Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XXII : Apapun Caranya.. Kau Harus Jadi Milikku


__ADS_3

Hari ini Wida ingin pulang lebih cepat dari biasanya. Dia tidak ingin bertemu dengan Prima.. lagi. Rasanya pasti akan aneh jika ia bertemu dengannya setelah kejadian di toilet tadi. "As.. tolong ijinin aku nanti ya sama bu Sri.. bilang aja aku sakit perut." pamit Wida pada Asti sambil meraih tasnya dan langsung kabur keluar kelas. Asti yang belum sempat menjawab hanya memandang kepergian sobatnya itu dalam diam.


Jam pulang sekolah memang masih lima belas menit lagi. Namun diluar sudah banyak anak yang wara wiri. Wida menyelinap di antara para siswa yang masuk siang untuk menghindari guru piket. Dengan rasa was-was takut terlihat Prima ia pun mempercepat langkahnya. Kelas Prima memang agak jauh dari kelasnya.. tapi ia yakin mata-mata Prima pasti ada dimana-mana!

__ADS_1


Tanpa Wida sadari memang ada yang melihatnya.. Ryan! Ryan yang masuk siang sedang duduk di pinggir lapangan dengan teman-temannya. Begitu dilihatnya Wida berjalan di lorong sekolah ia pun langsung bangun untuk mengejar Wida. Ia masih penasaran dengan Wida yang tadi meninggalkannya di kantin tanpa menjawab pertanyaannya.


Ryan mengikuti Wida yang berjalan cepat di depannya. Wida yang tidak tahu sedang di ikuti berjalan terus tanpa menoleh sampai keluar gerbang sekolah. Sesampainya diluar gedung sekolah Wida bernapas lega, ia pun memperlambat langkahnya dan masih belum menyadari jika Ryan ada di belakangnya.

__ADS_1


Yah.. Ryan memang masih penasaran apakah Prima benar pacar Wida atau bukan. Kemarin Eko, teman Prima, mengatakan bahwa Wida adalah pacar Prima. Ia tidak akan percaya begitu saja. Tapi walaupun itu benar, ia juga tidak akan peduli. Baginya apapun dan bagaimanapun caranya Wida harus bisa ia dapatkan. Ia bukannya tidak sengaja masuk ke SMA Jaya dan bertemu dengan Wida. Tapi itu memang sudah ia rencanakan sejak dua tahun yang lalu. Sejak pertemuan pertama mereka di kolam renang.. pertemuan yang sangat berkesan dan tidak mudah dilupakan olehnya..


Ia memang baru duduk dikelas dua SMP saat itu.. tapi ia memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap. Sedangkan Wida walaupun sudah SMA kelas satu memiliki postur tubuh yang mungil. Mereka pun berkenalan. Dan akhirnya berenang dan bermain bersama sampai mereka berpisah. Sayangnya saat itu Wida tidak memiliki ponsel hingga mereka tidak dapat bertukar nomor. Tapi Ryan tahu bahwa Wida bersekolah di SMA Jaya.. dan itu cukup baginya untuk dapat menemukan Wida kembali..

__ADS_1


Sekarang sosok yang sangat ia sukai ini sedang berjalan dihadapannya. Sosok yang ia cari dan tidak bisa ia lupakan selama dua tahun ini. Dan Ia pun masih seperti dulu.. tidak ada yang berubah. Dari wajahnya yang manis dan selalu ceria.. bahkan juga sikapnya yang selalu baik dan ramah. Ia tidak ingin perjuangannya masuk SMA Jaya sia-sia.. perjuangannya dalam mengejar Wida.


Dilihatnya taksi dari arah depan. Dilambaikan tangannya untuk menghentikannya sebelum terlewat. Taksipun berhenti disampingnya. Sebelum naik ia mengejar Wida yang berjalan di depannya dan meraih tangannya. Wida yang tampak terkejut tangannya ditarik tidak bisa berontak dan menolak saat ia di paksa masuk kedalam taksi.

__ADS_1


__ADS_2