
Wida terpaku dengan perkataan Prima.
"Bagaimana bisa bebanmu itu bukan bebanku?" tanya Wida yang tidak setuju dengan perkataan Prima. "Kalau kau anggap aku pacarmu, setidaknya aku bisa meringankan bebanmu..."
Prima meraih tangan Wida dan menggenggamnya lembut.
"Aku bilang.. kau cukup disisiku..."
Dalam perjalanan pulang, Wida hanya diam. Pikirannya berkecamuk dengan sikap Prima. Apa serumit ini orang berpacaran? Atau ia yang bodoh, yang terlalu mudah di pengaruhi oleh hal-hal yang mengganggu hubungannya dengan Prima?
Padahal Prima hanya ingin ia ada disisinya apapun yang terjadi. Entah mengapa, Wida merasa terharu dengan keinginan Prima itu. Perlahan tangannya melingkar di pinggang Prima. Lalu disandarkannya tubuhnya di punggung Prima yang kokoh... dan ia merasakan kenyamanan disana...
Prima yang suntuknya belum hilang, juga tak ingin berbicara. Ia bingung harus bagaimana lagi meyakinkan hati Wida, bahwa ia baik-baik saja dengan hubungan mereka. Ia tidak ingin Wida merasa terbebani dengan masalah yang datang silih berganti.
Tiba-tiba ia merasakan tangan hangat Wida melingkar dipinggangnya. Dan tak lama ia juga merasakan tubuh Wida yang hangat di punggungnya. Perlahan bibirnya tersenyum. Hatinya mendesah lega. Ya... kau hanya cukup seperti ini, batinnya. Cukup bersandar saja padanya...
Selesai mandi dan berpakaian, Wida lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa segar menyelimuti tubuh juga hatinya. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur sejenak walau hari masih sore.
Namun belum lama ia memejamkan matanya, terdengar nada pesan masuk dari ponselnya. Tanpa mengubah posisinya, tangannya meraba-raba mencari ponselnya yang ia lempar ke atas tempat tidur tadi.
__ADS_1
Setelah ditemukannya, dengan segan di bukanya matanya. Dan dengan sekali sentuhan ia membuka ponselnya. Seketika matanya langsung melebar saat membaca pesan di ponselnya itu. Wajahnya yang tadi santai kini menegang.
'Kau ini! Benar-benar tidak tahu malu! Masih saja berani jalan dengan orang yang bukan milikmu! Jauhi Prima! Atau Kau akan menyesal nanti!'
Penelpon gelap itu! Batin Wida. Dengan reflek tangannya langsung melempar ponselnya dengan sembarang. Pandangannya yang cemas menatap langit-langit kamarnya yang putih.
Ini sepertinya bukan main-main lagi, batin Wida. Bukan sekedar penelpon iseng yang ingin mengganggu hubungannya dengan Prima, seperti yang dikatakan Prima saat mereka membahasnya tadi di kantin.
"Kau tidak usah terlalu memikirkannya, mungkin saja itu telepon iseng yang tidak ingin melihat kita bersama..."
Itu yang di ucapkan Prima tadi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, membuat Wida terkejut dan langsung terduduk. Ibu yang langsung masuk begitu pintu terbuka, merasa heran melihat paras wajah Wida yang tampak panik.
"Kenapa kamu?" tanya ibu, "kok kaget? Apa ada yang kau sembunyikan dari ibu?"
Wida menghembuskan napasnya membuang rasa terkejutnya. Ia menggeleng cepat.
"Tidak... aku tidak apa-apa. Memangnya apa yang aku sembunyikan? Aku hanya terkejut ibu masuk tanpa mengetuk pintu." Wida mencoba tersenyum agar tidak terlihat gugup.
__ADS_1
"Ooh.. kirain ada apa," kata ibu percaya. "Ibu mau pergi sebentar ke tempat bu Surti," lanjut ibu, " mau antar pesanan. Mungkin malam baru pulang, karena mau sekalian belanja. Kau jangan kemana-mana. Jaga rumah."
Setelah menyampaikan pesannya ibu pun keluar kamar meninggalkan Wida yang kembali galau.
Wida menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ponselnya yang ia lempar tadi. Setelah menemukannya ia memandangi ponselnya, berpikir siapa kira-kira yang akan ia hubungi untuk berbagi pikiran mengenai pesan yang ia terima tadi.
Asti! Pikirannya langsung memilih sahabatnya itu. Dicarinya nomor Asti dan langsung di hubunginya. Berdering. Lalu tersambung.
"Ya Wid, ada apa?" tanya Asti langsung saat tersambung.
"Kau sibuk sore ini?" tanya Wida juga tanpa basa-basi.
"Aku sedang diluar bersama ibuku, biasa, nemenin belanja. Ada apa memangnya?" jawab Asti yang memang terdengar seperti sedang di luar, karena terdengar suara ramai di sana.
"Tidak," kata Wida tanpa memberitahu apa yang terjadi. "Ya sudah lanjutkan belanjamu, nanti malam aku telepon lagi."
"Oke..!" dan pembicaraan pun terputus.
Wida menerawang. Lalu siapa lagi yang harus ia hubungi? Ia tidak mau memendam masalah ini sendiri. Setidaknya ada seseorang yang diajaknya berbicara untuk dimintai pendapatnya, agar ia bisa tenang.
__ADS_1
Prima! Yah... mau tidak mau ia harus menghubungi pacarnya itu. Tapi, jika diingat peristiwa di bioskop tadi, apa ia tega harus menambah masalah lagi padanya?