Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXII : Aku Tak Ingin Bantuanmu..


__ADS_3

Kepala Sekolah yang menyaksikan jalannya sidang kecil itu tanpa bicara, tiba-tiba berdehem membuat semua terdiam dan menoleh padanya. Anin dan Nina yang berdebat seakan lupa kalau ada kepala sekolah di situ langsung terlihat gugup.


Kepala Sekolah pun berdiri, menatap para muridnya satu persatu dan berakhir pada Pak Anton.


"Pak Anton, ikut keruangan saya," katanya pada Pak Anton dengan suara yang terdengar menggelegar memecahkan kesunyian. Dan Kepala Sekolah pun akhirnya meninggalkan ruang BK dengan di ikuti Pak Anton dari belakang.


Setelah Pak Anton dan Kepala Sekolah menghilang dari balik pintu, Nina kembali menatap Anin.


"Kau sungguh keterlaluan!" serangnya pada Anin, "aku tidak pernah memintamu melakukan itu! Kenapa kau bilang melakukannya karena aku?"


"Karena aku ingin membantumu! Aku tidak tahan melihat kau tertekan karena hubungan mereka..!" bela Anin.


"Itu urusanku! Kau tak perlu ikut campur!"


"Bagaimana aku tidak ikut campur?! Kau temanku! Aku juga ingin membantumu seperti Sifa..!"


"Tapi tidak dengan cara seperti ini..!" potong Nina.


"Sudah! Hentikan!" pekik Bu Shinta tiba-tiba menghentikan perdebatan Anin dan Nina dengan suara tertahan. "Kalian ini! Apa kalian tidak malu dengan perbuatan kalian! Kalian sebentar lagi ujian! Tapi malah berbuat yang sesuatu yang merugikan! Berpikirlah dulu sebelum bertindak!"


Bu Shinta diam sejenak mengambil napas berusaha menahan emosi.


"Sekarang selesaikan dulu masalah di antara kalian. Anin.. apa ada yang mau kau sampaikan pada Wida dan Prima?" tanya Bu Shinta pada Anin.


"Tidak ada, Bu?" jawab Anin ketus, karena masih kesal setelah berdebat dengan Nina.


"Apanya yang tidak ada?!" tanya Bu Shinta kesal. "Kau tidak merasa bersalah dengan apa yang kau lakukan pada mereka? Perbuatanmu itu namanya memfitnah! Kamu tahu itu?"


Semua mata tertuju ke Anin, seakan menunggu apa yang akan di katakan Anin.


Anin mendesah kesal.

__ADS_1


"Baiklah... aku minta maaf.." katanya sambil menatap Wida dan Prima bergantian.


Prima tersenyum sinis mendengar ucapan Anin.


"Kalau kau tidak ikhlas, lebih baik tidak usah minta maaf!"


"Iya.. bikin kesal saja," celetuk Asti yang duduk disamping Wida.


Anin yang merasa dirinya diserang dan tidak mendapat dukungan bahkan dari temannya sendiri, semakin kesal.


"Pokoknya aku sudah minta maaf," katanya sambil menatap Prima seakan menantang. "Kau mau terima atau tidak itu terserah kalian."


Bu Shinta menghela napas. Kepalanya menggeleng pelan dengan sikap Anin yang keras kepala.


"Sudahlah.. kalian kembali ke kelas. Kepala Sekolah dan Pak Anton mungkin sedang membahas masalah ini di kantor. Kalian tinggal tinggu saja hasil keputusannya." kata Bu Shinta mengakhiri sidang kecil itu.


Akhirnya satu persatu semuanya meninggalkan ruangan BK. Anin dengan wajah kesalnya keluar lebih dahulu, disusul Sifa dan Nina. Wida yang berjalan di belakang Asti dan Eko, tiba-tiba menyeruak mendahului mereka. Prima yang melihatnya langsung mengejarnya.


Ternyata Wida mengejar Anin.


Anin yang di hadang oleh Wida, lagsung menghentikan langkahnya dengan wajah sedikit terkejut.


"Aku mau bicara.." kata Wida memberanikan diri.


Anin terdiam sejenak menatap mata Wida.


"Mau bicara apa lagi?" tanya Anin dengan nada tidak suka. "Bukankah aku sudah minta maaf?"


Prima yang mengejar Wida, telah berdiri di samping Wida. Ia merasa heran kenapa Wida mengejar Anin.


"Ada apa?" tanyanya pada Wida. Namun Wida mengacuhkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Bukan itu.." katanya pada Anin. "Aku hanya mau tanya, apakah kau yang menelponku beberapa waktu yang lalu? Dengan ancaman-ancaman?"


Anin tidak menjawab, ia hanya diam dengan bibir yang mengatup rapat.


Prima yang sepertinya sudah muak dengan Anin, menarik tangan Wida agar tidak menghalangi Anin.


"Buat apa kau tanya? Memangnya siapa lagi yang melakukannya, kalau bukan dia? Bukankah ancamannya sudah menjadi nyata..?"


Anin melirik tajam Prima. Setelah mendengus kesal ia pun berlalu meninggalkan Wida dan Prima tanpa menjawab pertanyaan Wida.


"Hei.." Wida yang masih penasaran berusaha menghentikan Anin, namun Prima menahannya.


"Sudahlah..." kata Prima sambil menarik tangan Wida kembali. "Biarkan saja."


"Tapi ia belum menjawab pertanyaanku.." kata Wida tertahan.


"Tanpa perlu menjawab, siapapun bisa tahu kalau ia pelakunya.." Prima menatap lembut Wida. "Ayo... aku antar kau ke kelas."


Wida menghela napas. Ia sebenarnya ingin mendengar langsung jawabannya dari mulut Anin, agar ia tidak penasaran.


"Kau tidak usah mengantarku..." katanya sedikit krcewa, "ada Asti yang menemaniku," Wida menolak ajakan Prima. Lalu ia berjalan melewati Prima ke arah Asti yang berdiri di belakang tidak jauh dari mereka. Tanpa banyak bicara, ditariknya tangan Asti meninggalkan Prima dan Eko.


Prima sebenarnya ingin mengejar Wida, namun Eko mencegahnya dan mengajaknya agar langsung ke kelas..


Anin menghempaskan tubuhnya dengan keras kebangkunya. Wajahnya tampak memerah karena menahan amarah. Tak lama berselang Sifa dan Nina pun datang. Wajah Nina juga tak kalah merahnya karena menahan kesal. Hanya Sifa yang terlihat biasa saja. Ia hanya merasa bingung karena berada diantara dua sahabatnya yang sedang berselisih.


Namun Nina yang kekesalannya masih menyangkut ditenggorokkannya, langsung meluapkannya pada Anin.


"Aku benar-benar tidak menyangka akan perbuatannmu! Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau melakukan itu!" luap Nina.


Sifa yang ada disampingnya menyentuh tangan Nina, agar sahabatnya tenang.

__ADS_1


"Setidaknya kau tanya aku sebelum kau melakukannya bila memang kau melakukannya untukku! Jangan bertindak sesukamu yang malah membuat Prima marah tak jelas padaku!" luap Nina kembali dengan suara tertahan.


Anin tiba-tiba berdiri. Ia merasa enggan untuk menanggapi ocehan Nina. Tanpa menoleh lagi, dengan langkah cepat ia keluar kelas setelah ijin ke guru dengan alasan ke toilet..


__ADS_2