Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXIII : Kami Tidak Berselisih...


__ADS_3

Eko menarik tangan Asti yang akan melangkah mengikuti Wida untuk masuk ke dalam kelas Prima. Asti yang berhenti mendadak langsung menoleh dan menatap pacarnya itu dengan alis berkerut, karena tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya itu.


"Biarkan saja mereka berdua, kita tidak usah mencampurinya," kata Eko menjawab tatapan Asti.


Asti yang akhirnya mengerti maksud Eko, langsung mengangguk setuju. Dan gantian, kini ia yang menarik tangan Eko menuju kantin.


Wida melangkah pelan mendekati Prima dan Nina, dengan di iringi pandangan berbeda oleh keduanya. Prima dengan tatapan dinginnya, sedangkan Nina dengan tatapan kesal, karena merasa terganggu oleh kedatangannya. Tapi entahlah, mungkin itu hanya ilusinya saja karena ia merasa bersalah dan datang disaat yang tidak tepat.


"Hai..." sapa Wida pada keduanya dengan canggung, setelah berada dihadapan Prima dan Nina.


Nina hanya tersenyum kecil menjawab sapaan Wida, sedangkan Prima hanya diam dengan tatapannya yang dingin.


"Ada apa kau kemari?" tanya Prima dingin. Sepertinya ia tidak tega mengacuhkan Wida.


Wida berusaha tersenyum untuk menghilangkan rasa canggungnya.


"Aku... Aku ingin mengajakmu ke kantin.." katanya terbata. "Kau belum makan, kan?"


Prima yang masih kesal dan sakit hati, sepertinya ingin membalas sikap Wida padanya. Tiba-tiba saja ia meraih kantong kresek berisi somai yang ada ditangan Nina, dan mengacungkannya ke arah Wida.


"Tidak perlu," katanya ketus. "Nina sudah membelikan aku somai."


Nina yang sedang memperhatikan Wida terkejut, ketika tangan Prima mengambil kresek yang ia pegang dengan tiba-tiba. Reflek ia menoleh ke Prima.


"Owh..." ucap Wida singkat seakan kehilangan kata-kata. Wida terdiam sejenak.


"Tapi... Aku ingin mengajakmu ke kantin..." kata Wida kemudian memberanikan diri. Entah mengapa ia merasa tidak rela melihat Prima duduk bersebelahan dengan Nina. "Ada yang ingin aku bicarakan."


Beberapa pasang mata nampak memperhatikan mereka bertiga. Sifa, Anin dan Soni yang duduk di belakang mereka, juga ikut memperhatikan. Soni, yang masih memiliki rasa terhadap Wida, terlihat kesal dengan sikap Prima. Ia merasa iba melihat Wida yang berdiri seakan di abaikan oleh Prima.


"Aku sedang tidak ingin keluar kelas," Prima kembali menolak ajakan Wida dengan ketus tanpa melihat ke arah Wida. "Kau pergi saja sendiri. Kau lihat, kan, kalau Nina sedang menemaniku?"


Wida merasa harga dirinya terluka dengan penolakkan Prima yang kedua kalinya. Ia tidak menyangka Prima akan melakukannya di depan Nina.


"Baiklah," katanya pelan, "aku pergi dulu..."


Dan Wida pun membalikkan badannya melangkah pergi meninggalkan Prima dan Nina.

__ADS_1


Prima yang melihat kepergian Wida mendesah pelan. Sepertinya ia sedang berusaha menahan diri, untuk tidak mengejar Wida.


Berbeda dengan Soni, yang memperhatikan mereka dari tadi. Hatinya terenyuh ketika melihat Wida pergi dengan wajah sedihnya. Tanpa menunggu lama ia pun segera bangun dari duduknya dan berlari mengejar Wida.


"Wida!" panggilnya sebelum Wida keluar dari pintu.


Mendengar ada yang memanggilnya, Wida menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan dilihatnya Soni datang menghampirinya.


"Kau mau ke kantin, kan?" kata Soni setelah mendekat. "Ayo!"


Wida hanya diam, dan tanpa menoleh ke arah Prima lagi ia pergi mengikuti Soni ke kantin.


Prima yang melihat Soni mengambil kesempatan dan membawa Wida pergi, terlihat kesal. Rahangnya mengeras karena geram dengan sikap temannya itu.


