Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXX : Bikin Kesal Saja...


__ADS_3

Prima meletakkan tasnya di meja. Tanpa sengaja wajahnya menoleh kearah jendela, melihat kepintu kelas Wida. Dan tiba-tiba dilihatnya sosok Wida yang keluar dari pintu kelasnya dan berjalan menuju arah keluar gedung sekolah. Alis Prima berkerut. Mau kemana dia? Batinnya. Karena rasa penasaran ingin tahu apa yang dilakukan Wida, Prima langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelasnya.


Saat sampai di pintu kelas, ia berpapasan dengan Eko yang sepertinya habis dari kantin.


"Mau kemana?" tanya Eko, karena dilihatnya Prima yang sedang terburu-buru.


"Aku mau keluar sebentar," jawab Prima dan langsung melengos pergi.


Sepanjang perjalanan, batin Prima bertanya-tanya, kenapa Wida pergi kearah keluar sekolah. Apa ada yang tertinggal? Apa ada sesuatu disana? Apa ia akan bertemu seseorang disana? Entah mengapa ia tiba-tiba merasa penasaran dan curiga pada Wida. Saat melintas di depan kelas Wida ia sempat melirik kearah bangku Wida. Ada Asti disana yang tengah duduk di bangkunya sedang mengerjakan sesuatu. Aneh... Ia selalu bersama Asti bila ingin kemana-mana saat di sekolah. Tapi ini...


Prima mempercepat langkahnya. Begitu sampai di pintu gerbang sekolah, di tanyanya penjaga, apakah ia melihat Wida keluar dari gedung sekolah.


Sang penjaga sekolah menggelangkan kepalanya.


"Tidak, sepertinya dia tidak keluar dari sekolah," jawabnya.


"Bapak yakin?" tanya Prima penasaran.


"Iya. Kaliankan sudah kelas tiga, masa bapak tidak hapal dengan wajah kalian. Bapak selalu memperhatikan dengan baik siapa yang masuk dan keluar dari gedung sekolah ini," kata Pak Sarkim, si penjaga sekolah, meyakinkan Prima.


"Mungkin ia ke belakang kelasnya. Coba saja kau cari kesana," saran Pak Sarkim.


Prima menoleh ke arah kelas Wida yang letaknya memang paling pinggir, dan ada taman disamping dan belakang kelas Wida.


"Terima kasih, Pak," kata Prima pada Pak Sarkim, lalu meninggalkannya dan berjalan ke arah belakang kelas Wida.


Entah mengapa tiba-tiba perasaannya semakin tidak enak. Ia bahkan tidak berani menebak apa yang sedang Wida lakukan, bila memang benar ia ada di balik kelasnya itu. Dan sepertinya perasaan tidak enaknya itu terjawab sudah. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah tiba di samping kelas Wida. Pemandangan yang ada di depannya, membuat matanya terbelalak lebar, saat di lihatnya Wida bersama rivalnya, Ryan. Apalagi saat dilihatnya Ryan yang sedang memegang tangan Wida.


"Heeii!" teriaknya tanpa pikir panjang. "Lepaskan tangan itu!"


Dan dengan langkah yang cepat Prima menghampiri Wida dan Ryan.


Wida dan Ryan yang terkejut saat mendengar suara berteriak dari arah samping mereka, menoleh berbarengan. Mereka semakin terkejut saat mengetahui pemilik suara itu yang tak lain adalah Prima. Keduanya terpaku saat Prima datang mendekati mereka.


Prima yang sedang dilanda cemburu langsung menarik tangan Wida dari tangan Ryan begitu ada di dekat mereka. Ditariknya tubuh Wida agar menjauh dari Ryan.


Ryan yang masih terpaku hanya terdiam begitu Prima menarik Wida untuk menjauh darinya. Ia masih merasa terkejut karena tidak menyangka bahwa Prima datang.


Sedangkan Wida, jantungnya langsung berdetak cepat, karena ia juga tidak menyangka kalau Prima bisa tahu ia sedang bersama Ryan. Ia merasa cemas kalau Prima akan salah paham karenanya.


"Sedang apa kalian disini?!" tanya Prima dengan nada emosi. Matanya yang masih terlihat kesal menatap Wida sekilas, lalu beralih ke Ryan. "Bukankah aku sudah memperingatkan, agar kau tidak mendekati Wida lagi? Sekarang kau malah sembunyi-sembunyi menemuinya!"


Wida yang tampak sudah bisa menguasai rasa terkejutnya membuka mulutnya.


