Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CV : Hati Yang Sakit...


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Semua menoleh ke arah suara yang mereka kenal. Prima! Semua terdiam, hanya Asti dan Sifa yang masih saling tatap dengan penuh emosi.


"Ada apa, As?" tanya Prima lagi karena tidak ada yang menjawab.


"Tidak ada apa-apa..." jawab Nina sambil menarik mundur Sifa. "Kau lanjut saja bertanding."


Prima menatap Nina sekilas. Lalu ia menoleh kearah Wida yang terlihat diam karena menahan emosi.


"Kau tidak apa-apa, Wida?" tanya Prima lembut. Wida yang terdiam hanya menatap Prima, lalu menggelengkan kepalanya. Prima menghampiri Wida.


"Benar, kau tidak apa-apa?" Prima penasaran, karena dilihatnya wajah Wida yang begitu kesal.


"Berlebihan banget kamu, Prim!" seru Sifa emosi." Memangnya kami apain Wida, sampai kau tanyakan seperti itu?"


"Sifa!" kata Nina tertahan sambil menyentak tangan Sifa. "Sudah, ah! Jangan seperti itu!"


Para pemain tampak menghentikan pertandingannya saat melihat ada keributan di tempat penonton. Iwan yang ditunjuk Prima untuk menggantikannya, tampak kebingungan karena tidak tahu apa yang terjadi.


"Ada apa, sih?" tanyanya pada Rudi.


"Biasa... istri tua sama istri mudanya Prima lagi ribut," jawab Rudi asal sambil tersenyum.

__ADS_1


Eko yang mendengarnya juga ikut tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Bisa aja kau, Rud."


"Bagaimana ini? Apa mau dilanjut pertandingannya?" tanya Wisnu salah satu pemain dari SMA Harapan.


"Kita lanjut," jawab Eko langsung memimpin pertandingan, menggantikan Prima.


Soni masih belum bergerak. Ia masih memperhatikan kejadian ditempat penonton, dimana ada Wida disana. Ternyata hati kecilnya masih mencemaskan Wida.


"Son!" panggil Eko menyadarkannya. "Ini!" Eko mengoper bola ke Soni, dan mau tidak mau Soni menerimanya dan langsung melanjutkan pertandingan.


Situasi masih memanas di tempat penonton. Sifa tidak memperdulikan tegoran Nina.


"Wida juga sudah menjawab pertanyaanmu, kok! Kamunya aja yang nyolot!" Asti tak kalah mengamuk.


"Siapa yang nyo..." belum selesai Sifa bicara Nina langsung menarik Sifa agar meninggalkan tempat Wida dan kembali ke bangkunya.


Asti pun yang tanpa aba-aba juga kembali kebangkunya dengan kesal. Uli yang dari tadi menahan napas karena tegang melihat adegan adu mulutnya Asti, menghembuskan napasnya dengan lega.


Prima masih berdiri di depan Wida yang telah duduk kembali. Ia masih berat hati untuk meninggalkan Wida, karena dilihatnya wajah Wida yang masih terlihat kesal.


Wida yang merasa risih dengan keberadaan Prima di depannya, mencoba mengusir Prima.

__ADS_1


"Sudahlah, kau kembali ke pertandingan, aku benar-benar tidak apa-apa," kata Wida sambil melihat ke arah Prima sekilas. Rupanya ia tidak ingin menjadi orang yang mengganggu jalannya pertandingan.


"Ya udah... Aku kesana dulu, ya..." kata Prima, kemudian meninggalkan Wida dan kembali ke pertandingan.


Sifa yang ditarik oleh Nina tadi, masih merasa kesal.


"Kenapa sih kau tarik aku?!" katanyan pada Nina. "Harusnya kau juga tegur dia. Kau tidak lihat perlakuan Prima padanya? Datang-datang menanyakan keadaan Wida..! Memangnya kita apain dia? Bikin kesal saja!"


"Bukan begitu," jawab Nina pelan. "Aku tidak mau mengganggu jalannya pertandingan. Kau lihat, Prima sampai datang memisahkan kita. Kan dia kapten timnya, masa malah ngurusin keributan seperti tadi."


"Halaah.. Prima datang juga karena Wida! Dia takut pacarnya di bully sama kita. Dasar si Prima! Memangnya dia pikir kita ini apa? Dan tadi... apa dia menegurmu? Memandangmu saja tidak! Teman macam apa itu."


Nina terdiam. Sifa benar. Prima sepertinya tidak perduli padanya tadi. Jangankan menegur, melihatnya pun hanya sekilas. Benar-benar hatinya telah tertutup oleh Wida. Nina merasa nyeri di dadanya, serasa sakit, tapi tidak tahu dimana tepatnya...


Pertandinga telah memasuki babak ketiga. Soni sepertinya mengacuhkan nasihat Prima untuk bermain secara tim. Berkali-kali ia berusaha menguasai bola sendirian. Ia pun bahkan berkali-kali dengan sengaja menabrak atau menyenggol Prima, hingga Prima hampir terjatuh.


Padahal prediksi Eko benar, bahwa lawan menaruh beberapa pemain untuk menjaga Soni. Sehingga gerakan Soni tidak leluasa. Dan akhirnya tim Prima kehilangan banyak poin.


"Kalau begini terus tim kita bisa kalah," kata Edi disela pertandingan pada Prima.


"Kalau begitu, jangan kasih bola ke Soni. Kasih ke yang bebas saja," perintah Prima. Edi mengangguk tanda mengerti. Dan sampai babak ketiga berakhir Soni sama sekali tidak mendapat bola...


#maap ya...tersendat-sendat ngirim episodenya.. mohon dukungannya..biar makin semangat nulisnya😊

__ADS_1


__ADS_2