Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XLV : Akan Kuhadapi Esok


__ADS_3

Wida mencari nomor Asti di ponsel ibunya. Ponsel jadul yang masih memakai tombol-tombol angka.. karena kata ibu, ia tidak bisa memakai ponsel yang layar sentuh. Padahal itu hanya alasan, bilang saja sayang uangnya.. Wida suka senyum sendiri bila ingat alasan ibunya itu.


Hanya ada beberapa nomor temannya yang tersimpan disana. Sudah sering ia meminta agar ibu membelikannya ponsel. Namun ibu selalu saja ada alasan untuk menolaknya. Mahallah.. belom ada uanglah.. masih banyak lah-lah lainnya. Untung disekolahnya ada larangan membawa ponsel. Jadi tidak kelihatan kalau ia tidak punya ponsel. Mungkin disekolahnya hanya ia seorang saja yang tidak punya.


Dipanggilnya nomor Asti.. berdering.. lalu tak lama terdengar suara Asti menjawab panggilannya.


"Halo.. Wida?" kata Asti diseberang sana.


"Iya..ini aku," Wida mengiyakan sambil duduk di ranjangnya.


"Ada apa.. tumben.." Asti tahu kalau ibunya Wida sangat membatasi Wida dalam memakai ponselnya.


"Sepertinya aku dalam masalah.." kata Wida dengan nada suara yang terdengar sedih.


"Masalah apa?"


"Tadi Prima kemari.. " Wida mulai cerita.


"Bagus dong!" potong Asti.

__ADS_1


"Tapi akunya ga ada.. aku sedang jalan sama Soni.." cerita Wida dengan lesu.


"Haah?! Kok bisa??" teriak Asti.. Wida sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Gimana sih kamu, Wid.." Asti mengomel.


"Tadi Soni datang lebih dulu.. ia mengajakku jalan.. aku bete, makanya aku mau. Aku pikir Prima tidak akan datang.. ia kan tidak tahu rumahku.." cerita Wida panjang lebar.


Terdengar Asti menghela napas.


"Ya sudahlah.. yang penting dia tidak tahukan kalau kau jalan dengan Soni?" Asti mencoba menenangkan Wida.


"Apanya yang tidak tahu.. ibu cerita ke Prima kalau aku jalan sama Soni.." kata Wida sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Aas.." panggil Wida karena suara Asti menghilang.


"Bingung aku mau ngomong apa.." aku Asti, "ya sudahlah abaikan saja.. paling dia marah sedikit doang"


"Tapi.. kami baru resmi jadian kemarin.. marahnya pasti tidak sedikit.." Wida akhirnya mengaku statusnya yang sudah resmi jadian dengan Prima.

__ADS_1


"Whaaat!" seru Asti. "Kok kamu baru cerita..!" katanya kesal.


"Kan baru kemarin.." Wida membela diri.


"Setidaknya kau bisa cerita semalam.. atau pagi ini.." tuntut Asti.


"Kau pikir gampang pinjam Hp ibuku..?" kata Wida tidak mau disalahkan.


"Ya sudah.. kalau begitu kamu hadapi Prima besok. Jujur saja dengan apa yang terjadi antara kau dan Soni.. jangan sampai ia salah paham.." nasihat Asti.


Wida tersenyum. Asti memang sahabat yang selalu bisa kasih jalan keluar kalau ia sedang galau.


"Iya deh, kalau begitu.." jawabnya senang, "tapi.. apa Soni dan Prima akan baik-baik saja?"


Belum sempat mendengar jawaban dari Asti, ibunya sudah teriak dari balik pintu kamar, "Widaaa..!! Pulsaaa..!!"


Wida langsung panik. "As.. sudah dulu ya.. soalnya kalo lewat batas nanti uang jajanku di potong.." tanpa menunggu jawaban Asti Wida langsung mematikan panggilannya.


Tak lama ibunya pun nongol dari balik pintu. Dengan mata melotot di julurkan tangannya untuk meminta ponselnya. Wida nyengir kuda.. sambil menyerahkan ponsel ibunya. "Makasih ibundaaa.." katanya sambil pasang muka manis.

__ADS_1


Setelah ibunya keluar, Wida kembali merebahkan tubuhnya.


"Baiklah.." katanya pada dirinya sendiri, "akan kuhadapi besok.. apapun yang terjadi. Toh aku hanya sekedar jalan.. bukan yang lain."


__ADS_2