
Dengan kesal Prima meninggalkan ruang tamu, meninggalkan ibunya yang duduk sambil tersenyum karena merasa menang atas dugaannya yang tepat mengenai kemana Prima semalam. Prima berjalan kearah kamarnya yang ada di lantai dua. Anak tangga di lompatinya dua-dua sekaligus. Sesampainya di kamar ia segera mencari ponsel dan kunci vesvanya. Namun dua benda yang di carinya itu sepertinya tidak berada di kamarnya. Tas dan meja belajarnya berantakkan, bahkan laci nakasnya juga di keluarkan semua isinya, namun ia tidak menemukan kedua benda itu.
Sambil mendengus kesal Prima kembali keluar dari kamarnya. Tanpa turun kebawah ia berteriak memanggil mbok Uti.
"Mbok!" teriaknya lantang dari pagar pembatas lantai atas. Semua yang ada di lantai bawah mendengar teriakkannya. Mbok Uti yang sedang di dapur langsung ke ruang makan, di mana ia bisa melihat Prima langsung dari sana.
"Apa, Den?" tanyanya sambil mendongak ke atas di mana Prima berada.
"Ponsel dan kunci motorku... Mbok Uti lihat tidak?" kata Prima sedikit berteriak karena takut mbok Uti tidak mendengar.
"Maaf, Den, ada sama Ibu..." jawab mbok Uti, yang kemudian kembali kedapur tanpa menunggu jawaban Prima.
Prima yang memang sudah kesal semakin kesal. Lalu dengan cepat ia kembali menuruni tangga dan kembali keruang tamu, dimana ibunya masih duduk disana.
"Mamih!" serunya kesal. "Kenapa ponselku ada di Mamih?"
Ibu Prima menoleh keputranya dengan wajah datar.
"Untuk sementara Mamih sita, sampai kau berangkat besok," jawabnya santai dan kemudian kembali melihat kemajalah yang ada ditangannya, mengacuhkan Prima yang tampak semakin geram dengan tindakkannya.
"Tapi aku perlu ponselku, Mih! Aku ingin menghubungi teman-temanku, kalau aku memang berangkat besok!" alasan Prima mencoba meyakinkan ibunya.
"Tidak perlu. Kau bisa mengabarinya nanti, jika kau sudah berada di Jogja," jawab sang ibu tanpa menoleh.
Prima akhirnya menyerah, dan tanpa bicara apa-apa lagi, ia berjalan hendak kembali kekamarnya. Sebelum menaiki tangga tiba-tiba ia berhenti seakan menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah kamar yang ada di sebelah ruang makan. Kamar adiknya, Dewi. Bibirnya tersenyum kecil dan wajahnya pun kembali ceria. Sepertinya ia menemukan ide untuk masalahnya.
Tanpa mengetuk pintu kamar adiknya, Prima langsung menerobos masuk, dan langsung mendapat pelototan dari mata sang adiknya.
"Mau apa sih, Kak?! Main masuk saja! Ketuk pintu dooong!" sembur Dewi kesal. Rupanya ia merasa terganggu karena lagi vc dengan temannya.
Prima mendekati adiknya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya, sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan kencang-kencang... nanti Mamih dengar.." katanya setengah berbisik.
"Kakak pinjam ponselmu, ya?"
__ADS_1
Dewi yang sedang vc langsung mematikan ponselnya.
"Mengganggu saja!" gerutunya. "Memangnya ponsel Kakak kemana?"
"Disita Mamih.." jawab Prima sambil duduk di pinggir ranjang.
"Kok bisa?" tanya Dewi heran.
Prima hanya mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Dewi.
"Kakak hanya mau menghubungi kak Wida," kata Prima menjelaskan.
"Tapi aku tidak punya nomer kak Wida," kata Dewi lagi sambil menyerahkan ponselnya pada Prima.
"Tapi ada nomer kak Eko, kan?" Prima langsung mencari kontak Eko di ponsel Dewi.
"Ko... kirim aku kontak Wida ke nomer ini ya," katanya pada Eko begitu tersambung. "Sudah, tidak usah banyak tanya. Nanti aku ceritakan, sekarang toling kirim saja dulu kontak Wida." Sepertinya Eko menanyakan apa yang terjadi pada Prima.
Tidak perlu menunggu lama, Eko sepertinya langsung mengirim kontak Wida. Dan Prima langsung menghubungi kekasihnya itu. Namun sayang, berapa kali Prima menghubungi Wida, tampaknya Wida tidak menjawab panggilannya...
Langkah Wida terlihat gontai saat ia meninggalkan kafe. Nina yang lebih dulu meninggalkannya, cukup membuat ia terpukul dengan kata-katanya yang cukup kasar baginya. 'Hubungan liar', kata Nina. Ia sungguh tidak habis pikir mengapa Nina mengatakan itu padanya. Memangnya, apa yang telah ia dan Prima lakukan sehingga Nina mengatakan perkataan yang cukup menohok hatinya itu? Walau hampir beberapa kali mereka melewati batas, tapi mereka berhasil mencegah hal yang dapat merugikan mereka terjadi. Lalu... apanya yang 'liar'?
