Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CVI : Kita Masih Berteman...


__ADS_3

Babak ke empat berakhir. Tim Prima kalah tipis. Soni terlihat marah sambil membanting botol kosongnya ke lantai.


"Aku bilang beri aku bola! Tapi malah di abaikan! Lihat! Tim kita jadi kalah!"


"Bagaimana mau memberimu bola, kau dijaga tiga orang. Beberapa kali kau gagal menembak karenanya," kata Eko sambil menahan emosi. "Kau juga bermain kasar. Kalau ada masalah pribadi jangan kau bawa di pertandingan!"


Prima yang mendengarnya hanya terdiam. Ia tahu Soni telah bertindak kasar padanya saat dipertanding, dan ia pun mencoba menahan emosinya tadi.


"Kekalahan ini sepenuhnya bukan salahku. Kau Prima, kenapa juga saat bertanding harus keluar dari pertandingan. Katanya jangan bawa masalah pribadi, apa itu bukan masalah pribadi juga? Menghampiri pacar saat bertanding," kata Soni sambil tersenyum sinis.


Hampir saja Prima terbawa emosi saat mendengar perkataan Soni, kalau saja Wida dan yang lainnya tidak datang.


"Semangat!" teriak Asti menyemangati Prima dan yang lainnya. "Kekalahan awal dari kemenangan... "


"Kalian sih, pakai ribut-ribut tadi," kata Iwan asal ceplos, "jadi kalah deh kita. Harusnya bantuin doa."


"Siapa yang ribut?" kata Asti dan Sifa hampir bebarengan. Keduanya pun tak menyangka kalau akan berkata hal yang sama. Sekilas mereka saling tatap dan tak lama saling membuang muka.


Eko yang melihat ulah pacarnya hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Yah sudahlah. Sudah kalah mau di apain lagi. Ayo kita ke warung es kelapa. Aku dan Prima traktir," kata Eko sambil menggandeng Prima. Prima yang sudah reda emosinya, hanya diam mengikuti Eko.


Wida yang dari tadi hanya diam, mengikuti rombongan dari belakang bersama Asti dan Uli. Soni yang melihatnya, mengambil kesempatan untuk mendekatinya.


"Hai..." sapanya. "Lama tidak bertemu."


Wida menoleh dan tersenyum. Kepalanya mengangguk pelan mengiyakan. Asti dan Uli melihat sekilas, dan kembali mengobrol.


"Kau... tidak marah padaku, kan?" tanya Soni pelan.


"Kenapa aku harus marah padamu?" Wida menjawab sambil tersenyum kecil.


"Aku menghindari semua... bukan kau saja. Aku sedang intropeksi diri kemarin. Aku menghindarimu, karena aku tidak mau kau salah paham. Perasaanku padamu, hanya sebatas teman, tidak lebih. Hanya karena itu saja." Wida berkata hati-hati berusaha agar Soni tidak tersinggung perasaannya.


"Ooh..." terdengar nada kecewa dari suara Soni. "Tapi kita masih berteman, kan? Kau tidak akan menghindariku lagi?"


"Ya... kita berteman. Aku tak akan menghindarimu lagi," jawab Wida sambil tersenyum manis.


Prima yang digandeng Eko celingukan mencari Wida. Saat dilihatnya Wida dibelakang bersama Soni, dirinya langsung panik. Hatinya yang dibakar cemburu membuat dirinya ingin segera berlari ke Wida. Namun Eko mencegahnya.

__ADS_1


"Biarkan saja. Kau percaya sama Wida, kan? Mungkin Wida sedang mengklarifikasi masalah yang terjadi selama ini. Jangan terlalu posesif. Kalau Wida kabur lagi kamu mau? Lagian ada Asti dan Uli disana," kata Eko bijak.


Walau Prima menghela napas dengan kesal, namun diturutinya juga nasihat sobatnya itu. Dan wajahnya tetap menoleh kearah Wida dengan pandangan cemburu.


Sifa yang sedari tadi memang sudah kesal pada Wida memperhatikannya dengan pandangan sinis.


"Kau lihat," bisik Sifa pada Nina, "padahal pacarnya yang sok perhatian itu ada di depannya. Tapi ia malah jalan dengan Soni. Apa ia tidak memikirkan perasaan Prima, ya?"


Nina yang hanya diam mendengar bisikkan Sifa, menoleh sekilas ke arah Wida.


"Biar saja, bukan urusan kita," jawabnya acuh.


"Iya, sih... bukan urusan kita. Tapi mestinya ia jaga perasaan Prima, dong. Memangnya kau tidak lihat tadi, bagaimana sikap Prima saat membela Wida? Heh! Memang seharusnya kau yang jadi pacar Prima. Kau yang lebih pantas!" hasut Sifa, sambil melirik untuk melihat ekspresi Nina.


Nina walau terlihat acuh, namun hatinya termakan omongan Sifa. Yah... mengapa Wida tidak menjaga perasaan Prima? batinnya. Ia tahu bagaimana sifat Prima jika memiliki sesuatu. Prima sangat posesif. Ia pasti marah jika miliknya disentuh oleh oeang lain yang tidak disukanya. Apalagi ini, pacarnya...


Akhirnya rombongan yang sudah kehausan itu sampai juga di warung es kelapa yang tidak jauh dari sekolah mereka. Masing-masing membentuk grup sendiri dalam mencari tempat duduk. Nina dengan Sifa dan Anin, Wida dengan Asti dan Uli, dan Prima dengan tim basketnya.


Namun tiba-tiba Prima berdiri dan menghampiri Wida. Ditariknya tangan Wida agar mengikutinya.

__ADS_1


Wida yang tiba-tiba tangannya ditarik, mau tidak mau mengikuti Prima yang membawanya ke bangku lain. Dan saat sudah duduk, tanpa basa-basi Prima pun bertanya, "Tadi... kalian bicara apa?"


__ADS_2