
Prima yang ditarik tangannya oleh Wida merasa kesal. Disentaknya pelan tangan Wida agar melepas tangannya. Ia juga menyentak tangan Eko yang memegangi tangan satunya.
"Memangnya kalian kira aku banteng, apa, hingga kalian pegangi seperti itu," gerutu Prima kesal.
Eko hanya nyengir melihat sahabatnya yang mengomel.
"Makanya... jadi orang jangan gampang emosi. Dikit-dikit mau main hajar saja," kata Eko sambil menepuk bahu Prima.
"Maaf... aku hanya tidak ingin kalian berkelahi lagi..." Wida merasa bersalah.
"Memangnya karena siapa aku seperti ini?" kata Prima pura-pura kesal. "Bukannya kau yang bikin keputusan agar kita putus sementara?"
Wida terdiam. Asti yang melihatnya merasa iba. Didekatinya Wida lalu di rangkulnya sohib terbaiknya itu.
"Sudahlah. Tidak usah di bahas lagi. Kita pulang saja," kata Asti menengahi.
Prima melirik ke arah Wida. Ia melihat Wida yang tertunduk karena merasa bersalah. Tiba-tiba Prima mendapat cara bagaimana ia akan mengakhiri sandiwara 'putus sementara'nya ini.
"Kalau mau putus, putus sekalian. Jangan pakai sementara," kata Prima memancing emosi Wida dengan membahas masalah diantara mereka, "jadi aku tidak akan peduli bila ada yang mencoba mendekatimu."
Wida terkejut dengan perkataan Prima yang tiba-tiba itu. Begitu juga Eko dan Asti.
"Hei, Bro! Jangan begitulah... ini kan bukan salah Wida," kata Eko menenangkan Prima.
Wida yang tidak menyangka kalau Prima akan berkata seperti itu, merasa kecewa.
__ADS_1
"Kau... marah padaku?" tanyanya pelan.
"Aku bukannya marah. Aku hanya lelah dengan sandiwara kita. Aku tidak suka dengan 'putus sementara' hubungan kita ini," kata Prima tanpa menatap Wida. Aah.. Andai saja Wida tahu, betapa beratnya ia mengatakan ini... batinnya.
"Kau tahu aku tidak suka bila ada yang mendekatimu. Apalagi Ryan, yang jelas-jelas menyukaimu dari dulu. Bahkan sebelum aku. Entah siapa lagi nanti yang akan mendekatimu, karena yang mereka tahu kita sudah putus."
Prima melirik Wida yang tampaknya memikirkan perkataan Prima.
"Besok aku, Eko dan yang lainnya, ada tanding basket di SMA Harapan. Kalau kau ingin mengakhiri 'putus sementara' kita ini, kau datanglah," putus Prima, membuat Wida semakin sedih.
"Baiklah... aku pulang duluan. Kau hati-hati di jalan, ya."
Prima benar-benar pergi meninggalkan Wida. Asti yang melihat sikap Prima pada Wida hanya menggelengkan kepalanya. Eko saja yang kenal baik bagaimana Prima, juga merasa heran dengan sikap Prima yang menurutnya berubah jadi aneh begitu.
"Sudahlah... " kata Asti berusaha menghibur Wida, "kau jangan pedulikan perkataan Prima. Ia hanya sedang cemburu saja. Kau tahukan betapa protektipnya Prima padamu?"
Sepanjang perjalanan pulang Wida benar-benar diam seribu bahasa. Asti dan Eko yang pamit saja tidak digubrisnya. Hatinya serasa sakit dengan perkataan Prima. Ia tidak menyangka keputusannya putus sementara, akan jadi bumerang baginya. Ia sungguh tidak percaya bahwa Prima akan bersikap seperti itu padanya.
Sesampainya dirumah, Wida langsung ke kamarnya. Mengacuhkan ibunya yang berteriak memanggilnya dan mengunci pintu kamarnya. Dilemparnya tasnya dengan sembarang, lalu dihempaskannya dirinya ketempat tidur, dan menangis disana dengan wajah di tutupi bantal...
Prima ternyata tidak langsung pulang kerumah. Ia mampir kerumah Eko yang ternyata belum sampai di rumah. Lama ia menunggu Eko. Sampai-sampai ia tertidur dikamar itu.
Eko tiba dirumahnya sore hari. Saat dilihatnya Prima yang tertidur dikamarnya, ia pun membangunkannya.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku pulang sore. Kenapa kau masih menungguku?" kata Eko begitu Prima bangun.
__ADS_1
"Memangnya kau kemana sih, sampai selama ini?" tanya Prima sambil mengucek matanya.
"Aku menemani Asti ke Astro," jawab Eko sambil duduk di kursi belajarnya menghadap Prima.
"Kau sungguh keterlaluan tadi," kata Eko membahas masalah sepulang sekolah, "apa kau tidak berpikir kalau Wida akan sakit hati?"
Prima tersenyum.
"Bagaimana aktingku tadi? Bagus, kan? Terlihat nyata, kan?"
"Apa maksudmu?" tanya Eko tidak mengerti.
"Bukankah kau yang suruh aku untuk cepat menyelesaikan masalahku dengan Wida? Yah... itulah tadi caranya."
Eko mengerutkan alisnya masih tidak mengerti.
Prima menghela napas kesal melihat Eko yang masih belum paham juga.
"Aku tadi sengaja berbuat seperti itu pada Wida, agar ia mengakhiri putus sementara ini. Agar ia mengerti, kalau aku sudah lelah, dan ingin mengakhiri semuanya."
"Hadweh... Aku kira kau serius tadi saat kau berkata seperti itu," kata Eko akhirnya mengerti.
"Gila! Mana tega aku berkata seperti itu padanya! Kau tahu aku sangat menyayanginya," kata Prima sambil melempar bantal ke arah Eko.
"Tapi... bagaimana bila Wida menanggapinya dengan serius? Apakah kau akan menerima konsekuensinya?"
__ADS_1
Prima terdiam. Benar juga! Batinnya, ia tidak memikirkan ini sebelumnya... Bagaimana bila Wida menanggapinya dengan serius...
"Ingat... Wida orangnya sangat sensitif loh..." kata Eko, membuat Prima galau...