
Pak Anton yang mendengar penuturan bu Shinta, tampak berpikir keras. Agak sulit juga mencari siapa orang yang tidak suka terhadap Wida, karena ia tahu, Prima merupakan idola para siswi di sekolah ini. Pastinya ada banyak yang cemburu dengan hubungan mereka.
"Bisa siapa saja," kata pak Anton sambil mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoinnya.
"Apa... sekolah kita ada cctv-nya, Pak?" tanya Wida tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya.
"Heeii.. diam-diam kau pintar juga, ya!" kata bu Shinta senang, karena akhirnya ada jalan keluar untuk menemui pelakunya.
"Bagaimana Pak? Bukankah ada cctv di depan kantor kita?" tanyanya pada Pak Anton.
Pak Anton manggut-manggut membenarkan ucapan bu Shinta.
"Ya... kita bisa minta tolong pak Samin untuk mengeceknya nanti."
Prima dan Wida tersenyum lega. Ternyata ada manfaatnya juga bila guru mengetahui masalah mereka.
"Tapi kalian jangan senang dulu. Karena masalah ini sudah tersebar luas, ada kemungkinan kepala sekolah akan mengetahuinya juga. Jadi kalian harus siap, bila nanti di panggil lagi," kata pak Anton mengingatkan.
"Untuk sementara, kalian kembali saja dulu ke kelas. Nanti bapak atau bu Shinta, akan mengabari perkembangan selanjutnya bila kami sudah menemukan pelakunya. Dan ingat, jangan cerita ke siapa-siapa dulu, masalah cctv ini, ya," kata pak Anton mengakhiri interogasinya.
__ADS_1
Bu Shinta pun mengangguk setuju.
"Yah, kalian kembali saja ke kelas. Kami percaya kalian anak-anak yang baik. Kami akan berusaha menjernihkan masalah ini. Kalian tenang saja."
Prima mengantar Wida kembali ke kelasnya. Dilihatnya wajah Wida yang sepertinya masih tampak khawatir.
"Kau tidak usah cemas. Pak Anton dan bu Shinta akan membantu kita untuk mencari pelakunya," katanya menghibur Wida.
Namun Wida hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Prima. Pikirannya masih mencerna kalimat pak Anton yang mengatakan, 'ada kemungkinan kepala sekolah akan mengetahuinya'.
Wida mendesah cemas. Ya... benar juga... batinnya, bagaimana bila kepala sekolah tahu? Apa yang akan terjadi padanya? Pada Prima? Hhh...
"Masuklah," perintah Prima pada Wida. "Nanti aku akan datang lagi saat jam istirahat."
Wida hanya menatap Prima sekilas, lalu menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah Prima. Dengan lesu di bukanya pintu kelas. Sebenarnya ia malas untuk kembali ke kelas. Ia bisa membayangkan bagaimana temannya akan memandang dirinya nanti.
Di dorongnya pintu agar terbuka. Belum juga ia melangkah masuk kedalam kelas, ia merasakan semua mata tampak tertuju padanya. Dengan langkah gontai, ia pun masuk.
Suara kasak-kusuk langsung terdengar dari langkah pertamanya. Sampai-sampai pak Bram yang masih mengajar pun harus memukul-mukul penghapus papan tulis ke meja. Setelah menyapa pak Bram yang tengah duduk di kursi guru, Wida langsung menuju ke bangkunya dengan mengabaikan pandangan temannya.
__ADS_1
Dari jauh Asti sudah tersenyum menyambutnya. Wida yang melihatnya langsung merasa kuat kembali. Yah... untung sahabatnya itu selalu mendukungnya dalam situasi apapun.
Asti langsung memberi jalan pada Wida untuk duduk di bangkunya yang berada dipojok. Ia membiarkan Wida untuk menenangkan dirinya tanpa bertanya apa-apa. Dan Wida yang memang masih galau hanya terdiam dalam duduknya.
Setelah memastikan Wida baik-baik saja, Prima langsung menuju ke kelasnya. Tidak beda jauh dengan Wida, teman-teman sekelasnya juga langsung kasak-kusuk begitu Prima mulai masuk ke dalam kelas.
Dihempaskannya tubuhnya dengan pelan begitu ia tiba di bangkunya. Ia merasa tubuhnya amat lelah saat itu. Hhhh... desahnya panjang. Eko yang mendengarnya langsung menoleh ke arahnya.
"Bagaimana?" tanyanya. "Apa semua baik-baik saja?"
Prima mengangguk.
"Ya, sepertinya kita akan segera menemukan pelakunya. Bu Shinta dan pak Anton akan mencarinya melalui cctv sekolah," kata Prima pelan, seakan takut ada yang mendengar.
"Aaah.. benar! Cctv sekolah!" pekiknya tertahan, yang membuat Prima langsung mengangkat telunjuknya dan meletakkannya diatara kedua bibirnya. Eko langsung mendekap mulutnya.
"Maaf...!" katanya dengan suara yang pelan kembali.
Nina mendesah lega saat melihat Prima kembali dan tampak baik-baik saja. Ia tidak peduli apa yang terjadi dengan yang lainnya, asalkan Prima tidak apa-apa. Sebenarnya ia ingin menghampiri Prima dan menanyakan keadaannya. Namun dipendamnya hasratnya, karena ia tahu Prima tak lagi membutuhkannya seperti dulu...
__ADS_1