"Prima..." panggil Nina tiba-tiba membuat Prima tersadar. "Apa kalian sedang ada masalah?"


Prima menoleh kearah Nina. Hampir saja ia lupa, kalau Nina ada disampingnya.


"Aku tidak masalah, kalau kau memanfaatkan aku, bila kau sedang berselisih dengan Wida.." kata Nina sambil tersenyum.


Prima mengerutkan alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Nina. Namun saat ia menyadari, kalau ia sedang memegang kantong kresek yang di bawa Nina dan apa yang ia katakan untuk membalas Wida, ia baru menyadari, mengapa Nina berbicara seperti itu.


Prima tiba-tiba berdiri.


"Maaf, aku mau keluar," katanya pada Nina.


Nina tidak bergerak. Ia tetap pada posisi duduknya yang menghalangi Prima.


"Bukankah kau sedang malas keluar?" tanyanya mencoba mencegah Prima pergi.


Prima menatap Nina.


"Cepatlah, Wida menungguku.." kata Prima tanpa mempedulikan pertanyaan Nina.


Nina yang melihat ekpresi wajah Prima yang terlihat kesal, langsung berdiri. Ia tak ingin berdebat bila Prima sudah terlihat seperti itu.


Setelah Nina menyingkir, tanpa menoleh lagi, Prima langsung melangkah keluar kelas menuju kantin.

__ADS_1


Asti dan Eko merasa heran saat melihat Wida datang bersama Soni. Eko tampak mengerutkan alisnya. Ada apa lagi ini? Batinnya. Mengapa Soni? Bukannya Prima..


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanyanya pada Wida. "Mana Prima?"


Wida tidak menjawab, ia langsung duduk disamping Asti. Sedangkan Soni hanya berdiri, merasa tidak enak karena Eko menatapnya sinis. Wida yang melihatnya langsung angkat bicara.


"Prima sedang tidak ingin keluar kelas. Ada Nina yang sedang menemaninya disana. Jadi, aku tidak ingin mengganggunya," kata Wida dengan nada kesal.


"Aah..." keluh Asti, "kalian begitu lagi, bosan aku mendengarnya."


Asti merasa kesal dengan hubungan sahabatnya itu yang tidak pernah ada kemajuan. Selalu saja ada konflik di antara mereka.


Wida yang melihat Soni masih berdiri merasa tidak enak.


"Duduklah, Son," katanya sambil menggeser duduknya.


Soni tersenyum, dan langsung duduk tanpa mempedulikan tatapan Eko.


"Tapi...kenapa kalian datang bersama?" tanya Asti penasaran.


"Hanya kebetulan saja," jawab Soni mendahului Wida. "Kebetulan, aku juga ingin ke kantin."


"Baguslah kalau kebetulan!" tiba-tiba suara Prima terdengar dari belakang Soni dan Wida. Membuat mereka berdua reflek melihat kebelakang.


Tampak Prima yang berjalan mendekati tempat mereka duduk, dengan wajah kesalnya.


"Setidaknya kau tahu ia milikku!"


Dengan kasar diambilnya sebuah bangku dan diletakkannya disamping Wida.


Wida yang tidak menduga Prima menyusulnya, merasa canggung. Tanpa mempedulikan kedatangan Prima, ia malah mengambil minum Asti dan meminumnya.


Asti yang melihatnya hanya membiarkannya saja. Ia merasa iba dengan hidup sahabatnya itu yang dirasanya terlalu ruwet. Selalu ada saja masalah yang terjadi pada dirinya.


"Kau ingin aku belikan minuman?" kata Soni tiba-tiba, karena mengira Wida sedang kehausan.


Sontak Wida tersedak mendengarnya, karena terkejut Soni berani menawarkannya minuman di depan Prima. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, sambil terbatuk-batuk karena tersedaknya. Ia tidak ingin Prima salah paham karenanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Prima berdiri, sepertinya ia tidak tahan lagi dengan sikap Soni yang berlagak manis di depan Wida. Ia langsung meraih tangan Wida, menariknya agar Wida berdiri dan mengikutinya.


"Ikut aku..!" katanya sambil menarik tangan Wida yang sudah berdiri untuk mengikuti langkahnya meninggalkan kantin...


__ADS_2