
Wida mengurung diri di kamar. Matanya yang sembab menandakan bahwa ia menangis cukup lama. Ia tidak mengerti jalan pikiran ibunya. Kenapa masih saja tidak bisa memaaf kan Prima. Padahal Prima hanya membuat satu kali kesalahan.Ia bingung, bila ibu terlalu memihak Soni, bagaimana hubungannya nanti dengan Prima.
Diraihnya ponselnya, dan di pandanginya sesaat. Ada keinginan untuk menghubungi Prima... tapi, apakah Prima akan mengangkatnya? Tidakkah Prima marah padanya?
Di beranikannya dirinya menghubungi Prima. Terdengar nada sambung berbunyi sekali... dua kali... dan ternyata ia tidak perlu menunggu lama... karena suara Prima langsung terdengar di ponselnya.
Prima yang sedang galau tiba-tiba merasakan getar di saku celananya. Diraihnya ponselnya. Tertera nama Wida disana. Tanpa menunggu lama ia pun menjawabnya.
"Ya... Wida... Kau tidak apa-apa?" tanyanya penuh khawatir. Eko dan Asti langsung memperhatikan Prima yang menerima telpon dari Wida. Mereka pun juga cemas dengan keadaan Wida.
Lama Wida baru menjawab, "Ya aku baik-baik saja..."
Prima tersenyum, "Syukurlah... "
"Maafkan aku..." terdengar suara Wida yang parau, dan sepertinya ia menangis.
Prima terdiam mendengar kekasih hatinya menangis.
__ADS_1
"Sudahlah... diam ya... aku tidak marah... aku mengeti, kok. Ini ada Asti, kami sedang ditempat Eko. Kau mau bicara dengan Asti?"
Tanpa menunggu jawaban Wida, Prima menyerahkan ponselnya pada Asti.
"Wida... ini aku. Kau benar tidak apa-apa? Apa aku perlu kerumahmu?" tanya Asti yang benar-benar khawatir dengan sahabatnya itu.
Wida yang memang sedang butuh dukungan itu, sangat senang saat mendengar suara sahabatnya. Disekanya air matanya.
"Ya... datanglah, aku sangat senang sekali. Aku menunggumu... terima kasih, ya."
"Aku akan menjemputmu besok pagi. Ingat... tunggulah aku," terdengar suara Prima kembali, dan percakapan pun berakhir. Dan Wida tersenyum mendengar janji Prima padanya.
"Ayo, aku antar kau kerumah Wida. Sekalian aku juga mau pulang, rasanya penat sekali hari ini," Prima menawarkan diri untuk mengantar Asti, sambil berdiri bersiap untuk pulang.
"Enak saja!" Eko tiba-tiba berdiri. "Kau tidak pandang aku? Aku pacarnya. Aku yang berhak mengantarnya." Eko meraih tangan Asti dan berjalan meninggalkan Prima.
Prima yang terkejut dengan sikap sok gentleman sohibnya itu, hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan kemudian mengikuti Eko dan Asti dari belakang.
__ADS_1
"Wida...!" seru ibu dari luar kamar, "Ada Asti!"
Wida yang mendengarnya langsung turun dari tempat tidur dan berjalan kepintu. Dibukanya pintu, tampak Asti berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya.
Melihat senyum Asti, hati Wida sedikit tentram. Ditariknya tangan Asti, "Ayo... masuklah."
Asti duduk di pinggir ranjang di samping Wida. "Aku sudah mendengar semuanya dari Prima. Aku tidak menyangka Soni akan nekat seperti itu."
"Entahlah... padahal aku sudah katakan bahwa aku menyukai Prima. Tapi tetap saja ia datang."
"Besok Prima akan menjemputmu, bagaimana kalau Soni juga datang menjemputmu?"
Wida terdiam. "Aku tetap akan berangkat dengannya."
Prima pulang dengan hati yang sudah agak tenang. Selagi hati Wida hanya untuknya, ia merasa apapun yang terjadi tidak masalah baginya. Tapi rupanya masalah baru akan datang. Saat tiba didepan gerbang rumahnya ia melihat Sifa berdiri disana.
"Sifa... sedang apa kau disini?" tanyanya setelah mematikan motornya.
__ADS_1
"Nina sakit, tadi aku mengantarnya pulang," katanya dengan ekspresi datar.