Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXXIV : Ancaman Yang Menjadi Nyata...


__ADS_3

Prima sedang mengerjakan tugas rumah yang belum ia selesaikan kemarin. Karena semalam ia langsung tidur begitu sampai dirumah, setelah dari rumah Wida.


Eko tampak tergesa memasuki kelasnya. Begitu ia sampai dibangkunya, ia langsung duduk dan menepuk pundak Prima keras. Prima menoleh sambil meringis kesal karena kelakuan Eko yang tiba-tiba itu.


"Apa, sih?! Sakit tahu!" katanya kesal sambil mengusap pundaknya yang tadi di tepuk Eko.


"Ini!" kata Eko sambil menyerahkan foto yang tadi ia lepas dari mading. "Apa kau sudah tahu?"


Prima meraih foto tersebut. Matanya melebar saat melihatnya.


"Apa ini?" tanyanya terkejut. "Dimana kau mendapatkannya?"


"Kau benar tidak tahu? Aku mendapatkannya dari mading. Dan sudah banyak dilihat oleh siswa lain," kata Eko menerangkan. "Tapi... itu kau, kan? Yang bersama Wida?" tanyanya lagi penasaran.


"Memangnya kau pikir siapa?" tanya Prima kesal dengan pertanyaan Eko.


Tiba-tiba wajah Prima menegang.


"Wida!" serunya, ia mendadak teringat akan Wida. "Dimana dia? Apa dia sudah tahu?"


"Entahlah, tapi Asti sedang mencarinya," kata Eko menenangkan Prima yang tampak cemas.


Prima mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Dihubunginya Wida segera. Dan tak berapa lama Wida pun menjawab panggilannya.


"Kau dimana?" tanya Prima langsung dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Aku di kantin," jawab Wida, "ada apa?"


"Kau jangan kemana-mana! Aku akan kesana." kata Prima dan langsung mematikan ponselnya.


"Aku ke kantin dulu. Wida ada disana," katanya sambil berjalan melewati Eko, dan kemudian berlari menuju ke kantin.


Wida yang memang tidak tahu kalau dirinya ada di mading tadi pagi, merasa aneh. Ia melihat anak-anak lain yang makan di kantin tampak kasak-kusuk begitu melihat dirinya. Wida merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


Ada apa ini, batinnya. Apa ia melakukan kesalahan?


Wida melihat kearah pintu masuk kantin. Tampak Prima yang berjalan dengan cepat ke arahnya, dan langsung duduk disampingnya begitu ia sampai. Wida mengerutkan alisnya saat dilihatnya wajah Prima yang tampak cemas.


"Ada apa?" tanya Wida heran.


"Kau... kau tidak apa-apa?" Prima malah balik bertanya.


"Memangnya ada apa dengan aku? Aku baik-baik saja..."


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja," potong Prima. "Kau sudah selesai, kan? Ayo kita kembali ke kelasmu."


Prima berdiri, ia lalu menarik tangan Wida untuk segera mengikutinya. Wida yang bingung dengan sikap Prima yang menurutnya agak aneh, mau tidak mau berdiri dan mengikuti langkah Prima. Mereka keluar dari kantin dengan di iringi tatapan dan bisik-bisik yang tak jelas, dari anak-anak yang sedang jajan di kantin.


Wida yang sepertinya mulai menyadari kalau memang dirinya yang sedang di gunjingkan oleh mereka, merasa semakin risih.


"Prima.. apa ada yang salah dengan aku?" tanyanya dengan berbisik pada Prima. "Kenapa aku merasa kalau mereka sedang membicarakan aku, ya?"

__ADS_1


Prima menghela napas. Sepertinya ia sedang mencoba untuk menahan emosinya.


"Biarkan saja. Kau tidak usah memikirkannya. Nanti mereka bosan sendiri."


"Tapi... sebenarnya... apa yang sedang terjadi? Apa yang mereka bicarakan?" tanya Wida penasaran.


Prima tidak menjawab pertanyaan Wida. Tangannya yang menggandeng tangan Wida, tampak menggenggam erat.


Wida melirik kearah Prima. Dari paras wajah Prima yang mengeras, ia tahu, kalau Prima sepertinya sedang marah. Marah? Batin Wida. Marah dengan siapa? Apakah dirinya? Ia tidak merasa berbuat salah. Tapi kenapa ia marah...


Wida tenggelam dengan pikirannya sendiri, dengan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya ia hanya diam, membiarkan Prima yang menarik tangannya, dengan wajahnya yang terlihat kesal.


Saat mereka lewat, tampak semua mata tertuju pada mereka. Dengan berbisik-bisik yang entah ditujukan pada Wida atau Prima. Perkataan Prima untuk mengacuhkannya, sepertinya tak bisa Wida jalankan. Tetap saja ia merasa tak nyaman dan resah melihatnya. Hatinya terlalu sesitif, tidak setegar Prima yang benar-benar tampak acuh.


Mereka sampai di kelas Wida. Asti yang ternyata sedang bersama Eko, langsung berdiri begitu melihat mereka datang.


"Wida... kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Wida begitu Wida sampai dan duduk di bangkunya.


Wida tidak menjawab. Matanya menatap ketiga orang yang ada di depannya dengan pandangan heran. Lalu ia juga melihat ke sekeliling kelas, dan mendapati kalau teman-teman sekelasnya juga sedang melihat kearahnya.


"Sebenarnya... ada apa, sih?" tanya Wida bingung, menatap bergantian pada Prima, Eko dan Asti.


Namun ketiganya hanya terdiam. Asti sebenarnya ingin bicara, namun Eko tadi sudah melarangnya. Eko mengatakan biar Prima saja yang berbicara dengan Wida.


Prima sebenarnya tidak tega melihat Wida yang tampak bingung dengan keadaan disekelilingnya. Namun ia lebih tidak tega lagi, untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

__ADS_1


"Kau tahu, penelepon gelapmu itu?" akhirnya Prima pun mengatakannya," sepertinya ia telah melakukan ancamannya..."


__ADS_2