
"Woy!" teriakan Eko cukup keras terdengar di ponsel Prima. Dan itu cukup untuk menyadarkan Prima yang terdiam sesaat karena terkejut bahwa Eko tahu kalau ia membolos.
"Darimana kamu tahu aku membolos?" Prima menyelidik.
"Bukan aku saja yang tahu.. Asti juga. Dan yang lain. Kenapa sih pake bolos segala. Kaya tidak ada hari lain saja." Eko mengomel panjang lebar. Prima hanya diam saja mendengarnya. Namun dimatanya tersirat kemarahan. Ia masih menduga bahwa Sonilah dibalik semua ini.
__ADS_1
"Besok kau harus masuk. Jangan sampai kau kena teguran dari bu Shinta." Eko mengingatkan. "Iya", jawab Prima singkat, dan mengakhiri teleponya.
Setelah meletakkan ponselnya, matanya kembali menerawang. Sepertinya ia akan menghadapi banyak masalah besok. Dengan Soni dan juga wali kelasnya, bu Shinta. Ia pasti akan menerima akibat dari perbuatannya hari ini. Tiba-tiba terbesit wajah Wida yang lugu dipikirannya.. apakah ia akan kena imbasnya juga? Hhhaah.. Prima mendesah, sepertinya ia baru menyesali perbuatannya hari ini. Dipejamkannya matanya kuat-kuat, seakan tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi besok.. terutama pada Wida..
Sambil rebahan di tempat tidurnya, Wida melakukan panggilan ke nomor Asti. Dengan tersenyum ia membayangkan Asti yang bingung, karena ada nomor asing yang menghubunginya. Nada tunggu terdengar, agak lama juga Wida menunggu Asti untuk menjawab panggilannya. Dan akhirnya Asti pun menjawab. "Ya.. hallo.." katanya, "ini siapa, ya?" Wida tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan Asti, "Ini aku As.. Wida!" katanya tertahan, takut terdengar oleh ibunya. "Wah..!" suara Asti tampak terkejut, "baru beli hape ya?" "Iya.." jawab Wida senang, "Prima yang belikan kemarin.." "Prima?" nada Asti setengah tak percaya. "Berarti benar ya kau bolos sama Prima kemarin."
__ADS_1
Wida terdiam. "As.. kok pada tahu kalau aku dan Prima bolos bareng?"tanyanya tak lama kemudian, "siapa yang laporin?" Wida penasaran. "Aku tidak tahu.." jawab Asti, " tiba-tiba saja pak Anton datang ke kelas, memastikan kamu datang kesekolah atau tidak, " jelas Asti. Wida kembali terdiam. Sepertinya ia akan mendapat masalah besok disekolah. "Udah dulu ya, As.. jangan lupa simpen nomorku.." Wida mengakhiri telponnya. Hhah.. sepertinya aku akan melalui hari yang berat besok, batinnya.
Pagi hari Prima sudah mengirim pesan ke Wida, bahwa ia akan menjemputnya. Namun Wida menolak dengan alasan takut merepotkan Prima. Padahal ia takut bila ibunya melihat Prima, maka akan meledak lagi amarahnya. Tapi Prima tetap ingin menjemputnya, dan akhirnya Wida setuju asal Prima menunggunya di depan gang saja. Wida yang sudah rapi, hanya meminum susunya saja sebagai sarapannya. Lalu bergegas pamit pada ibunya yang mengingatkan agar Wida tidak bolos lagi. Dan Wida hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda mengerti, dan kemudian melesat keluar rumah dengan cepat.
Saat sampai di depan gang rumahnya, ia melihat Prima yang telah menunggunya dengan vesva merahnya. Senyum Prima merekah menyambut Wida yang datang mendekat. "Pagi.. " sapanya setelah Wida berada di hadapannya. Wida tersenyum, "Pagi juga.. " jawabnya. Tanpa bicara, Prima memakaikan helm ke kepala Wida. "Makasih.." kata Wida setelah Prima selesai memakaikannya. Prima yang juga sudah memakai helmnya dan siap untuk mengemudi, menyuruh Wida untuk naik. Dan mereka pun berlalu menuju sekolah dengan rasa was-was di hati masing masing, karena mereka tahu ada akibat dari apa yang mereka lakukan kemarin..
__ADS_1