Wida merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Setelah ia membuka ponselnya, betapa terkejutnya ia setelah melihat begitu banyaknya panggilan dari nomer yang tidak ia kenal. Nomer siapa ini? Batinnya. Ternyata ada pesan masuk juga dari nomer yang sama.
'Ini aku, Prima. Aku sementara pakai ponsel Dewi. Ponselku di sita Mamih', pesan yang ditulis Prima.
Wida mendesah. Akhirnya... ada akibatnya juga dari pertemuan mereka semalam, batinnya. Apakah ia harus menelepon balik? Tapi tadi Nina bilang, orang tua Prima ingin ia menjauhi anaknya. Tapi jika ia tidak menelepon balik ia takut Prima akan khawatir padanya. Lama Wida berpikir.. dan akhirnya ia pun melakukan panggilan...
Dewi berlari menuju kamar Prima dengan langkah tak bersuara. Ia tidak ingin ibunya tahu, kalau ia membantu kakaknya agar dapat berhubungan dengan Wida. Tanpa mengetuk pintu Dewi menyeruak masuk.
"Kak!" serunya sambil mendekati Prima yang sedang tiduran di ranjangnya. "Kak Wida!" Dewi menyodorkan ponselnya.
Prima dengan cepat bangun dan duduk diatas tempat tidurnya, setelah ia menerima ponsel dari Dewi. Dan dengan satu gerakan ia menjawab panggilan Wida.
"Halo Wida!" katanya bersemangat menjawab panggilan kekasihnya yang ia tunggu-tunggu dari tadi. "Kau dimana?"
__ADS_1
"Aku diluar," jawab Wida, "ada apa kau meneleponku?"
"Apa kau bersama Nina?" tanya Prima langsung.
Wida yang menelepon sambil berjalan, langsung menghentikan langkahnya. Rupanya Prima tahu kalau ia ketemuan dengan Nina, batinnya resah. Berarti benar, kalau Nina memang disuruh orang tua Prima untuk menemuinya.
"Iya, tadi aku bersama Nina. Tapi kami sudah berpisah dari tadi."
Wajah Prima terlihat kesal.
"Apa yang kalian bicarakan. Apa ia menanyakan tentang pertemuan kita tadi malam? Apa ia bilang Mamih aku yang menyuruhnya menemuimu? Kau baik-baik saja, kan?" cecar Prima.
Wida hanya terdiam mendengar pertanyaan Prima yang beruntun. Hhh.. desahnya. Ia bingung harus menjawab apa, ia takut, kalau salah bicara akan membuat masalah Prima semakin besar.
"Wida... kenapa kau diam saja?" terdengar suara Prima yang sedikit panik karena Wida tidak menjawab.
"Aku baik-baik saja. Nina hanya menyampaikan pesan orang tuamu, kalau aku harus menjauhimu," jawab Wida pelan.
Prima sepertinya sedang berpikir disana, karena lama juga ia terdiam. Wida menunggu dalam diam.
"Lalu... apa kau akan menuruti kehendak orang tuaku?" tanya Prima setelah terdiam. Sepertinya ia menyerahkan keputusan pada Wida tentang permintaan orang tuanya.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" Wida balik bertanya. "Apa aku harus menurutinya?"
Prima yang masih duduk diatas tempat tidurnya tampak terdiam mendengar pertanyaan balik dari Wida. Ia sengaja membiarkan Wida untuk mengambil keputusan. Ia ingin tahu, apakah Wida ingin bertahan pada hubungan mereka, bila mereka terpisah nanti.
"Kau... kau mencintaiku, kan?" tanya Prima dengan nada ragu. Entah mengapa tiba-tiba ia ingin tahu bagaimana perasaan Wida padanya selama ini. Hatinya pun tiba-tiba berdebar saat menunggu jawaban dari Wida.
Wida terdiam. Entah mengapa tiba-tiba matanya terasa panas. Dan tanpa disadarinya, air matanya mulai menggenang disana.
"Kenapa kau menanyakan itu?" katanya lirih. "Apakah selama ini kau menganggap aku main-main denganmu?"
Prima tercekat saat mendengar suara Wida yang begitu lirih. Apa ia menangis?
"Bukan... bukan itu maksud aku. Kau tahu aku sayang kamu... cinta kamu... aku hanya ingin kita bertahan. Kalau kau juga sayang dan cinta aku... kita bisa abaikan apa yang Mamih aku inginkan.." Tampaknya Prima sedikit menyesali pertanyaannya.
__ADS_1
"Kau ada dimana? Aku akan datang ketempatmu..."