
Prima terdiam di depan pagar rumahnya begitu pembicaraannya selesai dengan Wida. Wajahnya tampak sedih karena Wida sepertinya tidak bisa datang untuk mengantar kepergiannya. Berkali-kali ia menghela nafasnya yang terasa menyesakkan dadanya. Bagaimana ia bisa pergi dengan tenang, kalau seperti ini perpisahannya dengan Wida? Batinnya. Padahal baginya, jika Wida hadir disini untuk melihat keberangkatannya, itu sudah cukup untuk menguatkan hatinya agar ia bisa pergi dengan tenang. Tapi jika begini... bagaimana ia bisa pergi tanpa beban di hati?
"Primaa!" terdengar suara ibunya yang kedua kalinya memanggil dirinya.
Dengan di iringi ******* nafas Prima kembali masuk kehalaman rumahnya, dimana keluarganya dan Nina sedang menunggunya.
"Sedang apa sih, kau disana?" tanya ibunya kesal. "Apa kau menunggu seseorang? Wida? Memangnya ia tahu kau akan berangkat sekarang?"
Prima yang sedang menahan perasaannya, hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan ibunya.
Nina yang berdiri tidak jauh dari ibu Prima, hanya menatap pujaan hatinya itu dengan perasaan tak menentu. Ia tahu bahwa Prima tadi sedang menunggu Wida, karena tadi saat ia menyapa Prima diluar, Prima sama sekali tidak mengacuhkannya. Karena sepertinya Prima sedang sibuk bicara dengan Wida di ponselnya. Walau ada sedikit persaaan kesal karenanya, tapi ia tetap merasa senang, karena akhirnya dirinyalah yang akan ada disamping Prima selama di Jogja, bukan Wida.
"Kau bantu Nina masukkan kopernya ke bagasi mobil," perintah ibu Prima, sambil menatap tajam putranya itu. "Jangan hanya diam berdiri disitu."
Dengan perasaan enggan Prima menghampiri Nina dan meraih koper serta tas besar yang ada di sisi Nina. Tanpa menatap Nina sedikit pun ia mengambil bawaan Nina dan langsung berjalan ke arah belakang mobil. Nina mengikutinya dari belakang. Dibantunya Prima saat mengangkat kopernya dan memasukkannya ke bagasi mobil.
"Aku senang kita bisa kembali seperti dulu," kata Nina mencoba memulai percakapan dengan Prima. "Bisa bersama-sama saat kuliah di Jogja nanti. Hanya kita berdua... seperti dulu."
Prima menoleh dan menatap Nina tajam.
"Tapi kita tidak bisa seperti dulu lagi. Sekarang... ada jarak di antara kita.." kata Prima pelan namun tajam.
Nina yang mendengar perkataan Prima langsung berubah paras wajahnya. Tergurat rasa kecewa di wajahnya karena perkataan Prima.
"Kenapa tidak bisa? Perasaanku padamu tidak berubah..."
"Berubah. Dulu kau menganggapku sahabat, begitu pula aku. Sekarang... kau menganggapku lebih dari sahabat, dan aku tidak bisa menanggapimu. Karena kau tahu... aku menyukai Wida.." Setelah mengatakannya, Prima berlalu meninggalkan Nina yang diam terpaku, tanpa bisa mengatakan apa-apa.
"Kau mau kemana?" tanya ibu Prima yang melihat anaknya masuk ke dalam rumah.
"Toilet," jawab Prima singkat.
Ibu Prima menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya yang tampak tak acuh itu. Saat ia melihat Nina menghampirinya, wajahnya langsung berubah ceria.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya saat melihat ekspresi wajah Nina yang tampak murung.
Nina menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Kau tidak usah menggubris perkataan Prima. Nanti saat di Jogja, ia akan memperhatikanmu. Karena hanya kau yang ada disisinya nanti," kata ibu Prima berusaha menyemangati Nina.
"Ninaa!"
Tiba-tiba terdengar suara memanggil Nina dari arah pintu gerbang rumah Prima. Rupanya Anin dan Sifa, para sahabatnya di sekolah. Wajah Nina berubah ceria saat melihat keduanya.
Anin dan Sifa menghampiri Nina yang sedang bersama ibunya Prima.
"Pagi Tante.." sapa Anin dan Sifa saat sampai di depan ibu Prima.
