Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXVI : Aku Ingin Kau Lepas Darinya...


__ADS_3

Soni dan Ibu Wida sedang duduk di ruang tamu. Sepertinya mereka menunggu Wida. Ibu tampak gelisah. Sepertinya ia merasa tidak enak pada Soni karena anaknya keluar rumah terlalu lama, padahal ada yang menunggunya.


"Kemana ya, si Wida ini?" tanya Ibu pada dirinya sendiri. "Tidak sopan benar membiarkan temannya menunggu lama begini," Ibu melirik kearah Soni yang tertunduk memainkan jemarinya. "Tadi... apa Wida bilang ia mau kemana?"


Soni mengangkat kepalanya. "Tidak, Bu..." jawabnya singkat sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi..." katanya ragu, "apa tidak sebaiknya Wida ditelepon saja, Bu?"


Ibu tersenyum kecut. "Dia tidak punya ponsel," jawab ibu. Agak malu juga ia sebenarnya. Masa hari gini tidak punya ponsel? Mungkin anak muda yang ada didepannya ini berpikir seperti itu.


"Punya, kok bu," jawab Soni tiba-tiba membuat kening Ibu mengerut.


"Punya darimana?" tanya Ibu bingung karena ia tahu anaknya itu tidak punya ponsel.


"Tadi saya melihatnya saat ia menerima pesan. Dan setelah itu ia pamit keluar. Sepertinya ia menemui seseorang." Dengan gencar Soni mencoba memanasi Ibu. Mungkin dengan begini ia bisa melepaskan Prima dari Wida, pikirnya.


Tiba-tiba Ibu Wida bangun dari duduknya. Ia berjalan cepat kedalam rumah. Jangan-jangan... Ibu langsung menuju ke meja tivi. Ternyata ibu mengira ponselnya dibawa oleh Wida. Syukurlah... batinnya, karena ternyata ponselnya masih ada. Lalu... yang dibawa Wida ponsel siapa?


Ibu kembali keruang tamu dengan cepat dan kembali duduk di sofa.

__ADS_1


"Tidak mungkin ia bawa ponsel. Ini ponsel Ibu masih ada," katanya sambil mengacungkan ponselnya.


Soni tersenyum, rupanya Ibu tidak tahu kalau Wida punya ponsel.


"Tapi... Wida memang punya ponsel, Bu. Aku melihatnya tadi."


"Iya... tapi ponsel dari mana?" tanya Ibu semakin bingung karena merasa tidak membelikan Wida ponsel.


"Mungkin Prima yang membelikannya. Di sekolah, mereka agak dekat," kata Soni sengaja membawa nama Prima. Mungkin ini saatnya ia memberitahu Ibu Wida tentang kedekatan Prima dan Wida.


Ibu terperangah. Oh... pantas saja, pikirnya, beberapa hari ini Wida tidak pernah meminjam ponselnya. Pulsanya utuh! Ibu tersenyum. Namun tak lama senyumnya menghilang. Ini bukan saatnya mikirin pulsanya, tapi Wida!


Soni mengangguk. Diam-diam ia tersenyum senang. Rencananya berhasil untuk memberitahukan hubungan Prima dan Wida secara tidak langsung.


"Anak ini... benar-benar... padahal sudah dilarang," Ibu mengomel sendiri. "Lalu... bagaimana menghubunginya? Ibu tidak punya nomor ponselnya."


Soni tersenyum. "Asti mungkin punya Bu, ia kan sahabatnya."

__ADS_1


"Aaah.. iya, benar.. Asti pasti punya." Ibu langsung mencari nomor Asti dan langsung menghubunginya. Lama Ibu menunggu, dan akhirnya terjawab.


"Ya, halo?" jawab suara diseberang sana yang sepertinya suara Asti.


"*Asti... ini Ib*unya Wida..." kata Ibu.


"Oh.. iya Bu, ada apa?"


"Asti punya nomer ponsel Wida?"


Lama tak terdengar suara dari seberang sana.


"Punya Bu..." jawab Asti tak lama kemudian.


"Baiklah... tolong kirimi Ibu nomornya ya..."


Ibu mematikan ponselnya. Tak lama ada pesan masuk dari Asti. Ibu yang gaptek langsung menyerahkan ponselnya pada Soni untuk memintanya menyimpan nomor Wida.

__ADS_1


Setelah Soni menyimpan nomor Wida, ia mengembalikan ponsel ke Ibu Wida. Tampak Ibu Wida menekan tombol pada ponselnya yang masih model lama. Soni yang duduk tidak jauh dari Ibu Wida, memperhatikan dengan senyum tersungging disudut bibirnya. Dan tak lama nada sambung pun terdengar...


__ADS_2