
Bel tanda pelajaran telah berakhir menggema di setiap sudut sekolah. Hanya dalam hitungan detik, pintu-pintu kelas terbuka hampir bersamaan. Dan para siswa yang terbebas dari pelajaran yang telah mengikatnya, berhamburan keluar kelas.
Terlihat Nina yang sepertinya sedang mencari seseorang di antara para siswa yang lalu lalang di koridor sekolah. Sebelumnya ia telah menyuruh Sifa dan Anin untuk pulang lebih dulu, dengan alasan ada urusan di TU.
Sepertinya Nina menemukan orang yang dicarinya, karena terlihat senyum yang mengembang di bibirnya.
"Ryan!" panggilnya, yang ternyata orang yang dicarinya adalah Ryan.
Ryan yang merasa ada yang memanggilnya berhenti dan menoleh ke arah suara tersebut. Di lihatnya seorang siswi datang menghampirinya. Walau sepertinya ia pernah melihatnya, namun ia tidak mengenal siswi tersebut.
"Hai!" sapa Nina sambil tersenyum manis, begitu berada di depan Ryan.
"Perkenalkan, aku teman Wida... Nina," kata Nina sambil menjulurkan tangannya.
Mendengar kata Wida, Ryan langsung menyambut tangan Nina dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Hai, juga..."
__ADS_1
"Baru datang ya?" kata Nina basa basi.
Ryan mengangguk mengiyakan.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa..." jawab Nina mencoba akrab, "hanya saja... bukankah kau yang pernah mencoba mendekati Wida?"
Alis Ryan berkerut. Ia sepertinya tidak mengerti arah tujuan pembicaraan Nina. Kenapa ia membawa-bawa nama kak Wida? Batinnya.
Nina tertawa renyah melihat Ryan yang sepertinya terkejut, saat ia tahu bahwa Ryan menyukai Wida.
Ryan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Begitukah?"
"Tapi... mengapa kau sekarang tidak mendekati Wida lagi? Apa kau sudah tidak menyukainya?" tanya Nina dengan nada prihatin.
__ADS_1
Ryan tersenyum kecut. Sepertinya ia enggan membicarakan masalah antara Wida dan dirinya. Apalagi sekarang Wida sepertinya menghindarinya, dengan alasan tidak ingin melihat Ryan terluka karenanya.
"Kak Wida sudah ada yang punya. Aku tidak boleh mengganggunya."
"Owh! Prima, maksudmu?" tanya Nina pura-pura terkejut.
"Apakah kau tidak tahu, kalau Prima dan Wida sudah putus?"
Ryan terperangah. Jadi... berita itu ternyata benar, ya? Batinnya. Kak Wida putus dengan kak Prima? Kenapa? Sepertinya kak Prima sangat peduli dengan kak Wida... mengapa tiba-tiba putus?
"Jadi kau benar-benar belum tahu, ya?" pertanyaan Nina membuyarkan lamunan Ryan.
"Yah, sudahlah. Aku pikir kau sudah tahu. Karena aku lihat, Wida tampak tertekan karenanya. Mungkin kau bisa menghiburnya. Baiklah, aku pamit dulu, ya." Nina membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan Ryan yang berdiri terpaku.
Nina menoleh sekilas kearah tempat Ryan berdiri. Seulas senyum tersungging disudut bibirnya. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuktikan apakah benar Prima dan Wida telah putus.
Perlahan Ryan berjalan menuju kelasnya. Pikirannya kini kembali dipenuhi oleh Wida. Sebenarnya ia tidak pernah melupakan Wida. Sosok yang ia cari dan ia rindukan selama ini. Ia hanya menunggu. Menunggu Wida tidak lagi menganggapnya adik kelas. Apalagi sekarang, dengan adanya Prima disisinya. Dan tampaknya Wida juga menyukai laki-laki yang dibencinya itu.
__ADS_1
Tapi... ada apa dengan kak Widanya sekarang? Mengapa anak perempuan yang mengaku temannya tadi mengatakan, kalau Wida sedang tertekan? Tertekan karena putus dengan Prima? Sialan! Emosinya mulai tersulut.
Ia memang mendengar kabar putusnya Wida dengan Prima. Tapi ia menduga itu hanya rumor. Karena yang ia lihat selama ini Wida tampak baik-baik saja. Tapi sekarang... Tiba-tiba Ryan membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah gerbang sekolah... tanpa mempedulikan bel tanda masuk yang telah berbunyi...