
Wida merasa lelah sekali hari ini, setelah hampir seharian ia berjalan-jalan dengan Mas Danu. Sesuai janjinya, Mas Danu benar-benar mengajaknya berkeliling Jogja. Walau ia sedikit kecewa, karena tidak menemukan sosok Prima, saat ia berkeliling kampus. Diraihnya guling yang tak jauh dari tempatnya berbaring. Dipeluknya guling itu untuk mengobati kerinduannya pada teman-temannya di Jakarta...juga Prima.
Sepertinya rasa rindunya pada Asti tersampaikan. Karena tak lama Asti tiba-tiba menghubunginya. Dengan wajah ceria di jawabnya panggilan Asti.
"Halo As.. Maaf, ya...aku belum sempat menghubungimu.." sesal Wida.
"Iya... Kau berhutang cerita padaku!" omel Asti. "Cepat ceritakan padaku kenapa kau bisa terdampar di Jogja.."
Wida pun bercerita, mulai dari Mas Danu yang datang berkunjung, menawarinya kuliah, sampai bagaimana ia bisa tinggal di rumah Budenya.
"Aku tadi ke kampus bersama mas Danu, tapi aku tidak bertemu Prima."
"Apakah kau bertemu Nina? Bukankah Nina juga kuliah di tempat yang sama dengan Prima?" tanya Asti.
"Tidak...aku tidak bertemu dengannya. Mungkin mereka belum datang tadi, soalnya kami berangkat pagi."
"Hei... bukankah jurusan yang kau ambil sama dengan Prima? Siapa tahu jadwal kalian sama..." ujar Asti bersemangat.
"Entahlah...aku tidak tahu. Aku baru akan mulai kuliah besok. Semoga saja aku bisa bertemu dengan Prima..."
Tiba-tiba pintu kamar diketuk, membuat Wida menoleh ke arah pintu.
"Dek...ibu menyuruh Mas untuk memanggilmu, kita akan malam bersama," kata Mas Danu dari balik pintu.
"Iya Mas, aku akan segera keluar, terima kasih," kata Wida menjawab panggilan Mas Danu. Sedikit terkejut ia melihat jam dinding di kamarnya, ternyata hampir dua jam ia berbicara dengan Asti di telepon.
"As, sudah dulu, ya. Aku mau makan malam," kata Wida menutup percakapan.
***
Nina termenung di kamarnya. Setelah makan malam tadi, ia dan Prima langsung ke kamar masing-masing. Sebelum masuk ke kamarnya, Prima sempat menanyakan apakah ia telah mendapat kabar tentang Wida. Dan Nina menjawab kalau Sifa belum menghubunginya. Dan ia bilang akan segera memberitahu Prima, bila sahabatnya itu sudah mendapat kabar.
Nina memejamkan matanya, tubuhnya terentang di atas tempat tidurnya. Kepalanya terasa berputar-putar, saat ia teringat percakapannya dengan Sifa di telepon sore tadi. Bagaimana ini? Pikirnya. Wida ternyata ada di Jogja. Berita yang di sampaikan Sifa pasti benar, karena katanya, ia sendiri yang langsung menanyakannya pada keluarga Wida. Dan Wida akan berkuliah di Jogja..
__ADS_1
Mata Nina seketika terbuka, ia teringat sesuatu. Kuliah di Jogja? Batinnya. Jadi....yang ia lihat tadi pagi di kantin bukan ilusi? Jadi...itu nyata? Yah...ia melihat sosok Wida di koridor kampus. Ia pikir itu hanya ilusinya saja, tapi ternyata... Itu Nyata!
"Haaah" hembus nafas Nina terdengar putus asa. Apakah ia akan memberitahukannya pada Prima? Atau...apakah Prima juga sudah melihatnya? Tidak! Ia pasti belum tahu...buktinya, ia bertanya padanya tadi. Apa yang akan ia katakan pada Prima?
Nina bangun dari tempat tidurnya. Baiklah, pikirnya, aku akan mengatakan kalau Wida baik-baik saja. Ia hanya sedang sibuk saja. Yah...pasti Prima bisa menerima alasan itu, alasan kenapa Wida tidak menghubunginya. Lalu dengan bergegas Nina keluar dari kamarnya.
Saat di depan kamar Prima, ia terdiam sejenak. Lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Lalu diketuknya sekali lagi dengan sedikit lebih keras. Dan masih tidak ada jawaban.
"Prima..!" akhirnya ia memanggilnya sambil mengetuk pintu itu sekali lagi. Dan masih belum ada suara jawaban dari Prima.