"Prima..." kata Wida dengan suara takut-takut, "kau... Kau jangan salah paham... Kami..."


"Jangan salah paham bagaimana?" kata Prima memotong perkataan Wida. Matanya yang kembali menatap Wida tampak terlihat kesal. "Kalian bertemu disini, dan sedang berpegangan tangan! Bagaimana tidak salah paham?!"


Wida mendesah, mengatur nafasnya agar tenang. Ia tahu Prima sedang cemburu. Wida mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Ryan... Ia sedang meminta maaf padaku.." kata Wida mencoba menjelaskan. "Ia merasa bersalah karena ia tidak bisa membantuku kemarin. Hanya itu.."


Prima menatap mata Wida dalam, seakan mencari kebenaran dari perkataan Wida disana. Dan tatapannya melemah karena senyum Wida yang terlihat tulus.


Ryan yang tak ingin Wida terkena masalah mencoba bicara.


"Iya.. Aku hanya minta maaf," katanya setelah berhasil menemukan kata yang tepat. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan hanya karena ia salah bicara, apalagi menyulitkan Wida.


"Aku yang mengajak Kak Wida kesini."


Prima menoleh ke arah Ryan, dan matanya kembali tak ramah saat menatapnya.


"Tapi kau tidak harus membawanya kesini," katanya masih dengan nada emosi.


"Kau bisa bicara ditempat yang ramai atau dikantin. Tidak ditempat sepi seperti ini!"


Ryan membuka mulutnya ingin menjawab perkataan Prima. Namun belum sempat ia lakukan, Prima langsung membelakanginya lalu berjalan pergi sambil menarik tangan Wida dan meninggalkannya. Akhirnya Ryan hanya bisa menutup kembali mulutnya sambil menghembuskan nafasnya pelan. Namun hatinya merasa lega, saat dilihatnya Wida masih sempat menoleh kearahnya dengan senyum canggung dibibirnya.


Prima berjalan dengan cepat sambil menarik tangan Wida. Hatinya yang masih dipenuhi rasa cemburu membuat dirinya tidak peduli dengan Wida yang kesusahan mengimbangi langkahnya. Sesekali Wida tampak berlari kecil untuk menyamakan langkahnya dengan langkah Prima.


Setelah berada di depan kelas Wida, Prima menghentikan langkahnya, yang membuat Wida ikut berhenti di belakangnya. Dilepasnyanya tangan Wida yang sedari tadi dipegangnya. Lalu tanpa menatap Wida, ia menyuruh Wida agar masuk ke kelasnya.


"Masuklah," perintahnya. "Jangan sampai aku melihatmu keluar lagi dari kelasmu."


Dan tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan Wida yang diam terpaku, karena merasa bingung dengan sikap Prima, yang meninggalkannya dalam keadaan marah.


Setelah dilihatnya Prima yang sudah menjauh, akhirnya dengan langkah gontai Wida masuk ke kelasnya. Dengan tubuh lemas ia duduk di bangkunya. Asti yang melihatnya tampak heran, mengapa sahabatnya itu kembali dengan keadaan tak bersemangat seperti itu.


Wida menghela nafas, kepalanya menggeleng menjawab pertanyaan Asti.


"Lalu kenapa kau seperti itu?" Asti semakin penasaran karena Wida hanya menggeleng.


"Prima..." jawab Wida pelan, "ia memergoki kami tadi..."


"Apa?!" kata Asti dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa temannya menoleh ke arah mereka.


Wida yang menyadari suara Asti yang cukup keras langsung membelalakkan matanya.


"Kenapa kau teriak?" tanya Wida sambil menatap Asti kesal.


"Maaf..." kata Asti kembali mengecilkan volume suaranya. "Habis kau membuat aku terkejut. Bagaimana Prima bisa tahu kalau kau sedang bersama Ryan?"


"Mana aku tahu... Mungkin saja ia punya radar, yang membuatnya bisa tahu kalau aku sedang bersama Ryan," ujar Wida kesal. "Menurutmu... Apakah wajar punya pacar seperti itu? Sepertinya ia terlalu membatasi aku dalam berteman.."


"Membatasi bagaimana? Prima tidak seperti itu terhadap aku dan Eko. Mungkin saja ia seperti itu, karena ia tahu Ryan menyukaimu," kata Asti memberi pendapat.


