Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXII : Cemburumu..


__ADS_3

Nina yang hampir menangis karena kesal atas perlakuan Prima, berjalan cepat menuju keluar gedung sekolah. Sifa dan Anin menunggunya di depan gerbang sekolah.


"Kau kenapa?" tanya Sifa heran melihat mata Nina yang sepertinya akan menangis, "Wida menyakitimu?"


Nina menggeleng. Ditahannya air mata yang akan menetes di pipi dengan menarik napas lalu menghebuskannya dengan pelan. Udara yang masuk kerongga dada seakan menyapu semua sesak yang ada.


"Bagaimana? Kita pulang?" tanya Sifa.


"Aku menunggu seseorang.." jawab Nina. Matanya mengawasi anak-anak yang keluar dari gedung sekolah. Sifa menghela napas.


"Aku dan Anin beli es dulu ya.." katanya seraya menarik tangan Anin.


Nina masih melihat ke arah anak-anak yang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sesekali ia tersenyum atau melambai jika ada yang menyapanya. Saat Soni melintas di hadapannya, Nina menarik tangannya.


"Soni!" panggilnya, "aku mau bicara.."


"Ada apa?" tanya Soni bingung, karena tidak biasanya Nina bicara dengannya.


"Kau... bukankah kau menyukai Wida?" tanya Nina seraya menatap Soni dengan serius.


"Bukan urusanmu!" Soni menepis tangan Nina yang masih memegangnya.


"Aku hanya ingin minta tolong," kata Asti penuh harap, "jauhkan Wida dari Prima! Aku... aku menyukai Prima. Aku tidak ingin bila Wida dekat dengan Prima."

__ADS_1


Soni menatap Nina dengan pandangan tak suka.


"Kenapa tidak kau lakukan sendiri," kata Soni. "Kalau kau memang menyukai Prima, kau saja yang jauhkan Prima dari Wida." Soni melangkahkan kakinya meninggalkan Nina.


Nina mengejar Soni. Ia ikut berjalan disamping Soni.


"Masa kau tak mau berjuang untuk mendapatkan Wida. Aku lihat, sepertinya Wida tidak serius dengan Prima."


Soni menghentikan langkahnya. Rupanya ia terpengaruh dengan perkataan Nina.


"Kau jangan asal bicara," katanya, "mereka saling suka."


"Prima yang menyukai Wida.. Wida, tidak." Nina makin menghasut Soni. "Aku tahu bagaimana Wida. Ia gampang luluh.. kulihat ia cemas padamu tadi, saat mendengar kau berkelahi dengan Prima."


Prima mengantar Wida pulang. Dan seperti biasa, ia menurunkan Wida di depan gang rumahnya. Wida menyerahkan helm yang dipakainya ke Prima.


"Terima kasih ya.." katanya, "maap... aku tak bisa mengajakmu masuk kerumahku."


"Tidak apa-apa.. " jawab Prima, " masih ada lain waktu."


Wida pun pamit. Namun baru akan balik badan Prima menahan tangan Wida.


"Tunggu!" katanya. "Ada yang mau aku tanyakan.. aku penasaran, kenapa tadi kau memegang tangan Soni?" tanyanya serius sambil mengerutkan alis.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Wida balik.


"Tadi waktu di taman.."


Wida mengingat-ingat. "Oooh.. itu.." katanya terputus, "tidak kenapa-kenapa.."


"Lalu kenapa kau pegang tangannya?"


" Aku hanya melerai.." jawab Wida.


"Itu saja?" selidik Prima


Wida mengangguk.


"Tapi kok pegangnya lama amat.."


Wida mendelik. Sepertinya ia baru menyadari kecemburuan Prima.


"Au aah.." katanya kemudian sambil melepaskan pegangan Prima dan melangkah pergi.


"Hei!" teriak Prima sebelum Wida menjauh. "Jangan sembarang pegang lagi, ya?!"


Wida hanya melambaikan tangannya. Prima tersenyum melihatnya. Dipakainya helm dan ia pun berlalu pulang.

__ADS_1


Dengan perasaan senang Wida melangkahkan kakinya. Walau hari ini terasa berat baginya, namun ia senang bisa melaluinya bersama Prima. Yah.. seberat apapun, bila bersama orang yang kita sukai.. semua akan terasa ringan dan menyenangkan.


__ADS_2