
Wida yang sedang rebahan diatas tempat tidurnya terlihat gelisah. Ia sebenarnya merasa tidak enak hati dengan Prima, setelah percakapan mereka di telepon tadi. Entah mengapa ia merasa ada nada cemburu dari suara Prima.
Padahal seharusnya Prima bisa mengerti, kalau ia tidak pernah ada maksud lain terhadap Ryan. Baginya Ryan itu seperti adiknya, tidak lebih. Apalagi sekarang ia sedang menawarkan bantuan yang bisa menyelesaikan masalahnya. Hhh..
Sekarang hatinya sedang harap-harap cemas menunggu telepon dari Ryan, karena ia berjanji akan segera meneleponnya bila sudah menyelesaikan masalahnya. Lama juga Wida menunggu dalam gelisah, bahkan ponselnya pun tidak ia lepas sama sekali. Dan saat ponselnya berdering, ia terkejut sendiri sampai ponselnya terlepas dari genggamannya.
Wida langsung terduduk dan mengambil ponselnya yang terjatuh. Dilihatnya layar ponsel, namun bukan nama Ryan yang tertera disana melainkan Pak Anton! Deg! Jantung Wida langsung berdetak cepat. Ada apa ini? Batinnya. Kenapa Pak Anton yang menghubunginya? Apakah...
"Halo, Pak. Selamat siang, iya ini saya Wida, Pak," kata Wida dengan suara sedikit bergetar.
Wida terdiam mendengar apa yang sedang dikatakan oleh Pak Anton dengan wajah tegang. Namun perlahan ketegangan di wajahnya pun menghilang. Kedua ujung bibirnya tertarik kesamping hingga membentuk senyuman. Dan hanya satu kata yang terucap dari bibirnya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih," katanya dengan penuh rasa haru.
Setelah pembicaraan selesai, reflek Wida memekik keras karena senangnya. Ia langsung menyambar guling yang ada disampingnya, lalu memeluknya dengan gemas melampiaskan rasa senang yang tengah memenuhi hatinya.
Diraihnya kembali ponselnya yang tadi terlempar olehnya, karena semangatnya, setelah mendapat kabar gembira dari Pak Anton. Di carinya sebuah nomor, dan langsung menghubunginya. Ryan. Ia ingin mengucapkan terima kasih, karena dirinyalah ia dibebaskan dari hukuman.
Namun sepertinya ponsel Ryan sedang tidak aktif. Alis Wida berkerut, ia merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati mengapa ponsel Ryan tidak aktif. Di cobanya sekali lagi menghubunginya. Lagi dan lagi. Hasilnya tetap sama, hanya nada tidak aktif yang terdengar disana..
Prima yang merasa kesal, berusaha memejamkan matanya. Hatinya yang sedikit terluka setelah berbicara dengan Wida di ponsel tadi, membuat dirinya tak tenang. Rasa cemburu, marah dan sakit hati bercampur jadi satu menyesakkan dadanya.
Bagaimana tidak, mungkin saat ini yang ada di mata dan hati Wida adalah Ryan. Orang yang diharapkannya dapat menyelesaikan masalahnya. Sedangkan dia..tak sedikit pun dipercayainya bahwa ia bisa menyelesaikan masalah mereka. Hhhh...desahnya. Bagaimana ia akan menghadapi Wida besok..?
Tiba-tiba ponselnya berdering, membuyarkan lamunannya tentang Wida. Dilihatnya dengan enggan siapa peneleponnya, dan ternyata yang meneleponnya adalah orang yang ada dalam lamunannya tadi...
__ADS_1
"Ya Wida, ada apa?" tanyanya tanpa semangat.
"Prima...apakah kau tahu..?" kata Wida terdengar bersemangat, "Ternyata Ryan berhasil menggagalkan hukumanku! Hukumanku di batalkan! Aku bisa kesekolah besok, seperti biasa! Pak Anton yang memberitahuku tadi.."
Prima hanya mendesah mendengarnya.
"Syukurlah.." katanya, mengomentari perkataan Wida.
