Romansa SMA

Romansa SMA
BAB VIII : Sampai Jumpa Besok...


__ADS_3

Pertandingan pun usai.. Dan pemenangnya adalah tim Prima. Rupanya pertandingan itu memakai taruhan dan setiap tim bertaruh tiga ratus ribu rupiah. Prima yang sebagai kapten tim mengajak tim dan pendukungnya yaitu Anin, Nina dan Sifa...juga Wida untuk makan bakso dibelakang sekolah mereka, sebagai perayaan kemenangan tim mereka. Dan semuanya setuju kecuali Wida. Karena rumah Wida yang paling jauh di antara mereka. Wida takut nanti ibunya akan marah bila ia pulang terlambat.


"Sebentar saja.." bujuk Prima. "Iya...sebentar saja...aku juga harus pulang cepat kok.. Mau yaaa..?" bujuk Anin yang juga mendukung Prima. Yang lain melihat ke arah Wida dengan pandangan membujuk berharap Wida setuju. Wida pun kalah.. Dan akhirnya mengangguk setuju..


"Iya deh.." katanya, "Gak pake lama ya..."


"Yeeeii!" sorak yang lain senang.


Eko dan yang lain segera berlalu menuju keluar gedung SMA Harapan. Prima dan Wida mengikuti di belakang. Sepertinya Prima masih memikirkan kejadian yang dilihatnya tadi saat ia bertanding. Kejadian dimana Wida asik berbincang dengan salah satu murid SMA Harapan dan membuatnya gagal fokus dalam pertandingan.


"Tadi... siapa?" akhirnya terlontar juga rasa ingin tahunya dari mulutnya.


"Apaan?" Wida tidak mengerti maksud Prima.


"Yang ngomong sama kamu tadi.. Kamu kenal?" tanya Prima antusias.

__ADS_1


"Oooh.. itu.." jawab Wida, "Tora.. teman SMP ku. Ternyata dia masuk SMA Harapan."


"Kenal dekat?" Prima menyelidik.


"Tidak juga.." Wida menjawab sambil melirik ke Prima. Sepertinya ia sadar kalau ada nada tidak suka dalam pertanyaan Prima.


"Teman biasa saja.." jawabnya untuk meyakinkan Prima. "Baguslah.." Prima puas dengan jawaban Wida. "Ayo cepat.. nanti yang lain menunggu."


Prima menarik tangan Wida untuk bergegas.


"Sudah.." jawab Eko, "tinggal kalian berdua aja."


Prima mencarikan tempat kosong dibangku panjang yang tersedia untuk mereka berdua. Menyuruh Wida duduk dan setelah itu memesan bakso dan es teh untuknya dan Wida. Lalu kembali dan duduk di samping Wida.


Mereka makan sambil ngoceh ngalor ngidul. Tertawa-tawa bersama, bercanda dan kadang teriak-teriak gak jelas. Terlihat bahwa menyenangkannya masa remaja yang sepertinya tanpa beban...dan waktu pun berlalu tanpa terasa.

__ADS_1


Dengan perut kenyang mereka keluar dari warung bakso. Perasaan senang dan puas terpancar di wajah mereka. Prima membagi rata sisa uang taruhan kepada timnya. Lumayanlah...buat ongkos. Dan mereka pun akhirnya berpisah ke arah tujuan masing-masing. Eko yang rumahnya berdekatan dengan Prima bertanya apakah Prima mau bareng dengannya atau tidak.


"Tidak...aku mau antar Wida dulu.." jawab Prima dan meninggalkan Eko untuk menyusul Wida. Eko hanya mengangkat bahu, lalu ia pun berlalu ke arah yang berlawanan.


"Aku bisa pulang sendiri," kata Wida begitu Prima sampai di sampingnya.


"Aku antar.." balas Prima sambil menarik Wida agar berjalan lebih dekat disampingnya. Wida sepertinya sedang malas berdebat. Dibiarkannya Prima berjalan disisinya untuk mengantarnya pulang. Sesekali Prima menarik Wida untuk menghindari orang yang datang dari arah depan mereka agar tidak tertabrak. Dan saat akan menyebrang di genggamnya tangan Wida erat. Wida menatap tangannya yang di genggam Prima...dan ia membiarkannya.


Angkot yang biasa di tumpangi Wida datang. Wida bergegas naik dan Prima mengikutinya di belakang. Mereka memilih duduk di pojok, karena tujuan mereka sampai ke terminal. Suasana pun tampak canggung, apalagi saat Prima semakin dekat duduknya dengan Wida karena angkot yang penuh. Wida menyembunyikan rasa canggungnya dengan menatap keluar jendela yang ada di sampingnya.


Tibalah mereka di terminal. Wida bernapas lega saat turun dari angkot. Ia masih harus nyambung naik angkot lagi. "Sampai sini saja.." katanya pada Prima, "hari sudah sore.. nanti kamunya terlambat sampai rumah."


"Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?" tanya Prima yang sepertinya tidak rela kalau Wida harus pulang sendiri.


Wida mengangguk. "Sudah ya.. itu angkot aku sudah datang.." Wida pun segera berlari mengejar angkotnya seakan takut Prima akan mengikutinya lagi.

__ADS_1


Prima menatapnya sambil menghela napas cemas. "Oke.." gumamnya, "... sampai jumpa besok."


__ADS_2