
Ponsel Wida kembali berbunyi, spontan matanya langsung tertuju pada layar ponselnya. Asti! Dengan cepat Wida mengangkatnya.
"As..!" katanya dengan suara yang terdengar senang. Ia tahu sahabatnya itu selalu bisa diandalkan.
"Kau ada dimana?" tanya Asti langsung tanpa basa-basi.
"Aku..." Wida tidak melanjutkan perkataannya. Matanya melihat ke arah Ryan yang sedang menatapnya seakan tak ingin Wida memberitahukan keberadaannya.
"Aku.. aku ada di rumah," jawab Wida berbohong.
Tapi Asti dan Eko yang masih di parkiran tahu, bahwa Wida tidak ada di rumahnya. Asti langsung mengomel kesal.
"Kau jangan berbohong! Aku tahu kau tidak ada dirumah. Asal kau tahu, Prima sedang ke rumahmu sekarang!"
Eko dengan isyarat menyuruh Asti untuk menanyakan keberadaan Wida.
"Katakan padaku, kau ada dimana?" kata Asti dengan nada ketus.
Tanpa menjawab pertanyaan Asti Wida langsung mematikan ponselnya. Mendengar Prima sedang menuju ke rumahnya, wajahnya berubah panik.Ia pun langsung berdiri.
"Kenapa?" tanya Ryan bingung karena Wida yang tiba-tiba berdiri.
"Prima sedang ke rumahku. Aku harus pulang..." kata Wida lalu meraih tasnya dan berjalan keluar rumah.
Ryan yang tak ingin Wida bertemu Prima langsung mengejarnya, lalu memegang lengan Wida untuk menghentikannya.
"Telepon saja," kata Ryan menyarankan. "Tidak akan keburu bila Kakak pulang sekarang."
Wida berhenti.
"Tidak, aku harus pulang. Bila Prima sampai lebih dulu, ibuku pasti akan bingung," Wida kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Aku akan antar Kakak," kata Ryan kembali menahan Wida dengan memegang lengannya. Ia tampak memanggil seseorang dari arah dalam rumah dan menyuruhnya untuk mengambil kunci sepeda motor. Dan tak lama kemudian wanita paruh baya yang tadi menyajikan minuman untuk Wida keluar, ia menyerahkan kunci yang dimaksud pada Ryan.
"Ayo!" katanya sambil menarik tangan Wida.
Di jalan Prima merasakan ponselnya yang berdering berulang-ulang, namun ia mengabaikannya. Ia ingin segera sampai ke rumah Wida. Hatinya merasa cemas karena mengkhawatirkan Wida.
Saat sampai didepan rumah Wida ia mematikan motornya. Sebelum turun dari motor, diambilnya ponselnya yang ada di saku celananya. Di periksanya panggilan yang ternyata dari Eko. Dengan cepat ia pun menghubungi Eko.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
"Kau ada dimana? Apa sudah sampai di rumah Wida?" tanya Eko cepat.
"Iya... ini aku sudah ada di depan rumah Wida," jawab Prima sambil melihat ke rumah Wida yang tampak sepi.
"Wida belum pulang. Tadi Asti menelepon ibunya, katanya ia belum sampai ke rumah," kata Eko membuat Prima terperangah.
"Lalu ia kemana? Apa Asti tahu?" Prima tampak cemas.
Panggilan pun terputus. Prima lalu mencoba lagi menghubungi Wida. Berdering... cukup lama, namun Wida tidak mengangkatnya. Akhirnya Prima mematikan panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya.
Prima memilih untuk menunggu Wida di atas Vespa merahnya. Pikirannya yang terasa penuh malah membuatnya merasa kosong. Berkali-kali ia menghela napasnya, seakan sedang membuang sesak yang menggantung di dadanya.
Tidak berapa lama ada motor matic besar berhenti di depannya. Seorang pemuda... dan Wida! Mata Prima langsung melebar karena terkejut melihatnya. Mulutnya pun menggumamkan nama Wida pelan. Prima beralih ke sosok pemuda yang membonceng Wida. Sesaat ia tidak mengenali sosok pemuda itu, karena helm yang menutupi kepalanya.
Dan betapa terkejutnya, ia saat pemuda itu membuka helmnya. Ryan! Kenapa bisa dia? Batinnya. Ia pun turun dari vespanya dan langsung menghampiri Wida yang juga baru turun dari boncengan Ryan.
Prima tampak gusar.
"Kenapa kau bisa bersamanya?" tanyanya dengan mata melihat tajam ke arah Ryan yang sedang turun dari motornya.
Wida menatap Prima dengan takut.
__ADS_1
"Aku bertemu dengannya di jalan," kata Wida gugup.
Ryan menghampiri Wida dan Prima.
"Jangan salah paham, aku memang bertemu dengan kak Wida di jalan," Ryan mendukung perkataan Wida dengan tatapan menantang pada Prima. Ia merasa kasihan melihat Wida yang tampak gugup karena takut Prima akan salah paham.
Prima terdiam sesaat. Ia sepertinya bingung mau bicara apa, karena tidak salah kalau mereka bertemu di jalan. Lalu ia berpaling ke arah Wida.
"Apa kau akan selalu ikut, bila kau bertemu dengan orang lain di jalan?" tanyanya kesal pada Wida.
Wida tersentak dengan pertanyaan Prima yang tampak protektif pada dirinya. Wajahnya semakin tegang karena merasa tersudut dengan sikap Prima.
Ryan yang melihatnya langsung membela Wida.
"Aku yang memaksa kak Wida. Karena aku melihat, sepertinya kak Wida sedang sedih," kata Ryan sambil menatap Wida penuh perhatian.
Prima yang memang dari awal tidak menyukai Ryan, tampak cemburu saat melihat tatapan Ryan pada Wida. Ditariknya tangan Wida agar mendekat padanya. Dan Wida hanya diam menurut, saat tangannya di tarik oleh Prima.
"Sekarang kau sudah tidak ada urusan lagi. Pulanglah!" Prima mengusir Ryan.
Ryan menatap sinis pada Prima, ia tidak terima dengan sikap Prima yang mengusirnya. Tapi ia tidak ingin Wida terkena masalah karena dirinya.
Ryan maju melangkah mendekati Prima.
"Aku tahu masalah foto itu.. kau telah membuatnya terlibat dalam masalah. Bila masalah ini membuatnya terluka, aku tak akan tinggal diam!" Ancam Ryan setelah berdiri di depan Prima dengan mata yang penuh amarah.
"Kau tenang saja! Aku akan bertanggung jawab dalam masalah ini!" tantang Prima.
"Baguslah! Tapi kalau kau tidak bisa bertanggung jawab.. maka lepaskanlah dia!"
Ryan melirik sekilas ke Wida seakan pamit. Lalu ia berjalan ke motornya, menghidupkannya, dan tanpa menoleh lagi, ia pun berlalu meninggalkan Wida dan Prima..
__ADS_1