Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XXXV : Aku Sayang Kamu..


__ADS_3

Asti menepis tangan Eko yang menggandengnya, setelah berada di luar kamar.


"Apa-apaan sih.." katanya dengan nada kesal, "pake gandeng segala... emangnya kereta."


Eko tersenyum.


"Sori.. " katanya menggoda, "terbawa suasana.."


Mereka akhirnya menunggu di ruang santai sambil main game. Mbok Uti membawakan mereka minum dan meletakkannya di meja. Masih tersisa satu gelas, mungkin untuk Wida. Eko yang melihatnya memanggil mbok Uti.


"Mbok.." kata Eko, "itu.. biar taruh disini ajah.. mereka lagi diskusi.. jangan di ganggu."


Mbok Uti menurut, ia pun meletakkan minum untuk Wida di meja, kemudian pamit untuk kembali kebelakang. Asti tersenyum. "Diskusi?" katanya, "diskusi apa?"


Eko hanya nyengir dan mengangkat bahu menanggapi perkataan Asti.


Wida terkejut dengan pertanyaan Prima. Ditatapnya Prima dengan kesal.

__ADS_1


"Kenapa ia harus menciumku?" katanya, "memangnya ia apanya aku?"


"Yah... kali aja.." Prima agak menyesal menanyakan pertanyaan seperti itu pada Wida.


"Dia kan bocah nekat.. buktinya ia berani memaksamu untuk naik taksi bersamanya.." Prima tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Sebenarnya kalian kemana sih..?" tanya Prima masih penasaran.


Wida tidak langsung menjawab. Ia bingung.. haruskah ia jawab dengan jujur? Apakah Prima bisa menerimanya bila ia jujur?


"Katakan saja.. aku tidak akan marah," kata Prima hati-hati.. karena ia tahu Wida takut mengatakannya.


Prima mendengus kesal mendengarnya. Pandangan matanya membuat Wida tak berani menatapnya.


"Itulah mengapa aku menyuruhmu untuk menungguku.." katanya sambil mendekatkan wajah ke wajah Wida.


"Katakan kepadanya kalau kau pacarku.. ia takkan berani berbuat macam-macam padamu," katanya pelan.

__ADS_1


Tangan Prima menyentuh pipi Wida lembut. Wida menahan napasnya.. terbayang kejadian saat di toilet sekolah, saat Prima menyentuh bibirnya dengan jarinya.


"Aku sungguh-sungguh sayang padamu.." kata Prima mengungkapkan perasaannya. "Dan aku yakin kamu tahu itu. Aku selalu menjaga dan mengawasi kamu dari kita kelas satu. Aku tak ingin ada anak laki-laki lain mendekatimu.."


Wida menatap Prima, ada kesungguhan disana.. ada pandangan sayang yang membuat Wida merasa hangat.


"Sudah lama aku ingin mengatakannya padamu.. " Prima meyakinkan Wida, "tapi aku tidak ingin mengikat kebebasanmu. Selama kamu ada dalam pandanganku.. aku tidak khawatir. Tapi sekarang sepertinya aku harus mengikatmu.. kau.. kau makin mempesona. Akan ada banyak cinta disekelilingmu. Tapi ingat, hanya satu cinta yang harus kau miliki.. yaitu aku.."


Prima meraih wajah Wida dengan dua tangannya. Dipandanginya wajah Wida yang begitu dekat dengan sayang. Dan pandangannya terhenti pada bibir Wida yang tampak menggodanya. Perlahan di dekatkan wajahnya ke wajah Wida seakan ingin mengecup bibir Wida.


Wida yang sedari tadi diam merasa tubuhnya semakin tegang. Pandangan lembut Prima membuatnya tak bisa bergerak. Dilihatnya wajah Prima yang semakin dekat dengan wajahnya. Dan bibir Prima semakin dekat dengan bibirnya..


Klik! Terdengar suara pintu terbuka. Wida terkejut! Reflek tangannya mendorong Prima yang hampir saja mengecupnya. Prima yang juga terkejut karena di dorong Wida melihat kearah pintu. Dilihatnya Eko yang nongol dari balik pintu.


Eko yang menyadari telah mengganggu mereka tersenyum kecut.


"Maaf.." katanya, begitu dilihatnya mata Prima yang melotot kesal karena terganggu olehnya.

__ADS_1


"Aku dan Asti mau pulang," katanya, "aku disuruh menanyakan apakah Wida ingin pulang bareng.."


"Duluan saja.." Prima memotong perkataan Eko, "aku akan mengantarnya."


__ADS_2