Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXII : Untung Aku Lebih Dulu...


__ADS_3

Prima merasakan saat Wida mengendurkan pegangannya dan menggeser duduknya. Sempat terpikir olehnya kalau Wida mungkin marah padanya karena masalah Nina. Ditariknya tangan Wida agar kembali berpegangan dan mendekat kembali. Dan ia pun meminta Wida memeluknya.


Ternyata Wida merespon! Ia kembali mengencangkan pegangannya, bahkan merangkul dirinya. Prima bernapas lega. Ia bersyukur Wida ternyata tak marah padanya. Untung saja tadi Eko mengingatkan dirinya untuk mengantar Wida pulang, kalau tidak mungkin saat ini ia akan pulang sendiri dan Wida berada disisi Soni.


Prima memang merasa galau tadi saat bel pulang berbunyi. Ia melihat Nina yang tampak lesu dan tak bersemangat. Mungkin perkataannya tadi di kantin telah menyakiti hatinya. Prima merasa bersalah. Ingin rasanya ia menghampiri Nina untuk sekedar menghiburnya. Sesaat dirinya lupa bahwa ia akan mengantar Wida pulang.


Soni yang melihat Prima masih duduk memperhatikan Nina, mencoba mengambil kesempatan. Dengan cepat ia menyambar tasnya dan berlalu keluar kelas menuju kelas Wida. Dan itu semua tak luput dari pandangan Eko.


Eko yang memang mendukung hubungan Prima dengan Wida, mencolek sahabatnya. Prima menoleh.


"Kau... tidak mengantar Wida pulang?"


Prima tersentak dengan pertanyaan Eko. Seakan baru tersadar dari mimpi, ia segera merapikan peralatan sekolahnya. Setelah rapi ia pun bergegas akan keluar kelas.


Namun disempatkannya dulu ketempat duduk Nina.


"Aku pulang duluan ya," katanya pamit, "kau.. tidak apa-apa kan?"


Nina hanya mengangguk menjawab pertanyaan Prima tanpa menatapnya.


Prima menepuk bahu Nina seraya berkata, "Hati-hati, ya." Dan Prima pun berlalu ke kelas Wida.

__ADS_1


Dan beruntunglah ia datang disaat yang tepat. Bila telat sedikit mungkin bukan ia yang di rangkul Wida.


Mereka telah sampai didepan gang rumah Wida. Wida menepuk punggung Prima agar Prima menghentikan motornya.


"Aku turun sini saja," katanya setelah Prima berhenti.


"Tapi aku ingin mengantarmu sampai rumah," pinta Prima."Tidak... disini saja," tolak Wida halus sambil turun dari motor Prima.


Prima menghela napas. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan Wida.


"Baiklah," katanya mengalah.


"Kau... tidak marah, kan?" tanya Wida ketika dilihatnya wajah Prima yang tampak datar. Prima menggeleng. "Aku langsung balik, ya," katanya dan bersiap melajukan motornya.


Prima melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Pikirannya yang galau membuatnya malas untuk pulang kerumah. Terpikir olehnya untuk mampir kerumah Eko. Tapi sepertinya Eko belum pulang, karena hari ini ia ada ulangan susulan. Entah kenapa ia merasa ingin kembali kerumah Wida. Ia masih merasa bersalah pada pacarnya itu. Dan tanpa berpikir lama lagi, ia pun berbalik arah menuju rumah Wida.


Setelah Prima hilang dari pandangannya, Wida dengan langkah gontai berjalan ke arah rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya motor Soni terparkir didepan rumahnya. Ia merasa heran ada apa Soni kerumahnya.


Dengan langkah cepat ia memasuki perkarangan rumahnya. Terdengar suara ibunya yang ramah saat berbicara dengan Soni diruang tamu. Saat ia tiba di pintu masuk, Soni dan ibunya menoleh kearahnya berbarengan. Dengan pandangan yang berbeda tentunya.


Soni menatapnya dengan pandangan senang, sedangkan ibunya dengan mata melotot dan senyum sinis di bibirnya.

__ADS_1


"Nah.. tuh! Pulang juga akhirnya!" seru ibu dengan nada menyindir.


Wida hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan ibunya.


"Hai.." sapa Soni pelan. Dan Wida hanya mengangkat tangannya


"Kau darimana?" tanya ibunya. "Lihat! Saking cemasnya Soni padamu ia sampai kemari mencarimu. Katanya kau pulang duluan tanpa menunggunya. Ia merasa bertanggung jawab karena kalian tadi pergi kesekolah bersama."


Wida mengerutkan keningnya. Ia melirik Soni, sepertinya Soni berbohong pada ibunya.


"Cepat! Kau ganti baju sana! Lalu temani Soni. Ibu akan menyiapkan makan siang," perintah ibunya. Wida pun menurut. Ia masuk ke kamarnya dengan pikiran menduga-duga maksud kedatangan Soni.


Wida tidak mengganti bajunya. Ia hanya meletakkan tas sekolahnya dan berganti sepatu saja. Lalu diambilnya ponsel dan di letakkan di saku roknya. Setelah itu ia keluar menemui Soni yang sedang duduk sendiri diruang tamu.


"Kenapa kau kemari?" tanyanya pelan sambil melirik kedalam, takut ibunya mendengar. Soni hanya tersenyum.


"Aku tidak meninggalkanmu begitu saja tadi. Kau tahu aku pulang dengan Prima. Kenapa kau bilang pada ibu kalau aku tidak menunggumu?" cecar Wida yang penasaran dengan tujuan Soni kerumahnya.


"Kau mau aku bilang seperti itu pada ibumu?" Soni balik bertanya, "bahwa kau pulang dengan Prima dan meninggalkanku?"


Wida tidak menjawab. Ia hanya mendengus kesal. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Lalu diambilnya dan disentuhnya untuk mengaktifkannya. Tiba-tiba matanya terbelalak saat ia membaca pesan tersebut.

__ADS_1


'Aku ada didepan.'


Dari Prima! Reflek Wida menatap Soni yang terlihat bingung dengan sikap Wida.


__ADS_2