Ibu Prima hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menjawab salam Anin dan Sifa. Ia sepertinya mengerti kalau Nina ingin berpamitan pada sahabat-sahabatnya itu.
"Tante tinggal ke dalam dulu, ya.." kata ibu Prima ramah, lalu meninggalkan Nina cs.
"Aku kira kau sudah berangkat.." kata Sifa setelah ibu Prima masuk ke dalam rumah. "Untung kita masih ketemu."
"Siapa bilang ia tidak datang?" celetuk Anin yang mendengar bisik-bisik Nina. "Tadi kami melihatnya.. ia ada tidak jauh dari sini, bersama Asti."
"Sstttt..!" Nina mendesut sambil meletakkan telunjuknya di bibirnya. "Jangan keras-keras! Nanti Prima mendengarnya!"
Anin langsung celingukkan setelah mendengar teguran Nina, takut kalau-kalau Prima ada di dekat mereka.
"Berarti, Wida tidak ingin menemui Prima," komentar Sifa. "Apa karena ada kamu disini Nin, makanya ia tidak kemari?"
Nina menggeleng.
"Aku rasa bukan itu. Ia sepertinya takut dengan orang tua Prima. Soalnya mereka pernah ketahuan saat bersama hingga larut malam."
"Benarkah?" tanya Sifa dan Anin bersamaan, dengan mata melebar karena tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
__ADS_1
Nina mengangguk.
"Benar!" jawabnya meyakinkan kedua sahabatnya. "Aku bahkan disuruh menegur Wida agar tidak menemui Prima lagi, oleh ibu Prima."
Anin dan Sifa semakin terperangah mendengarnya.
"Benarkah sampai sebegitunya? Berarti hubungan mereka benar-benar tidak di setujui..."
"Sssttttt..!" desut Anin tiba-tiba sambil melihat ke arah pintu rumah. Tampak Prima dan ibunya keluar dari sana. Sifa dan Nina langsung terdiam.
"Ayo!" kata ibu Prima sambil turun keteras. "Hari sudah semakin siang. Kalau berangkatnya kesiangan, bisa-bisa malam nanti baru sampai."
Prima yang memang sedang galau, melewati Nina cs tanpa menegur Anin dan Sifa. Ia langsung menuju ke mobil yang akan mengantarnya ke Jogja. Baru saja ia akan membuka pintu mobilnya, sang ibu sudah kembali berteriak memanggilnya.
"Prima!" panggilnya. "Apa kau tidak akan pamit pada Mamihmu?"
Prima menghela nafas pelan. Tangan yang sudah memegang hendel pintu mobil, segera di tariknya kembali. Dengan enggan ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ibunya. Diraihnya tangan ibunya begitu ia sampai didepannya.
"Aku pamit, Mih.." kata Prima pelan sambil mencium punggung tangan ibunya.
Ibunya yang begitu menyayanginya, menarik kepala Prima dan mencium keningnya, lalu di kedua pipi Prima, sampai Prima jengah di buatnya karena ada Nina cs yang memperhatikan mereka.
"Kau hati-hati disana. Dengar kata om Januar dan tante Irma... jaga Nina.. jangan malas.." kata sang ibu memberi wejangan. Dan Prima hanya mengangguk.
Kemudian Prima berjalan menghampiri ayahnya yang sudah berdiri di dekat istrinya, bersama om Januar yang akan membawa mereka ke Jogja.
"Pih... " katanya sambil meraih tangan kanan ayahnya lalu memciumnya. Sang ayah hanya tersenyum sambil menepuk pundak anaknya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi Prima balik badan, berjalan kearah mobil dan masuk kedalamnya.
Nina dan teman-temannya hanya memperhatikannya dalam diam. Lalu tanpa komando, Sifa dan Anin tiba-tiba memeluk Nina berbarengan.
"Kau juga.. hati-hati disana.." kata Sifa sambil memeluk erat Nina. "Jangan lupa vc.. jangan lupakan kami..sering telepon kami ya.."
Anin menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya.. benar kata Sifa.. jangan lupakan kami, walau ada Prima disisimu.."
Setelah berpamitan dengan kedua sahabatnya, Nina lalu berpamitan pada kedua orang tua Prima. Lalu masuk ke mobil menyusul Prima yang sudah duduk disamping kursi kemudi. Nina yang melihatnya menduga, kalau Prima sengaja duduk disana untuk menghindarinya..