Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXX : Terima Kasih...


__ADS_3

Berkali-kali Prima menghubungi Wida. Namun Ponsel Wida selalu sibuk. Sampai akhirnya Prima menduga-duga ada apa dengan Wida.


Apa ia sedang berbicara dengan seseorang? Pikirnya. Siapa? Ah... mungkin Asti. Yah, bisa jadi ia sedang curhat dengan Asti mengenai masalah yang ia alami tadi pagi. Hhhah.. desah Prima. Biarlah.. kali saja bebannya bisa berkurang jika berbagi dengan Asti.


Prima pun melempar ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya. Ditutupnya matanya rapat-rapat, dengan berharap ia bisa menghapus masalah yang terjadi hari ini...


Seperti biasa Prima datang menjemput Wida, yang tanpa berkata apa-apa langsung memakai helm yang diberikan Prima dan naik di belakangnya.


Sepanjang perjalanan, Wida hanya terdiam. Iya hanya menjawab 'iya' atau 'tidak' pada Prima. Prima mengira Wida masih terbawa suasana kejadian kemarin, yang membuatnya menjadi canggung.


"Kau... tidak apa-apa, kan?" tanya Prima menghawatirkan sikap Wida.


"Iya," jawab Wida singkat.


"Kau tidak marah, karena peristiwa kemarin?" tanya Prima lagi.


"Tidak," jawab Wida dengan singkat lagi.


Akhirnya Prima mengalah. sepertinya Wida memang sedang tidak ingin diajak bicara. Dan dengan sekali tarikan, Prima menambah kecepatan vespanya agar cepat sampai ke sekolah.


Sesampainya disekolah Wida meninggalkan Prima di parkiran, dengan alasan ingin ke toilet karena sudah kebelet. Prima yang menduga Wida masih canggung karena kemarin, mengiyakannya dan membiarkan Wida pergi.

__ADS_1


Saat lewat di depan kelas Wida, Prima melihat Wida yang sudah ada di bangkunya dan sedang bicara dengan Asti. Setelah merasa Wida baik-baik saja, Prima kembali meneruskan langkahnya menuju kelasnya.


Saat masuk kekelasnya, Prima berpapasan dengan Nina. Nina tampak terkejut. Bibirnya berusaha tersenyum untuk menyapa Prima. Prima membalasnya dengan senyum datar.


"Terima kasih, ya, atas segala laporanmu pada mamihku," kata Prima dingin sambil melewati Nina.


Nina terpaku saat mendengarnya. Ada rasa nyeri yang seakan menusuk hatinya, yang membuatnya tak berani membalikkan badannya kearah Prima. Saat didengarnya langkah Prima yang menjauh, Nina segera berlari ke arah kantin.


Sifa yang menyaksikannya segera bangun dari duduknya dan berlari mengejar Nina. Ternyata Nina masuk ke dalam toilet. Sifa pun ikut menyusul masuk, dan mendapati Nina yang sedang bersandar ditembok dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis.


Sifa menghampirinya.


"Ada apa?" tanyanya pelan sambil memegang bahu Nina.


Dan tak lama tangis Nina pun perlahan berhenti. Disekanya air matanya dengan punggung tangannya. Sifa pun membatu Nina menyeka air matanya dengan tisu yang ada di tangannya.


"Ada apa?" Sifa mengulangi pertanyaannya.


Mata Nina yang merah menyipit sedih.


"Prima... sepertinya ia marah padaku?" Nina kembali menangis. "Ia tidak pernah berkata sedingin itu padaku." katanya dengan suara terisak.

__ADS_1


"Memangnya apa yang membuatnya marah?" tanya Sifa tidak mengerti.


"Aku... aku... " Wida tergagap seakan tidak sanggup untuk menjelaskannya.


Tiba-tiba Anin menyeruak masuk. Napasnya terengah-engah, wajahnya yang putih makin memutih karena pucat akibat kelelahan. Nina dan Sifa spontan menoleh ke arahnya.


"Kenapa tidak bilang-bilang sih," katanya disela napasnya yang terengah, "kalau kalian ada disini. Aku mencari kalian kemana-mana tadi."


Nina menatap Sifa seakan memberi isyarat agar tidak mengatakan apa-apa pada Anin. Sifa mengerti maksud Nina. Karena ia juga tahu kalau Anin terkadang suka ceplas ceplos.


"Ada apa sih?" tanya Anin polos.


"Kau menangis, ya?" tanyanya lagi ketika dilihatnya mata Nina yang merah.


Nina terdiam.


"Sudahlah," kata Sifa menyudahi.


"Kita kembali ke kelas. Dikit lagi bel akan berbunyi."


Sifa menuntun Nina melewati Anin yang menggaruk kepalanya bingung. Dan dengan wajah yang tidak mengerti di ikutinya kedua temannya itu menuju ke kelas.

__ADS_1


Saat masuk ke kelas, Nina berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin bertatapan dengan Prima. Tapi sepertinya Prima tidak peduli. Ia tampak asik berbicara dengan Eko...


__ADS_2