
Wida yang kakinya masih lemas memaksakan diri untuk bangun dari jongkoknya. Ia masih tidak mengerti mengapa tadi Prima tiba-tiba bisa ada di belakang mengikutinya sampai toilet. Seakan ia bisa tahu dimana saja ia berada.. kebebasannya disekolah ini benar-benar sudah tidak ada.
Ia tidak munafik.. memang dari pertama melihat Prima di kelas satu ia sudah mulai naksir dengannya. Bukan ia saja, juga banyak anak cewek lainnya. Namun sampai sekarang tidak pernah terdengar ada yang pernah jadi pacarnya. Sikap Prima padanya pun sudah aneh dari kelas satu. Memang mereka tidak pernah berkata satu sama lain. Hanya matanya saja yang seakan-akan bisa berkata padanya. Tatapannya yang tajam seakan bisa menyihirnya untuk menuruti segala kemauannya. Ya.. semua gerakanya seakan di batasi oleh matanya..
__ADS_1
Dan sekarang.. di tahun ketiga ini.. sikapnya semakin aneh. Bukan hanya matanya, ia bahkan sudah berani menyentuhnya dan berkata hal-hal yang aneh pula. Menarik tangannya kesana kemari sesuka hatinya bahkan tadi..ia mulai menyentuh wajahnya! Dan juga.. bibirnya! Wida bergidik mengingatnya sambil menyentuh bibirnya.. terlalu! batinnya.
Bahkan dalam menyatakan perasaannya juga aneh.. dan juga terasa memaksa. 'Kamu tidak menolak untuk jadi pacarku kan?' Mana ada orang yang menyatakan perasaannya seperti itu. Dan pilihan jawabannya hanya dua.. 'ya'.. atau 'tidak'. Mau jawab apa coba.. di bilang 'iya' artinya iya.. dibilang 'tidak' artinya juga iya.. Hadeuh.. Wida menggeleng kesal. Dan kini ia jadi bingung.. benarkah ia sekarang jadi pacar Prima.. atau Prima hanya main-main dengannya? ...entahlah..
__ADS_1
Prima masuk kekelas dengan perasaan yang masih tak karuan. Kelakuan dan sikapnya yang dirasa aneh tadi saat di toilet agak disesalinya. Bagaimana kalau Wida tidak terima dengan perlakuannya tadi dan marah.. Terbayang tatapan mata Wida yang terlihat ketakutan saat ia menyentuhnya. Aah.. padahal ia hanya ingin menanyakan masalah pertemuan Wida dengan Ryan di kantin.. tapi kenapa malah jadi seperti ini.. Prima menepuk jidatnya..
Wida masuk kekelasnya dengan langkah gontai. Lalu duduk disebelah Asti dengan lesu yang membuat Asti kebingungan. " Kenapa?" tanyanya, "kok lama amat? Sakit perut ya?" Wida hanya diam. Ia ragu apakah harus menceritakannya pada Asti atas apa yang baru saja ia alami. Ditatapnya Asti dan seperti ingin mengatakan sesuatu.. namun akhirnya tidak jadi. Asti yang melihatnya kesal. "Ada apa sih?!" tanyanya penasaran, "jangan bikin kesal deh!"
__ADS_1
Wida diam sejenak. "Tadi.. Prima.." katanya ragu, "ia.." Asti geregetan."Iyaaa.. kenapa dengan Prima?!" katanya tidak sabaran melihat Wida yang bicara pelan dan terputus-putus. "Mendatangi aku di toilet..." akhirnya mampu juga Wida mengatakannya dan langsung membuat Asti menganga tak percaya. "Apaaa...?!" kencang juga Asti berteriak sehingga beberapa anak yang didepannya menoleh melihatnya. Wida pun melotot padanya.
"Mau ngapain dia?" tanyanya. "Mana aku tahu.." jawab Wida. "Tadi.. hampir saja ada yang melihatnya.." lanjut Wida. Dan mulut Asti pun menganga lagi.. dua kali lebih lebar dari yang tadi dan sisertai matanya yang melotot. "Gila!!" pekiknya, dan membuat Ririn yang duduk didepannya menoleh penasaran. "Ada apaan sih?" tanyanya, "rame bener.." Wida tersenyum malu, "Gak ada apa-apa.." katanya sambil menjitak kepala Asti dengan kesal.
__ADS_1