"Tapi, aku kan hanya menganggap Ryan sebagai teman. Itu saja, tidak lebih. Kalau Ryan menyukai aku... Itu haknya dia. Aku tidak bisa melarangnya, yang penting aku tidak membalas perasaannya. Dan Ryan tahu, kalau aku hanya menganggapnya sebagai teman, karena kami sudah saling mengenal lebih dulu di banding Prima. Ia juga tahu kalau aku menyukai Prima. Pacar Prima," kata Wida panjang lebar.


Asti menatap Wida.

__ADS_1


"Kau bisa bicara seperti itu. Tapi kalau posisimu di balik, apakah kau masih bicara seperti itu?" tanya Asti.


Kening Wida berkerut, karena ia tidak mengerti maksud perkataan Asti.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Iya... Posisimu dibalik. Sekarang, bagaimana kau memandang Prima dan Nina.. Apakah kau tidak apa-apa kalau Prima dekat dengan Nina? Mereka juga telah saling mengenal lebih dulu, di banding denganmu. Apa kau bisa menerima itu? Apa kau tidak akan cemburu bila melihat mereka tampak akrab satu sama lain?"


Wida terdiam. Benar juga perkataan sahabat satu-satunya itu. Ia juga tidak suka bila Prima terlalu dekat dengan Nina. Apalagi ia tahu Nina menyukai Prima. Buktinya kemarin, saat ia melihat Prima duduk sebangku dengan Nina. Ia merasa tak rela melihatnya...


Asti tersenyum melihat sahabatnya yang sepertinya sedang memikirkan perkataannya tadi.


"Bagaimana? Kau bisa menerimanya?"


"Tapi Nina kan menyukai Prima. Dan itu juga terlihat jelas..."


"Tapi Prima juga tidak menanggapinya.." sanggah Asti cepat, "seperti kau yang tidak menanggapi perasaan Ryan."


Wida langsung terdiam. Ia hanya melirik Asti tanpa menjawab perkataan Asti...


Prima meninggalkan Wida di depan kelasnya, sambil berusaha meredam hatinya yang panas karena cemburu. Ia menyadari perasaannya yang masih kesal, sehingga ia tidak berbicara banyak pada Wida. Andai saja ia berbicara, pasti hanya perkataan yang penuh emosi yang bisa ia ucapkan. Dan itu pasti akan membuat mereka berselisih lagi. Makanya Prima lebih memilih meninggalkan Wida tanpa mengatakan apa-apa.


Sesampainya di kelas ia langsung duduk di bangkunya tanpa mempedulikan tatapan Eko yang bingung karena melihat wajahnya yang tampak kesal.


"Kau ini kenapa?" tanya Eko. "Tadi kau keluar baik-baik saja. Kenapa kau kembali dengan wajah kusut seperti itu? Apa ada masalah dengan Wida?" tebaknya.


Prima mendesah. Matanya menerawang ke depan kelas dengan pandangan kesal, seakan masih membayangkan pemandangan yang dilihatnya tadi.


"Hei.." kata Eko lagi sambil menyenggol Prima dengan sikutnya, karena Prima hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. "Ada apa? Jangan diam begitu... Bikin bingung saja.."


Prima menoleh ke arah Eko. Ditatapnya sebentar sahabatnya itu.


"Aku mendapati Wida sedang berbicara rengan Ryan disamping kelasnya," kata Prima pelan.


"Ooh.. Hanya itu.." kata Eko menanggapi dengan santai perkataan Prima.


Mata Prima langsung menatap tajam Eko.


"Hanya itu? Hanya itu, katamu?" ujar Prima dengan nada kesal. "Apa kau pikir aku akan baik-baik saja melihat Wida dengannya, setelah apa yang telah ia lakukan pada Wida?"


Eko mendesah pelan.


"Be positive, man. Jangan selalu berpikiran negatif. Mungkin saja ada pembicaraan yang harus mereka bicarakan terkait masalah kemarin," kata Eko mencoba membuka pikiran Prima.


Prima terdiam. Ada benarnya juga perkataan sahabatnya itu. Tadi Wida mengatakan bahwa Ryan hanya meminta maaf padanya, karena ia tidak bisa membantu menyelesaikan masalah Wida. Prima mendesah kesal.


"Tapi tidak harus di tempat sepi dan berpegangan tangan segala..." gumamnya pelan, "bikin kesal saja..."


"Apa...?" tanya Eko yang tidak begitu mendengar perkataan Prima.

__ADS_1


Prima menggeleng.


"Tidak... Tidak apa-apa..." jawabnya pelan, "lupakan saja..."


__ADS_2