
Akhirnya keinginan Prima kencan dengan Wida terpenuhi. Walau ia harus bolos sekolah dan menyeret Wida untuk ikut bolos juga.
Begitu mall dibuka, ia langsung mengajak Wida kesana dengan vespanya. Setelah memarkirkan vespa kesayangannya di parkiran, di gandengnya tangan Wida dengan hati senang saat masuk kedalam mall.
Karena masih pagi banyak outlet dalam mall yang belum buka. Setelah berkeliling melihat suasana mall, Prima mengajak Wida kelantai empat, dimana ada arena bermain disana. Prima keloket tempat pembelian koin atau kartu tiket. Dibelinya dua kartu, satu untuk Wida dan satu untuknya sendiri.
"Mainlah sepuasnya.. nanti kalau saldonya habis aku akan isi lagi," kata Prima sambil menyerahkan kartu ketangan Wida.
"Kau ingin bermain sendiri atau bersama?" tanya Prima ingin memberikan kebebasan pada Wida.
"Main sendiri..!" jawab Wida cepat. Ia takut, nanti yang ada malah grogi kalau main bersama.
"Baiklah.. " kata Prima.
Wida tersenyum, ditatapnya kartu pemberian Prima. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bermain ketempat seperti ini.
"Terima kasih.." kata Wida senang.
"Mainlah tapi jangan jauh-jauh dari aku.." kata Prima lalu meninggalkan Wida untuk bermain permainan yang ia inginkan.
__ADS_1
Wida melihat kesekeliling, ia bingung harus main apa. Namun akhirnya ia mencoba semua permainan yang ada satu persatu.
Setelah bosan, akhirmya ia duduk tidak jauh dari tempat Prima bermain. Dilihatnya Prima dengan tatapan sayang. Tanpa sadar, ketika Prima tertawa reflek ia tertawa, dan ketika Prima terkejut ia juga terkejut. Saat menyadari kelakuannya, Wida jadi malu dan senyum sendiri.
Yah.. laki-laki yang ternyata selama ini menyukainya diam-diam, kini sudah menjadi pacarnya.. walau ia ragu saat menerimanya. Tapi bukan hanya Prima yang menyukai dirinya.. ia sebenarnya juga menyukai Prima diam-diam. Hanya saja ia terlalu minder untuk menunjukkannya.
Karena siapalah dia, dibanding dengan anak perempuan lainnya yang ada disekolah. Ia hanya anak seorang janda yang menafkahi keluarganya dengan membuka usaha ketring. Sedangkan mereka rata-rata dari keluarga tajir yang mampu dan berkecukupan.
Tapi sepertinya Prima tidak peduli dengan itu semua. Ia pernah kerumahnya.. dan ia tidak mengatakan apa-apa padanya, dan tidak bertanya yang macam-macam.
"Wida!" panggil Prima tiba-tiba. "Sini!"
Lamunan Wida buyar seketika. Dihampirinya Prima yang sedang menghadapi kotak permainan capit boneka.
"Memangnya kau bisa?" tantang Wida sambil tersenyum.
"Kalau aku bisa kau mau kasih aku apa?" Prima balik menantang. Wida hanya tersenyum menanggapi perkataan Prima. Dan Ia pun menunjuk boneka yang di inginkannya.
Lebih dari sekali Prima mecoba permainan itu, namun selalu saja gagal. Di cobanya lagi dan lagi, dengan di iringi jerit gemas dan tawa Wida jika Prima menjatuhkan bonekanya.
__ADS_1
Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Prima berhasil mencapit salah satu boneka dan menjatuhkannya di lubang keluar.
Wida sontak menjerit gembira. Ia melompat-lompat karena senangnya. Sampai-sampai ia reflek memeluk Prima!
Prima yang mendapat pelukan tiba-tiba itu terkejut. Seketika jantungnya langsung berdetak cepat saat tubuh Wida menyentuh tubuhnya. Wida yang menyadari perbuatannya, langsung melepas kan pelukkannya. Ia mundur selangkah sambil tertunduk karena malu.
"Maaf.. " katanya lirih.
Prima hanya tersenyum kaku, diambilnya boneka yang tadi berhasil ia menangkan. Diraihnya tangan Wida untuk memberikan boneka itu. Wida mengangkat kepalanya dan teraenyum malu saat menerimanya.
"Terima kasih.." katanya senang, walau pun boneka itu bukan boneka yang ia pilih tadi.
"Kamu pasti sudah lapar.." kata Prima setelah menenangkan hatinya. Dilihatnya waktu yang ternyata sudah siang.
"Ayo kita cari makan dulu." Digandengnya tangan Wida untuk keluar dari arena permainan.
Mereka makan tidak jauh dari tempat mereka bermain tadi. Sebuah restoran yang menyajikan makanan siap saji. Prima memesankan makanan yang di inginkannya dan juga keinginan Wida. Mereka pun makan dalam suana canggung.
Setelah selesai makan, mereka berkeliling lagi. Sampai akhirnya mereka tiba didepan gedung bioskop.
__ADS_1
"Kita nonton, ya?" Prima menawari Wida.
Wida diam sejenak sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Prima.