
Prima melihat pintu pagar rumah Wida terbuka. Tampak Wida berlari kecil menuju kearahnya, sambil tersenyum. Tapi entah mengapa kali ini ia begitu kesal saat melihat Wida. Apakah ia mulai termakan omongan Nina?
Senyum Wida menghilang. Wajahnya yang gelisah membuat Prima goyah dan menyesal telah membutnya seperti itu. Tidak, batinnya. Ia harus bertahan dengan sikapnya. Ia harus tunjukkan bahwa ia tidak suka kalau Soni bisa dengan bebas kerumahnya.
Pertanyaan Wida yang terlontar dari bibirnya yang mungil tak langsung di jawabnya. Dan Wida terlihat semakin gelisah.
Prima menghela napas.
"Apakah aku harus senang, saat melihat cowok lain datang kerumahmu?" tanya Prima akhirnya. "Sedangkan aku... kau larang untuk masuk kerumahmu." Nada bicara Prima terdengar kesal.
Wida menatap Prima. Belum pernah Prima sekesal ini padanya. Disentuhnya tangan Prima untuk mendinginkan hatinya yang mungkin sedang panas.
"Aku juga tidak ingin dia datang..." katanya pelan, "tapi bagaimana... ia sudah ada disana saat aku tiba."
"Kau... menyukainya, ya?" tanya Prima dengan wajah penuh selidik.
Wida terdiam. Entah mengapa ia merasa yang bertanya bukan Prima, melainkan Nina. Wida menarik tangannya yang menyentuh tangan Prima. Apakah Prima mulai termakan omongan Nina?
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Wida balik bertanya. "Kau tidak percaya padaku?"
Prima terdiam.
__ADS_1
"Aku hanya takut kau goyah..." kata Prima kemudian.
Wida menghela napas.
"Aku tidak semudah itu goyah... kau sudah mengikatku selama 2 tahun. Masa kau tidak yakin?" kata Wida lembut meyakinkan Prima.
"Entahlah..." jawab Prima datar. "Bukan sekali aku melihatmu bersama Soni. Bahkan kau juga pernah kencan bersamanya. Jadi, wajar kan jika aku meragukanmu?"
Wida menatap Prima dalam. Ia bingung mau bicara apa untuk membela dirinya. Karena apa yang dikatakan Prima tidaklah salah. Wida menggigit bibir bawahnya, ia mulai menyerah dengan sikap Prima kali ini.
"Lalu... kau mau aku buat apa agar kamu yakin?" tanyanya sedikit kesal, "aku tidak mungkin mengusir Soni dari rumah ku."
Prima mendesah pelan. Sebenarnya hatinya bersorak senang saat Wida merasa bersalah padanya dan menanyakan apa yang ia inginkan. Karena dengan begitu, Wida pasti akan menuruti kemauannya.
Wida terdiam. Sepertinya ia terkejut dengan permintaan Prima. Tapi mau bagaimana lagi... sepertinya ia harus menuruti keinginan Prima supaya kembali yakin padanya. Dan tanpa memberi jawaban, ia pun langsung naik ke motor Prima.
Prima diam-diam tersenyum senang. Ditariknya tangan Wida agar memeluknya erat. Dan Wida pun merespon, ia memeluk punggung Prima dengan hangat. Dan tanpa menunggu lama, Prima melajukan motornya.
Soni makan dengan gelisah. Berkali-kali matanya menatap ke pintu ruang tengah, berharap Wida muncul dari sana. Ibu yang melihatnya tersenyum.
"Jangan khawatir, nanti Wida juga kembali... mungkin ia cuma kewarung." kata Ibu menenangkannya.
__ADS_1
Soni yang tahu Wida bukan kewarung, hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Ibu Wida.
Akhirnya ia tidak tahan lagi. Diletakkannya sendoknya diatas piring yang masih terisi separuh nasi dan lauknya.
"Aku keluar sebentar, Bu," katanya kemudian sambil berlalu tanpa menunggu jawaban Ibu Wida.
Setengah berlari Soni keluar dari rumah Wida. Namun sepertinya ia terlambat. Karena ia hanya melihat punggung Wida yang berlalu pergi diatas motor Prima. Sesaat ia terdiam. Tangannya mengepal dengan kencang, dan wajahnya tampak menahan emosi. Dan dengan langkah gontai ia masuk kembali ke dalam rumah Wida.
Prima membawa Wida kerumahnya. Mbok Uti menyambut tuan mudanya dengan ramah.
"Mau makan, Mas?" tanyanya.
"Nanti saja," jawab Prima,"tapi, tolong buatkan minuman saja mbok dan cemilan. Bawa ke kamar ya, Mbok."
Mbok Uti mengangguk, dan langsung kedapur untuk membuat pesanan tuan mudanya.
Prima menggandeng Wida untuk masuk ke kamarnya. Tiba-tiba Wida menghentikan langkahnya saat tiba didepan pintu kamar Prima. Prima ikut berhenti dan menatap Wida heran.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kenapa ke kamar?" Wida balik bertanya, "apa tidak sebaiknya diruang tamu?"
__ADS_1
"Kamu mau di lihat mbok Uti?"
Prima kembali menarik tangan Wida dan masuk ke kamar. Wida yang tidak mengerti maksud omongan Prima terpaksa mengikutinya dengan wajah kebingungan.