Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXIX : Aku Datang...


__ADS_3

Prima mengeringkan rambutnya dengan handuk kecilnya. Ia berpikir mungkin dengan keramas, ia bisa mendinginkan kepala serta pikirannya yang dirasanya terlalu tegang hari ini.


Di lemparnya handuk kecil itu kesandaran bangku belajarnya, begitu dirasa rambutnya telah kering. Ia pun lalu duduk di pinggir tempat tidurnya, meraih tasnya dan mencari ponselnya.


Sambil rebahan dibukanya ponselnya. Dibacanya satu persatu pesan yang masuk. Karena dirasa tidak ada yang penting, ia meletakkan kembali ponselnya disampingnya.


Ia melipat kedua tangannya untuk menyanggah kepalanya. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang tinggi. Bibirnya yang sedikit tebal tampak tersenyum, sepertinya ada sesuatu yang membuat hatinya bahagia.


Ternyata ia sedang terbayang saat Wida memeluk punggungnya. Ia merasakan betapa hangatnya tubuh Wida saat menyentuh punggungnya. Ia pun merasa nyaman, dan suntuk yang dirasanya langsung hilang dengan seketika saat itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering, membuyarkan lamunannya tentang Wida. Dengan segan diambilnya ponselnya. Namun ekspresi wajahnya langsung berubah, saat tertera nama Wida di layar ponselnya, sosok yang sedang ia lamunkan saat itu.


Prima pun terduduk.


"Ya, Wida," katanya lembut. "Ada apa?"


Wida yang mendengar suara Prima menjawab panggilannya, malah tampak gugup. Matanya berkejap-kejap dan suaranya hilang sesaat, walaupun mulutnya sudah terbuka.


"Wida? Ada apa? Kau tidak apa-apa kan?" tanya Prima diseberang sana tampak khawatir karena Wida tidak bersuara.


"Iya.. maaf.. aku tidak apa-apa..." akhirnya Wida dapat menjawabnya walau terbata-bata.


Terdengar suara Prima yang mendesah lega saat mendengar Wida baik-baik saja.

__ADS_1


"Lalu, ada apa kau meneleponku? Kau kangen padaku? Baru saja kita berpisah.." goda Prima.


Wida terlihat risih saat mendengar Prima menggodanya. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghempaskannya pelan, untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum mengatakan semuanya pada Prima.


"Aku mendapat pesan dari penelepon itu," katanya dengan nada cepat, karena takut tidak dapat mengatakannya.


Prima yang mendengarkan suara Wida dengan serius nampak panik.


"Pesan? Pesan apa? Bisa kau kirim pesannya padaku?"


Dengan perasaan cemas ia menunggu 'pesan' yang akan di kirimkan Wida. Selang tak berapa lama 'pesan' itu pun diterimanya.


Wajah Prima terlihat gusar saat membaca pesan itu. Ia tidak menyangka akan seserius ini masalahnya. Ia pun langsung mencemaskan keadaan Wida, dan meneleponnya.


"Iya... aku baik-baik saja," suara Wida terdengar pelan.


"Dimana kau sekarang?"


"Aku dirumah."


"Aku kerumahmu, ya? Ibumu... ia sudah tidak marah padaku, kan?"


Wida sepertinya terkejut dengan permintaan Prima, yang ingin datang kerumahnya. Lama Prima menunggu jawaban Wida.

__ADS_1


"Ibuku sedang tidak ada. Ia sedang keluar..." akhirnya suara Wida terdengar juga, yang membuat Prima langsung berdiri, karena didengarnya Wida sendirian dirumahnya.


"Kau sendirian dirumah? Aku akan kesana!" katanya cepat dan langsung mematikan ponselnya.


Lalu dengan gerakan cepat ia memakai kaos dan celana levisnya. Menyambar dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya, dan kemudian bergegas keluar dari kamarnya.


Saat melintasi ruang makan ia berpapasan dengan ibunya yang sepertinya juga baru keluar dari kamarnya. Ibu terlihat heran, karena Prima sepertinya sedang terburu-buru.


"Kau mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau keluar sebentar, Mih," jawab Prima sambil berjalan cepat.


"Dengan rambut seperti itu?" teriak ibu yang tanpa di jawab oleh Prima, karena Prima yang sudah menghilang keluar dari rumah.


Prima mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan, sebelum ia memakai helmnya. Setelah ia keluar dari gerbang rumahnya, dengan semangat karena ingin menemui Wida, ia pun melanjukan motornya dengan kecepatan penuh.


Wida yang mendengar Prima akan kerumahnya tampak panik. Padahal ia belum menyetujui apakah Prima boleh datang atau tidak ke rumahnya, Prima sudah mematikan ponselnya.


Ia pun langsung berdiri untuk berganti pakaian yang sekiranya pantas dilihat oleh Prima. Kemudian disisirnya rambutnya yang ikal sebahu, lalu di ikatnya dengan ikat rambut berwarna merah.


Setelah merasa dirinya telah rapi, ia lalu membereskan kamarnya yang sedikit berantakan. Untung ibunya selalu membantunya merapikan kamarnya, jadi kamarnya tidak terlalu berantakkan.


Akhirnya Wida keluar dari kamarnya, dan melihat-lihat keadaan rumah, apakah berantakkan atau tidak. Saat Wida sedang membersihkan meja, didengarnya ada suara motor berhenti di depan rumahnya. Wida pun berjalan kearah jendela untuk mengintip siapa yang datang, sebelum ia membuka pintu...

__ADS_1


__ADS_2