Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXLVII : Pengakuan...


__ADS_3

"Duduklah," kata pak Anton menyuruh Prima, setelah ia duduk di balik mejanya. Kedua tangannya bertumpu pada meja dengan tubuh condong kedepan, seakan ingin berbicara dengan serius. Diperhatikannya Prima yang sedang mengatur posisi duduknya.


"Sepertinya kau sudah tahu kenapa Bapak panggil," kata pak Anton memulai percakapan begitu Prima telah duduk.


Prima yang tadinya menunduk terdiam, kini mengangkat wajahnya dan menatap pak Anton dengan canggung.


"Iya, Pak.." jawabnya pelan.


Pak Anton tersenyum.


"Menurutmu, memangnya ini masalah apa?" tanya pak Anton, seakan sedang menguji apa yang di ketahui Prima.


Prima terlihat bingung dengan pertanyaan pak Anton.


"Bukankah... ini karena masalah foto itu?"


"Rupanya kau benar-benar tahu.." kata pak Anton sambil manggut-manggut. "Memangnya.. kau sudah lihat foto itu?"


"Sudah, Pak.." jawab Prima ragu.


"Dari mana kau tahu foto itu?" tanya pak Anton lagi.

__ADS_1


"Kemarin.. foto itu ada di mading sekolah, Pak," Prima menjelaskan, "Tapi, sebelum banyak yang lihat, Eko telah melepas foto itu. Dan ia menyimpannya. Tapi... mengapa foto itu ada lagi?"


Pak Anton menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku. Dilihatnya Prima yang gelisah dalam duduknya.


"Kenapa kau gelisah? Bukankah kau tidak ada dalam foto itu?" pancing pak Anton.


Sebenarnya ia telah tahu, kalau foto yang diburamkan adalah foto Prima. Begitu juga dengan bu Shinta saat mereka membahasnya tadi di kelas Prima.


"Bagaimana? Apa menurut Ibu ini Prima?" tanya pak Anton saat membahasnya.


"Memangnya dengan siapa lagi Wida berkencan? Kan Bapak tahu sendiri kalau mereka sedang kasmaran," jawab bu Shinta sambil menatap Prima yang juga sedang melihat kearah mereka.


Dan bu Shinta pun melambaikan tangannya memanggil Prima untuk maju ke depan kelas.


"Itu... yang bersama Wida, adalah saya pak," jawab Prima mengakui sambil menundukkan kepalanya.


"Kau yakin itu fotomu yang bersama Wida? Karena yang Bapak lihat, foto itu di buramkan. Itu bisa siapa saja," uji pak Anton lagi, untuk memastikan pengakuan Prima.


Prima mendongak. Ditatapnya pak Anton dengan penuh keyakinan.


"Benar, Pak! Itu saya!" katanya serius, "Wida hari itu sedang bersama saya. Dia habis dari rumah saya. Dan saya berencana mengantarnya pulang waktu itu," Prima menjelaskan kejadian hari itu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kau dan Wida bisa ketempat seperti itu? Bukankah itu penginapan? Apa kalian..." pak Anton memicingkan matanya, "kencan di tempat seperti itu?"


Prima terkejut dengan pertanyaan pak Anton. Dari ekspresi wajahnya ia terlihat malu dan gugup.


"Tidak Pak!" katanya setengah memekik, bukan seperti itu kejadiannya.."


Pak Anton kembali menyorongkan tubuhnya kedepan. Wajahnya yang wibawa tampak tenang menghadapi Prima yang sudah terlihat tegang.


"Lalu.. mau apa kalian kesana?" tanyanya tenang.


Prima menarik napas. Sepertinya ia ragu apakah pak Anton nantinya akan percaya dengan apa yang ia katakan.


"Kami... kami hanya menumpang untuk ke toilet," katanya pelan, "waktu itu, Wida sakit perut. Kami mencari toilet terdekat. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa tanyakan pada resepsionis yang ada di sana."


Pak Anton kembali manggut-manggut mendengar cerita Prima.


"Bukannya Bapak tidak percaya.. tapi, memangnya tidak ada tempat lain selain disana? Tidak semua orang berpikiran positif, bila melihat sepasang anak remaja masuk ke penginapan. Apalagi kau bilang foto itu telah terpampang di mading sekolah. Coba kau pikir, apakah teman-temanmu akan berpikiran seperti Bapak?" kata pak Anton bijak.


Prima terdiam, jari jemarinya bergerak-gerak menandakan kegelisahan hatinya.


"Bapak hanya takut, kalau berita foto ini akan sampai ke kepala sekolah...."

__ADS_1


__ADS_2