
Prima meletakkan tasnya di meja belajarnya. Lalu ia duduk di pinggir tempat tidurnya sambil melepas jam tangannya. Bibirnya tersenyum saat dilihatnya Wida yang masih berdiri tegak dengan canggung.
"Duduklah," kata Prima sambil nenepuk pinggir tempat tidurnya agar Wida duduk disebelahnya. Wida langsung menegang. Ia merasa malu untuk duduk di samping Prima. Akhirnya ia melihat ada sofa santai di sudut kamar dengan meja kecil disebelahnya. Mungkin tempat Prima duduk bila ia ingin membaca buku. Ia pun memilih untuk duduk disana.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Prima mempersilahkan masuk yang ternyata adalah mbok Uti yang mengantar minuman.
Mbok Uti meletakkan nampan yang di bawanya di meja kecil yang ada disamping sofa tempat Wida duduk. Senyumnya yang ramah selalu menghias wajahnya yang bulat.
"Silahkan diminum , Non... " katanya ramah. Wida balas tersenyum. "Terima kasih, Mbok."
Mbok Uti pun akhirnya keluar kamar setelah mengatakan akan menyiapkan makan siang untuk Prima.
Suasana antara Wida dan Prima kembali canggung. Wida mencoba melihat kesekeliling kamar Prima untuk menghilangkan rasa canggungnya. Ia sudah pernah masuk ke kamar Prima, tapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikannya.
Kamar Prima cukup besar apalagi jika dibandingkan dengan kamarnya yang jauh lebih kecil. Kamarnya dirumah hanya berisi satu tempat tidur kecil, lemari plastik dan meja belajar buatan ayahnya dulu... itu saja.
__ADS_1
Tapi kamar Prima... tempat tidurnya cukup besar, meja belajar yang bagus dengan merk ternama, lemari kayu yang besar, televisi yang menggantung ditembok, rak buku dan masih ada sofa yang empuk, yang ia duduki sekarang. Yah... benar-benar kamar yang di inginkan anak remaja seusianya.
Karena sibuknya Wida melihat-lihat kamar Prima, ia tidak menyadari Prima yang memperhatikannya sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Prima tiba-tiba membuat Wida menoleh ke arahnya. "Kau suka kamarku? Kau boleh menginap kalau kau mau," kata Prima menggoda Wida. Dan godaannya berhasil membuat mata Wida mendelik kesal padanya. Prima pun tertawa lepas melihatnya.
Tak lama kemudian Prima bangun dari duduknya. Ia menghampiri Wida dan duduk disampingnya. Wida yang merasa jengah, menggeser duduknya.
"Kau mau apa?" tanya Wida sedikit gugup.
"Kenapa?" Prima mulai menggoda, "memangnya kau pikir aku mau apa?" Prima memajukan wajahnya mendekati wajah Wida. Wida mulai panik. Ia mendorong tubuh Prima. "Hei! Jangan bercanda, ah!" katanya.
Prima tertawa lagi. Diambilnya gelas yang berisi sirup buatan mbok Uti di meja.
"Aku mau mengambil ini..." katanya sambil menyodorkan gelas ke arah Wida, "memangnya kau tidak haus?"
__ADS_1
Wida tahu bahwa Prima sedang menggodanya. Namun tetap saja ia merasa malu karenanya. Kalau saja Wida berkulit putih, mungkin wajahnya akan semerah buah semangka. Dengan menahan rasa malunya ia mengambil gelas yang disodorkan Prima. "Terima kasih," katanya pelan agar tak terdengar suaranya yang bergetar karena grogi. Dasar! Umpatnya dalam hati sambil meminum minumannya. Apa sih yang aku pikirkan?
Prima pun meminum minumannya sambil melirik Wida. Ia berharap Wida tidak melihat kegugupannya. Betapa tidak, saat ia mendekatkan wajahnya ke wajah Wida tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Padahal ia hanya berniat menggodanya. Tapi ternyata, malah ia yang tergoda saat melihat bibir Wida.
Untunglah, setelah ia diam-diam menghembuskan napasnya dengan pelan, debaran jantungnya kembali normal. Prima menaruh kembali gelasnya yang telah kosong ke meja. Ia menoleh ke arah Wida yang dilihatnya sedang memainkan gelas di tangannya. Dengan gerakan cepat diambil gelas itu dan meletakkannya kembali ke meja. Wida yang terkejut dengan gerakan Prima yang tiba-tiba, menatapnya kesal.
Prima tersenyum, diraihnya tangan Wida lalu digenggamnya dengan lembut.
"Daripada memegang gelas, lebih baik kau pegang tanganku," katanya sambil membalas tatapan Wida.
Wida terdiam. Matanya melihat tangannya yang di genggam Prima. Ia tidak menolaknya. Dibiarkannya jemari tangan Prima membelai punggung tangannya.
Prima yang merasa Wida tidak menolaknya, memberanikan diri menggeser duduknya agar lebih dekat lagi. Didekatkannya wajahnya ke wajah Wida yang sedang menunduk memperhatikan tangannya. Namun napas Prima yang terasa hangat dipipi Wida, membuat Wida menoleh.
Betapa terkejutnya ia saat menyadari wajah Prima yang begitu dekat dengan wajahnya. Dan tanpa bisa ia hindari Prima dengan cepat mengecup bibirnya...
__ADS_1