luas dari kamar dirumahnya. Bibirnya pun langsung tersenyum senang. Disapunya seluruh ruangan dengan mata berbinar. Berbagai barang yang dibutuhkannya yang tidak ia dapati di rumahnya, ada disitu. Dari meja belajar, laptop, tivi, meja rias, pengering rambut dan bahkan kulkas mini pun ada disana. Aah.. desahnya senang. Ini benar-benar surga baginya.
Dengan langkah riang di hampirinya lemari putih yang berpintu dua, yang berada disisi kanan tempat tidur. Dibukanya lemari yang tampak kosong dan bersih itu. Lalu dengan cekatan ia pun segera membuka kopornya untuk memindahkan isinya kedalam lemari..
Berbeda dengan Prima, tanpa mempedulikan barang bawaannya, ia langsung melompat ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam sejenak sambil mendesah pelan seakan melepaskan sesak yang sedari tadi ia tahan. Lalu tak lama matanya pun terbuka. Tangan yang tadi di gunakan sebagai bantalan, kini beralih ke saku celananya untuk meraih ponselnya.
__ADS_1
Sambil tersenyum dipandanginya foto wajah Wida yang di jadikannya foto profil ponselnya. Foto yang di ambilnya diam-diam saat Wida sedang termenung di kantin menunggu dirinya. Setelah puas memandanginya, ia pun segera melakukan panggilan ke nomer Wida. Lama ia menunggu jawaban panggilannya itu. Sampai dering berakhir, Wida tidak menjawabnya. Prima pun melakukan panggilan lagi.. lagi.. dan lagi.. Kenapa Wida tidak menjawab panggilannya? Apa ia sedang tidur? Batin Prima resah...