Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCIX : Kau Ingin Aku Mencari Tahu...?


__ADS_3

Prima tampak uring-uringan di kamarnya. Sepulangnya dari kampus, ia langsung ke kamarnya, tanpa peduli sapaan Nina yang sedang duduk di ruang tamu. Tubuhnya tampak terkulai lemas di atas tempat tidur dengan wajah yang kusut. Saat di kampus, ia berkali-kali melakukan panggilan ke nomer Eko, namun sahabatnya itu tidak menjawab satu pun panggilannya.


Hhhft... ada apa lagi ini... batinnya. Bahkan sekarang Eko ikut-ikutan tidak menjawab panggilannya. Apa benar terjadi sesuatu? Apa ia harus pulang ke Jakarta lagi?


"Aaagh..!" teriak Prima sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Diraihnya ponselnya yang tadi ia lempar ke atas tempat tidurnya. Sambil rebahan ia memandangi ponselnya. Nama Wida tertera di layar ponsel, sepertinya ia akan menghubungi Wida. Namun keraguan terlihat diwajahnya. Lama ia terpaku, dan akhirnya di urungkannya niatnya untuk menghubungi kekasihnya itu.


Kini tangan kirinya terentang sambil memegang ponselnya, sementara tangan kanannya menutupi kedua matanya yang terpejam. Prima merasa sakit di hatinya, pikirannya penuh dengan wajah Wida. Berbagai pertanyaan pun berkecamuk tentang apa yang sedang di lakukan kekasihnya yang berada jauh di sana. Ia tidak menyangka bahwa rindu bisa semenyakitkan ini...


Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamarnya. Dengan reflek ia menurunkan tangannya yang menutupi matanya dan melihat ke arah pintu. Tampak Nina berdiri disana dengan wajah datar.


"Om dan Tantemu menyuruhku untuk memanggilmu, mereka menunggumu di meja makan," kata Nina tanpa mempedulikan tatapan Prima yang tampak kesal.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dahulu sebelum kau masuk?" ujar Prima sedikit ketus tanpa merubah posisi tubuhnya.


"Aku sudah mengetuknya. Tapi sepertinya kau tidak mendengarnya..." elak Nina.


Prima tampak terkejut mendengar perkataan Nina. Wajahnya menoleh ke arah jam dinding yang bertengger di tembok kamarnya. Rupanya sudah jam tujuh seperempat. Gila! Batinnya. Sudah dua jam sejak kepulangannya ia hanya berkutat memikirkan Wida.


"Cepatlah..." ujar Nina sambil berlalu keluar kamar.


Dengan enggan Prima bangun dari tempat tidurnya. Rambutnya yang kusut, dirapikannya dengan kesepuluh jarinya. Dan dengan langkah gontai ia menyusul Nina.


Nina menuruni anak tangga dengan perasaan kesal. Sebenarnya ia agak enggan saat disuruh Om Januar untuk memanggil Prima dikamarnya. Entah kenapa sudah beberapa hari ini Prima selalu tampak kesal. Dan itu berimbas padanya dengan sikap Prima yang semakin tidak bersahabat dengan dirinya. Prima kerap kali mengabaikannya. Padahal ia sudah berjanji padanya akan bersikap baik, selama ia tidak mengusik Wida, gadis yang telah merebut pujaannya itu.


Yah.. pasti karena dia, batin Nina kesal. Entah apa yang harus dia lakukan agar Prima bisa kembali padanya. Sepertinya semua usaha sudah dilakukannya, namun Prima malah semakin jauh. Sabar... itu yang di ucapkan ibu Prima dan sahabatnya, jika ingin mendapatkan Prima. Tapi.. sampai kapan?


"Mana Prima?" ujar Tante Ana saat melihat Nina hanya datang seorang diri.


"Sebentar lagi juga turun, Tante," jawab Nina sambil mendekati meja makan dan duduk di kursi. Matanya sekilas menangkap bayangan Prima saat melihat ke arah tangga. Dengan wajah tidak peduli ia mengisi piringnya dengan makanan yang ada di meja.


Prima mendekati meja makan dan mengambil tempat di samping Nina. Ia mengabaikan pandangan Om dan Tantenya yang menatapnya heran.


"Bukankah itu baju tadi pagi?" tanya Om Januar yang ternyata memperhatikan keponakannya. "Apa kau tidak mandi sepulang kuliah tadi?"


Prima menggeleng.

__ADS_1


"Aku ketiduran tadi Om," jawabnya asal sambil menyendok nasi.


