
Prima menatap dalam Wida. Ada perasaan kesal dan juga senang karena telah bertemu dengannya. Ia hanya menghela napas karena menahan emosinya saat melihat Wida bersama Ryan.
"Kau tahu aku tak suka bila melihatmu bersamanya," akhirnya keluar juga apa yang ingin ia katakan pada Wida.
"Tapi selalu saja aku mendapatimu bersamanya. Apa kau tak bisa menjaga perasaanku?"
Wida terdiam. Dipalingkannya wajahnya kejalan, menghindari tatapan Prima.
"Ini bukan yang pertama kau bersamanya. Yang lalu pun kau juga dengannya saat menghindariku. Padahal aku berharap tidak melihatmu lagi dengan dirinya," kata Prima dengan nada kecewa.
Wida menoleh ke arah Prima. Ditatapnya mata Prima dalam.
"Bukannya aku sengaja... tapi memang aku bertemu dengannya di jalan. Dan aku tidak mengikutinya, ia yang memaksaku untuk mengikutinya," kata Wida meyakinkan Prima.
"Dan kau selalu tak bisa untuk menolaknya..." kata Prima sambil menarik napas kesal, dan membuat Wida kembali terdiam.
Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka. Prima yang sedang menyesali dirinya sendiri, karena merasa tidak menjaga Wida dengan baik, sehingga ia harus melihatnya bersama Ryan. Entah mengapa ia begitu marah bila melihat Ryan bersama Wida. Mungkinkah Ia takut Wida akan goyah bila saat bersama Ryan?
Wida juga tenggelam dalam pikirannya yang kalut, masalah sepertinya tidak mau melepaskan dirinya dan Prima. Selalu saja ada aral yang menghalanginya. Hhh... desah Wida, ia merasa hari ini berat sekali.
"Prima... sebaiknya kau juga pulang saja," kata Wida yang kembali menatap Prima. "Aku sudah baik-baik saja."
Prima menatap balik Wida.
"Aku yang tidak baik-baik. Kenapa kau tidak mendengar perkataanku tadi. Aku bilang jangan pulang, tapi kau malah pulang tanpa sepengetahuanku. Apa kau pikir aku baik-baik saja tadi?" Prima mengubah topik pembicaraan, secara ia baru ingat maksudnya mencari Wida kerumahnya.
Wida pun sepertinya juga baru ingat alasan ia terburu-buru ingin pulang tadi.
__ADS_1
"Iya... aku pulang saat jam istirahat tadi, setelah kau keluar dari kelas. Aku terlalu malu untuk bertahan disana. Aku merasa semua orang membicarakan aku. Apa sebaiknya aku tidak usah masuk dulu besok? Sampai semuanya mereda?"
Prima mulai melunak, bibirnya tersenyum menenangkan Wida. Ia sadar kalau semua ini adalah kesalahannya. Diusapnya rambut Wida dengan sayang.
"Masuk saja. Aku akan menjemputmu besok. Kau tidak usah khawatir, semua akan reda dengan sendirinya."
Wida masuk ke rumah setelah melepas Prima pulang. Walau Prima mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja besok, ia tetap saja takut menghadapi hari esok di sekolah.
Ibu yang menyambutnya di ruang tamu tampak heran, ketika melihat raut muka anaknya yang terlihat murung.
"Ada apa dengan wajahmu? Seperti habis kalah perang saja," kata ibu menggoda, "tadi Asti mencarimu, katanya ada bukumu yang tertinggal."
Wida yang memang lagi galau hanya menanggapi perkataan ibunya dengan anggukan kepala, lalu berjalan melewati ibunya yang bingung menuju kamarnya.
Ryan terlambat datang ke sekolah karena mengantar Wida pulang tadi. Ia harus kembali ke rumah lagi untuk mengganti seragamnya dan mengambil peralatan sekolah.
Dengan mengacuhkan guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, ia langsung mengintrogasi Alex, teman sebangkunya, yang tadi pagi menceritakan kasus Wida dan Prima padanya.
Alex melirik Ryan sekilas.
"Jujur saja, aku tidak melihat sendiri foto itu, karena saat aku datang foto itu sudah dilepas dari mading," kata Alex sambil menulis.
"Tapi anak-anak yang melihatnya bilang, itu foto kakak kelas kita yang sedang masuk ke penginapan."
Ryan terdiam mendengarnya. Ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini yang menimpa Wida, kakak kelasnya yang begitu ia sukai. Hatinya bertanya-tanya siapa yang telah menempel foto itu dan ada motif apa di balik ini semua.
"Kira-kira... siapa ya, yang menempel foto itu?" gumamnya pelan.
__ADS_1
Alex yang mendengarnya menoleh.
"Kau tahu... katanya ada yang aneh pada foto itu," katanya membuat Ryan menoleh cepat.
"Aneh bagaimana?"
"Di foto itu, wajah kak Wida terlihat jelas, tapi wajah laki-lakinya di buramkan."
Alis Prima berkerut.
"Kok bisa begitu?"
Alex hanya mengangkat bahunya dan kembali menulis. Ryan yang kembali terdiam, sepertinya mulai mengetahui motif di balik foto itu..
Di kantor, bu Rum yang menemukan foto di bawah buku piketnya, menyerahkan foto itu ke pak Anton, wali kelas Wida. Mata pak Anton menyipit saat melihat gambar yang ada di foto itu. Ia menghela napas, saat mengetahui bahwa yang ada di foto itu adalah Wida, yang merupakan salah satu murid di kelasnya.
"Ibu dapat dari mana foto ini?" tanyanya dengan suara beratnya.
"Dibawah buku piket. Sepertinya ada seseorang yang sengaja menaruhnya disana," kata bu Rum menjelaskan.
"Apa kepala sekolah sudah mengetahuinya?"
Bu Rum menggeleng.
Pak Anton mengubah posisi duduknya, ditatapnya mata bu Rum dengan serius.
"Saya minta tolong, Bu... masalah ini jangan sampai ke kepala sekolah dulu. Saya akan mengonfirmasikan kebenaran foto ini dulu dengan anak didik saya. Ibu tahukan bagaimana kepala sekolah kita?"
__ADS_1
Bu Rum tersenyum.
"Bapak tenang saja. Saya tidak akan bilang siapa-siapa," kata bu Rum menenangkan rekan sejawatnya..