
Setelah mendapat perintah dari bu Shinta, Eko pun bergegas ke kelas Wida. Dan sesampainya di depan kelas, ia mengetuk pintu kelas yang tampak sedikit terbuka.
"Masuk!" terdengar jawaban atas ketukkannya, menyuruh agar Eko masuk ke dalam kelas. Eko pun membuka pintu dan masuk, dilihatnya pak Bram yang sedang mengajar.
Pak Bram melihat Eko dengan pandangan tak senang karena merasa terganggu.
"Ada apa?" katanya dengan suara besarnya yang khas.
"Maaf, Pak... disuruh bu Shinta untuk memanggil Wida," kata Eko sedikit takut. Maklumlah, pak Bram termasuk salah satu guru killer yang ditakuti para murid.
Wida yang mendengar namanya disebut, melihat ke depan kelas. Walau ia hanya menduga-duga kenapa Eko datang ke kelasnya, tetap saja ia terkejut melihatnya. Dan jantungnya langsung berganti irama menjadi cepat. Apalagi kalau bukan masalah foto? Pikirnya.
"Wida!" panggil pak Bram lantang.
Dan tanpa di panggil dua kali, Wida langsung berjalan ke depan kelas. Asti dan hampir semua pasang mata yang ada di kelas, melihat ke arah Wida. Mereka menduga, kalau Wida dipanggil pasti karena masalah foto. Dan kelas pun tiba-tiba mendadak menjadi ramai.
Pak Bram yang bingung mengapa kelasnya mendadak ribut, dengan mata yang melotot tajam, memukul-mukul papan tulis dengan kerasnya. Dan alhasil kelas pun menjadi hening kembali.
"Iya, Pak," kata Wida begitu sampai di depan kelas.
"Kau dipanggil bu Shinta," kata pak Bram dengan ketus. "Belakangan ini kau sering sekali ya, dipanggil guru." Mata pak Bram menatap tajam Wida.
Wida hanya tertunduk malu.
"Pergi sana! Mengganggu saja!" omel pak Bram mengusir Wida.
Dan Wida pun megikuti Eko, berjalan ke arah pintu lalu keluar dari kelas.
Asti memandang kepergian sahabatnya dengan sedih. Ia merasa Wida akan mendapat masalah besar karena foto itu. Andai saja ia dapat membantu Wida mengatasi masalahnya...
Wida berjalan di samping Eko tanpa bersuara. Berkali-kali ia tampak menghela napas, untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Prima sudah ada di ruang BK," kata Eko tiba-tiba, yang membuat mata Wida melebar. "Tadi pak Anton datang ke kelas kami. Entah bagaimana ia bisa memiliki foto yang sama, dan menunjukkannya pada bu Shinta."
Wida merasa tubuhnya mendadak lemas. Langkahnya melambat, membuat Eko berpaling melihatnya.
"Kenapa?" tanya Eko.
Wida terdiam. Ia menghentikan langkahnya.
"Aku merasa bersalah pada Prima," katanya pelan. "Padahal jelas-jelas hanya aku yang terlihat. Tapi.. mengapa di sangkut pautkan dengan Prima? Kenapa ia juga di panggil?"
Eko menghela napas. Ia pun ikut berhenti.
"Itu bukan kesalahan Prima atau dirimu, jika memang kalian tidak berbuat salah. Jangan khawatir, aku dan Asti akan mendukung kalian," kata Eko menenangkan Wida. Lalu ia mengajak Wida untuk kembali berjalan ke arah ruang BK.
Eko mengetuk pintu ruang BK yang tertutup rapat.
"Masuk!" terdengar suara pak Anton menyuruh mereka masuk.
Eko membuka pintu. Tampak Prima yang tengah duduk di hadapan pak Anton yang juga duduk dikursinya, yang di batasi oleh meja. Ia lalu masuk dengan diikuti oleh Wida yang berada di belakangnya.
"Duduklah," perintah pak Anton pada Wida sambil menunjuk ke kursi di samping Prima dengan anggukkan kepalanya.
Dengan rasa gugup, Wida duduk di samping Prima. Ia tahu bahwa Prima sedang menatap dirinya. Namun ia tidak berani menoleh karena pak Anton juga sedang mengawasinya.
Tak berapa lama kemudian bu Shinta pun datang. Ia langsung berjalan ke arah pak Anton dan berdiri disampingnya. Diletakkannya kertas foto yang sedang jadi pembicaraan mereka di meja. Wida melirik ke foto itu dengan pandangan sedih. Ternyata orang yang mengancamnya tidak tanggung-tanggung menjalankan ancamannya, sampai-sampai ia berani mengirim gambar itu ke guru.
Bu Shinta menyuruh Eko mengambilkan kursi untuknya. Setelah ia duduk, ia lalu menyuruh Eko untuk kembali ke kelas. Dan Eko pun keluar dari ruang BK.
Ruang BK kembali hening. Prima dan Wida hanya terdiam menunggu pak Anton dan bu Shinta berbicara. Namun kedua guru mereka juga terdiam, hanya memperhatikan kedua murid yang ada di hadapannya.
Pak Anton menghela napas.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanyanya menggantung. "Apa yang akan kalian lakukan sekarang? Foto ini ternyata sudah di ketahui banyak siswa lainnya. Mungkin sebentar lagi akan menyebar ke para guru dan bahkan ke kepala sekolah. Dan bila sudah sampai disana.. Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa orang tua kalian akan Bapak panggil."
Wida yang mendengarnya langsung menegang, matanya pun melebar karena terkejut dengan keputusan pak Anton. Berbeda dengan Prima yang masih tampak tenang.
"Lagian... kalian, sih.. kenapa sih, kalian bisa datang kesana?" kata bu Shinta dengan nada merendahkan. "Belum saatnya kalian mendatangi tempat seperti itu."
Mendengar perkataan bu Shinta, Prima langsung menatapnya. Ia tidak suka dengan nada bicara gurunya itu.
"Mereka tidak seperti itu," kata pak Anton angkat suara seolah membela Prima dan Wida. "Prima sudah menceritakan, mengapa mereka ke sana."
Bu Shinta menoleh ke arah pak Anton.
"Oh ya? Lalu untuk apa mereka kesana?"
Pak Anton mengubah posisi duduknya agar lebih santai.
"Katanya, mereka hanya menumpang ke toilet."
"Apa? Kenapa harus kesana? Memangnya tidak ada tempat lain?" kata bu Shinta kembali menatap dua muridnya yang diam tertunduk.
"Saya juga sudah berkata seperti itu tadi..." kata pak Anton menanggapi perkataan bu Shinta.
"Benar, kalian hanya ke toilet? Bukan yang lain?" tanya bu Shinta menatap Wida yang sedari tadi hanya tertunduk.
Wida mendongak.
"Iya.. kami.. hanya ke toilet..." kata Wida gugup.
"Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa tanya resepsionis disana," kata Prima mendukung ucapan Wida.
Bu Shinta menghela napasnya seakan lega mendengar penuturan Wida dan Prima.?
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Ibu percaya pada kalian. Kalian anak-anak yang berprestasi, tidak mungkin kalian akan melakukan kebodohan. Apalagi di kelas tiga ini. Beberapa bulan lagi kalian akan lulus dan meninggalkan sekolah ini. Jadi jaga citra sekolah kalian ini dengan baik," nasihat bu Shinta panjang lebar.
Tiba-tiba wajah bu Shinta tampak serius. "Tapi... Ibu bingung, siapa yang telah mengambil gambar kalian, saat kalian masuk kepenginapan itu? Sepertinya ada yang tidak suka pada kalian.."