"Hei.. Kau marah padaku? Kok hanya itu saja komentarmu... Apa kau tak senang mendengarnya?" Wida merasa kecewa karena sepertinya Prima masih kesal padanya.
"Tidak. Untuk apa aku marah padamu?" kata Prima mengelak. "Aku senang kau bisa kesekolah besok. Bagaimana hukumanmu bisa dibatalkan? Apa Pak Anton mengatakan sesuatu?"
"Tidak," jawab Wida singkat.
Wida tampak terdiam sejenak.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Tentu saja kau harus jemput aku. Tapi kalau kau keberatan, aku bisa kok, naik angkot.." terdengar nada kesal dari suara Wida.
Prima yang sepertinya masih kesal karena Wida selalu menyebut nama Ryan, mulai tersulut emosinya.
"Ya sudah.. Kau naik angkot saja. Atau kau suruh Ryan menjemputmu..!" Dan Prima pun memutuskan teleponnya..
Wida terperangah, saat mendengar Prima memutuskan panggilannya. Ia benar-benar tak menyangka Prima akan semarah itu padanya...
Pagi itu, Prima benar-benar tidak menjemput Wida. Ia sengaja telat bangun dan langsung menuju kesekolah dengan vespa kesayangannya. Hatinya benar-benar di kuasai rasa cemburu pada Ryan, karena belum pernah ia sekesal ini pada Wida dan mengabaikannya..
__ADS_1
Wida ternyata bangun pagi sekali hari itu, walau Prima telah mengatakan tidak akan menjemputnya. Ia tetap menunggu Prima ditempat biasa Prima menjemputnya. Namun sampai matahari semakin terang, Prima tak juga kunjung datang. Akhirnya dengan perasaan kecewa Wida menyetop sebuah angkot yang yang melintas di depannya..
Prima tampak duduk diatas mejanya, dengan pandangan mata tertuju ke pintu kelas Wida, melalui jendela kelasnya. Ada sedikit rasa sesal karena ia tidak menjemput kekasihnya itu. Matanya hampir tak berkedip mengawasi satu persatu murid-murid yang masuk ke kelas Wida. Hatinya mulai merasa cemas, karena ia tidak melihat Wida diantara mereka, padahal bell tanda masuk sebentar lagi akan berbunyi.
Nina memperhatikan sikap Prima dari bangkunya. Ia merasa pasti telah terjadi sesuatu antara Wida dan Prima. Tadi ia mencoba menyapa Prima, namun Prima hanya menoleh saja tanpa menjawab sapaannya dengan wajah dinginnya..
Tidak hanya Nina yang di abaikan. Eko yang merupakan sohib kentalnya sendiri pun juga di acuhkannya. Eko tahu kalau Prima tidak menjemput Wida pagi itu, karena ia melihat Prima masuk ke gedung sekolah seorang diri.
"Kalau kau merasa cemas, datangi saja kelasnya dan pastikan ia sudah datang atau belum. Jangan melotot seperti itu melihat kelasnya dari jauh, bisa jereng matamu nanti," ujarnya menggoda Prima.
Prima hanya mendengus kesal mendengar candaan Eko. Dan tak lama bell pun berbunyi. Dengan tubuh lunglai Prima turun dari meja dan duduk di kursinya.
"Sepertinya ia tidak masuk.." katanya pelan.
Dengan berlari Wida memasuki pelataran sekolahnya. Hampir saja pintu gerbang tertutup, jika ia tidak segera menahannya. Dan dengan wajah memohon ia minta maaf karena telat kepada penjaga sekolahnya itu.
Untung saja guru yang akan mengajar belum datang. Dengan nafas tersengal ia duduk di bangkunya. Asti yang ada disampingnya, menatapnya dengan heran.
"Kenapa kau telat?"
"Macet..!" jawab Wida singkat.
"Prima tidak menjemputmu?" tanya Asti lagi.
Wida menggeleng. Matanya menerawang sedih. Suara Asti yang berkicau pun tak didengarnya. Ia merasa sedih, karena Prima benar-benar marah padanya...
__ADS_1