Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CVIII : Ada Apa Dengan Senyum Itu...?


__ADS_3

Pagi harinya Prima sudah ada di depan rumah Wida. Rupanya ia tidak menggubris larangan Wida untuk menunggunya di tempat biasa. Wida yang takut Prima akan nekat masuk ke halaman rumahnya, buru-buru keluar mendatangi Prima.


"Kenapa tidak tunggu aku di gang?" tanyanya sedikit panik sambil mengambil helm dari tangan Prima.


"Aku tidak mau sembunyi-sembunyi lagi," jawab Prima santai, "aku ingin ibumu tahu, kalau akulah pacarmu, bukan Soni."


"Iya... tapi waktunya belum tepat"


"Lalu yang tepat itu kapan? Nanti aku diserobot orang lagi..." kata Prima sambil tersenyum menggoda Wida.


"Apa aku tidak perlu pamit pada ibumu?" tanyanya saat Wida sudah naik dibelakangnya.


"Tidak usah..."


"Baiklah," kata Prima, lalu memakai helmnya dan motor pun melaju.


Jalan masih tampak lengang. Prima membawa motornya dengan kecepatan sedang. Bibirnya tak berhenti tersenyum karena senang Wida telah kembali padanya.


Bagaimana tidak, selama beberapa hari ini ia hanya mengikuti Wida secara diam-diam setiap pagi kesekolah. Mengikuti Wida pulang walau hanya sampai terminal... dan melihatnya dari halaman sekolah saat istirahat.


Mulai hari ini semua itu akan berubah. Ia akan melakukannya terang-terangan, walau Wida melarangnya. Ia akan menggenggam erat apa yang ia miliki.


Berbeda dengan Wida, ia masih setengah hati untuk menjalani hubungannya dengan Prima. Ia ingin menjalani kehidupan sekolah yang normal tanpa ada masalah, agar ia bisa lulus dengan baik. Ingin memiliki teman tanpa ada batasan diantara mereka.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi... ia juga menyukai Prima, ia ingin punya pacar seperti yang lainnya. Tapi kalau pacarannya menyakiti banyak orang... itu yang ia tidak mau. Namun sepertinya Prima tidak peduli dengan pemikirannya. Baiklah... sepertinya ia akan mencoba mengikuti kemauan Prima, menjalaninya tanpa melihat yang lain...


Sekolah masih terlihat sepi. Prima yang belum sarapan mengajak Wida ke kantin. Setelah mendapat tempat duduk, Prima memanggil pak Somad untuk memesan makanan.


"Biasa pak, mie rebus dua, yang satu pakai telur. Sama es teh manisnya, ya, juga dua," pesannya.


Wida tersenyum kecil mendengar pesanan Prima, yang ternyata masih ingat kalau ia tidak suka telur.


"Hari ini, aku ingin mengajakmu ke rumahku. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu," kata Prima sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Wida dengan wajah serius.


"Sesuatu... nanti kamu juga tahu," jawab Prima sengaja membuat Wida penasaran.


"Pagi, Prim... Wida..." sapanya ramah dengan senyum semanis mungkin.


Wida dan Prima menoleh ke arah Nina bersamaan.


"Pagi..." jawab Prima setelah menelan makanan yang sedang di kunyahnya.


Sedangkan Wida hanya tersenyum canggung membalas salam Nina dengan hati bertanya-tanya, ada apakah di balik senyum manis Nina?


"Duduk, Nin," ajak Prima sambil mengangguk ke arah kursi kosong yang ada di sampingnya. "Sarapan..."

__ADS_1


"Tidak, terima kasih. Aku bersama Sifa disana," jawab Nina sambil menunjuk ke arah Sifa dengan kepalanya.


Prima dan Wida kembali berbarengan melihat ke arah Sifa yang tidak jauh dari tempat mereka. Tampak Sifa yang berdiri menunggu Nina sambil menenteng jajanan di tangannya dengan sikap tak acuh begitu mata mereka bertemu.


"Oke... aku duluan, ya," kata Nina kemudian dan kembali tersenyum pada Wida dan Prima sebelum balik badan meninggalkan mereka.


Wida yang melihat senyum Nina, merasa bulu kuduknya meremang. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu di balik senyum itu yang membuatnya merinding. Ah... kenapa ia tiba-tiba berpikiran negatif begini?


"Ada apa?" tanya Prima tiba-tiba saat dilihatnya Wida yang tengah tertegun.


Wida sontak terkejut mendengar teguran Prima. Ia menggeleng cepat dan kemudian kembali melanjutkan makannya.


Begitu berada dikelas, Wida langsung menceritakan kejadian di kantin pada Asti.


"Beneran As, aku merinding melihatnya," tutup cerita Wida.


Asti terdiam sejenak dengan alisnya yang bertaut, seakan sedang berpikir mencerna cerita Wida. Dan kemudian ia mengangguk-angguk pelan.


"Yah... bisa jadi," katanya kemudian. "Mungkin ia sedang mengatur strategi. Kau lihat sendiri, kan, ia pulang cepat saat minum es kelapa kemarin."


Wida ikut mengangguk. Sepertinya, mau bagaimanapun juga, Nina tidak akan melepas Prima begitu saja. Tiba-tiba Wida menegakkan badannya. Asti yang melihatnya sedikit terkejut.


"Baiklah, kalau begitu," katanya dengan suara tegas. "Aku tidak akan mengalah kali ini!"

__ADS_1


#maaf ya... lagi kurang sehat..jadi mandeg deh.. tolong dukungannya ya...🙏


__ADS_2