"Oh..." komentar Omnya tanpa bertanya lagi, karena istrinya memberi kode agar ia tidak banyak bertanya.


Dan makan malam pun berjalan dengan hening.


***


Eko yang sedang duduk di kursi belajarnya, tampak memainkan ponselnya. Wajahnya yang terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu. Berulang kali ia menghidupkan dan mematikan layar ponselnya. Sepertinya ia tengah bimbang, apakah ia akan memberitahu Prima atau tidak, mengenai apa yang di katakan Asti siang tadi.


Ah.. apakah aku sebaiknya kirim pesan saja, batinnya, dari pada aku kena damprat nanti. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengirim pesan. Dan jemarinya pun mulai mengetik di ponselnya...


***


Prima yang baru saja keluar dari kamar mandi, tampak bergegas begitu di dengarnya suara notifikasi dari ponselnya. Dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas dan membukanya. Rupanya itu pesan dari Eko.


Setelah duduk di pinggir ranjang ia membaca pesan sahabatnya.


'Maaf aku mengabaikan panggilanmu. Aku agak sibuk hari ini. Aku sudah bicara dengan Asti mengenai Wida. Tapi Asti tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan bahwa Wida baik-baik saja, dan meminta agar kau sabar sebentar saja. Karena Wida pasti akan menghubungimu.'


Sejenak Prima terpaku setelah membaca pesan dari Eko. Lalu ia kembali menatap layar ponselnya untuk membaca sekali lagi pesan tersebut.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Prima mengangkat wajahnya dari kedua tangannya dan melihat kearah pintu.


"Boleh aku masuk?" terdengar suara Nina diluar sana. Dan seperti biasa, tanpa menunggu jawaban, Nina langsung membuka pintu kamar. Wajahnya tampak terkejut begitu dilihatnya Prima yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya saja. Reflek ia mengalihkan pandangannya.


"Makanya jangan asal masuk," kata Prima yang menyadari keterkejutan Nina.


Prima bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah dinding dimana bajunya tergantung disana. Disambar sebuah kaos dan celana training, lalu di balik sketsel dikenakannya kaos dan celana tersebut dengan cepat.


"Ada apa kau kemari?" tanyanya setelah selesai sambil berjalan ke arah tempat tidurnya, lalu kembali duduk di pinggir ranjang.


Nina yang melihat Prima sudah berpakaian lengkap, segera masuk dan langsung duduk di kursi belajar. Ia memandang Prima sejenak, sampai akhirnya ia mengutarakan apa yang telah mengganjal hatinya.


"Apa aku berbuat salah padamu?" katanya dengan sedikit penekanan. "Kau sepertinya mengabaikan aku beberapa hari ini.."


Prima menoleh ke arah Nina.

__ADS_1


"Aku tidak mengabaikanmu"


"Ya... kau mengabaikaku.."


Prima terdiam.


"Apa kau sedang ada masalah dengan Wida?" tanya Nina tanpa basa-basi.


"Bukan urusanmu!" jawab Prima ketus.


"Urusanku kalau kau mengabaikaku hanya karena masalah Wida!"


Prima kembali menoleh ke arah Nina.


"Kau pernah bilang akan berbuat baik padaku, bila aku tidak mengusik Wida. Dan sekarang aku tidak mengusik Wida. Tapi kau malah mengabaikanku seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang salah," ujar Nina sedikit emosi.


Prima tertunduk. Yah, ia memang pernah mengatakan akan berbuat baik pada Nina, jika Nina tidak mengusik Wida. Dan belakangan ini, Nina memang tidak lagi mengganggu hubungannya dengan Wida, sejak terakhir ia membuat ulah.


"Maaf..." katanya pelan. "Aku memang sedang banyak masalah. Tapi bukan karenamu."


"Wida, kan?"tebak Nina.


Prima mengangguk.


"Kenapa?"


"Entahlah.. Ia tiba-tiba menghilang. Sudah beberapa hari ini, ia tidak menjawab teleponku...atau membalas pesanku.."


Nina terdiam sejenak. Apakah ini kesempatannya untuk mendekati Prima lagi? Pikirnya. Tapi ia harus menggunakan cara yang halus.


"Apakah kau ingin aku mencari tahu?"


"Apa maksudmu?" Prima menatap Nina tajam.


"Kau tahu...sahabat-sahabatku pandai mencari informasi. Kali saja mereka bisa mencari kabar tentang Wida.."


"Apakah bisa?" Prima mulai terpancing.

__ADS_1


Nina mengangguk pasti, dengan seringai senyum yang sulit di tebak...


__ADS_2