Dengan memberanikan diri Nina mencoba membuka pintu kamar Prima. Dan ternyata tidak terkunci. Perlahan ia masuk kedalam kamar. Dilihatnya Prima yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya dengan menggunakan headset di kedua telinganya.
Hmmm...pantas ia tidak mendengarnya, batin Nina. Yah...mau sekeras apa ia mengetuk pintu, Prima pasti tak akan mendengarnya.
Dihampirinya Prima. Dan Prima masih tidak menyadari kehadirannya. Kini ia menjulurkan tangannya untuk membangunkan Prima. Namun tangan itu menggantung. Dari jarak yang begitu dekat Nina memandangi wajah Prima. Entah mengapa ia merasa, wajah Prima kali ini lebih tampan dari biasanya. Dan... Tiba-tiba mata Prima terbuka...
***
Selesai makan Prima dan Nina pamit pada Om Januar dan istrinya untuk langsung ke kamar dengan alasan ingin belajar. Sebelum masuk ke kamarnya Prima menyapa Nina.
Nina yang akan membuka pintunya menoleh menanggapi panggilan Prima.
"Ya? jawabnya.
"Apakah kau sudah mendapat kabar tentang Wida dari Sifa?" katanya penuh harap.
Nina terdiam sejenak, sebelum akhir menjawab, "Maaf.. Aku belum dapat kabar..."
"Oh..." jawab Prima sambil mengangguk kecil. "Baiklah... Okeh...aku masuk dulu.."
Prima pun masuk kedalam kamarnya meninggalkan Nina yang masih terpaku di depan kamarnya.
Prima langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang kelangit-langit kamarnya. Ia ingin sekali menghubungi Wida, namun percuma saja, Wida sepertinya mematikan ponselnya.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan terlintas di pikirannya. Apakah Wida marah padanya? Apakah Ia memang sedang sibuk? Atau...apakah ibunya melarangnya untuk berhubungan dengannya? Ah... Prima menepis semua pertanyaan itu dari kepalanya. Ia tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak tentang Wida. Ia mungkin hanya belum sempat saja untuk menghubunginya. Yah...mungkin hanya karena itu, pikirnya.
Diraihnya ponselnya yang tergeletak diatas bantal dengan headset yang masih terpasang. Dipakainya headset untuk mendengarkan lagu dari koleksi albumnya di ponsel. Sambil mendengarkan musik, matanya pun mulai terpejam.
Setengah tertidur ia merasa gelisah. Prima merasa kalau sesuatu sedang mengawasi dirinya. Di bukanya matanya... Sekilas ia melihat wajah Wida... Namun betapa terkejutnya ia saat wajah itu berubah menjadi wajah Nina.
"Astaga!" serunya "Nina! Apa yang kau lakukan disini?"
Nina yang juga terkejut menarik tubuhnya dan kembali berdiri tegak.
"Maaf...." katanya dengan gugup.
Prima segera bangun dan duduk di pinggir ranjang.
"Ada apa kau kesini?" Prima bertanya kembali sambil melepas headsetnya.
Nina yang masih gugup, menghampiri kursi belajar Prima dan duduk disana.
"Aku...aku sudah mengetuk pintu kamarmu tadi. Tapi kau tidak mendengarnya.." katanya pelan. "Baru saja aku akan membangunkan mu, tapi kau sudah terbangun."
"Kenapa? Apa ada kabar tentang Wida?"
Nina menganggukkan kepalanya. " Iya... Barusan Sifa meneleponku. Katanya, Wida baik-baik saja. Hanya saja ia sedang sibuk membantu ibunya. Bukankah ibu Wida punya usaha katering?"
Prima hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Yah... ia ingat kalau ibu Wida punya usaha katering. Bisa jadi Wida tidak bisa menghubungi dirinya karena usaha ibunya sedang ramai.
"Yah....mungkin saja," kata Prima sedikit puas dengan kabar yang di bawa Nina. "Bisa jadi karena itu..."
Keduanya kembali terdiam. Nina yang merasa tidak nyaman dengan suasana yang hening itu, bangun dari duduknya.
"Aku akan kembali ke kamar.." katanya pelan.
"Oh... iya," kata Prima menanggapi.
__ADS_1
Nina melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Namun sebelum ia membuka pintu, ia membalikkan badannya kembali.
"Prima.. Apakah menurutmu, Wida akan datang ke Jogja untuk menyusulmu?"