
Nina berdiri tertegun. Ia tidak menyangka kalau Wida akan melihatnya. Wida pun sepertinya melambaikan tangannya padanya. Entah mengapa ia merasa tangannya terlalu berat untuk membalas lambaian Wida.
Bagaimana ini? Pikirnya cemas. Wida telah melihatnya! Dan tidak menutup kemungkinan, kalau Wida pasti akan segera bertemu dengan Prima. Tidak! Ia sungguh tidak rela bila Wida bertemu dengan Prima. Setidaknya... tidak secepat ini...
Dengan perasaan kesal, Nina kembali melangkahkan kakinya meninggalkan halaman kampus. Diacuhkannya Wida yang masih berdiri menatapnya di lorong kampus.
Kini pikirannya terpusat pada rivalnya itu. Ia tak habis pikir, bagaimana Wida bisa kuliah di kampus ini. Kampusnya yang merupakan salah satu universitas terbaik di Jogja, dan cukup mahal. Jadi, bagaimana mungkin Wida bisa kuliah disini, dengan kondisi ekonomi keluarganya yang menurutnya pas-pasan itu? Entahlah.. batinnya, menjawab pertanyaannya sendiri...
***
Wida yang sedang berjalan menuju kelasnya, tanpa ia sadari, melewati kelas Prima. Prima yang saat itu sedang termenung, tengah memandang ke halaman kampus melalui jendela kelasnya. Tiba-tiba ia merasa telah melihat sosok Wida berkelebat di balik jendela kelasnya. Segera Prima tersadar dalam lamunannya. Namun saat ia memfokuskan pandangannya, sosok yang menurutnya mirip Wida itu pun menghilang, terhalang oleh orang-orang yang berlalu lalang di depan kelasnya.
Prima mendesah pelan. Ia mengira kalau dirinya mulai berhalusinasi lagi, dengan membayangkan sosok Wida. Perlahan ia menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil memejamkan matanya. Tidak! Batinnya. Aku bisa gila kalau begini! Ini bukan pertama kalinya ia melihat bayang-bayang Wida di kampusnya. Setiap ia melamun, bayangan Wida seakan hadir mempermainkan pandangannya. Apakah ia begitu merindukan Wida, sehingga ia mengganggap orang lain sebagai kekasihnya itu?
Prima membuka matanya kembali, dilihatnya dosen pengajar telah berdiri di depan kelasnya. Kini ia mendesah lega. Entah mengapa ia merasa senang saat melihat dosennya yang telah datang untuk mengajar. Yah...setidaknya ia bisa melupakan Wida sejenak, dengan memperhatikan dosen yang mulai mengoceh menerangkan materi..
***
Nina bergegas keluar kelas begitu melihat pesan yang dikirim Prima melalui ponselnya. Ternyata Prima telah menunggunya di kantin untuk makan siang. Dengan langkah tergesa ia menuju kantin. Namun mendadak langkahnya berhenti, begitu dilihatnya Wida yang entah darimana tiba-tiba berdiri menghadang didepannya.
"Hai, Nin..." sapa gadis yang dibencinya itu sambil tersenyum.
Nina yang sedikit terkejut, terdiam sejenak. Ia yang notabene tidak menyukai Wida, merasa canggung untuk membalas sapaannya. Dan akhirnya ia memilih tersenyum untuk membalas sapaan Wida.
Nina melirik sekilas kearah pemuda yang berdiri di samping Wida. Ia ingat, laki-laki inilah yang dilihatnya bersama Wida tadi pagi. Kak Danu, seorang senior yang cukup populer di kampusnya.
Danu tampak tersenyum ramah saat Nina melihat kearahnya. "Kau kenal dengannya?" tanyanya pada Wida dengan mata yang masih tertuju pada Nina.
Wida mengangguk. "Ya... Kami dulu satu sekolah," jawabnya singkat.
Nina kembali menatap Wida dengan senyum kakunya. "Iya... Kami satu sekolah dulu," timpalnya datar, "Apa kabar, Wida? Lama tidak bertemu.." Di cobanya beramah tamah walau tidak sejalan dengan isi hatinya.
"Baik..." jawab Wida masih dengan senyum di bibirnya.
Sepertinya Danu menyadari kecanggungan diantara mereka. Karena memang percakapan mereka terlihat kaku.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin memperkenalkan Mas dengan temanmu ini?" tanyanya kembali pada Wida mencoba memecahkan kekakuan mereka.
"Oh iya, sampai lupa aku," kata Wida kikuk. "Kenalkan Nin, ini kakak sepupuku yang tinggal di Jogja, Mas Danu.."
Danu yang diperkenalkan mengulurkan tangannya pada Nina. "Danu..." katanya dengan senyum ramah.
Nina pun mengulurkan tangannya menyalami tangan Danu. "Nina..." balasnya kini dengan senyum manisnya.
"Kalian kan sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau kita makan siang bareng?" ajak Danu pada Nina. "Kebetulan kita mau makan diluar.."
Nina yang masih canggung dengan Wida menggeleng cepat. "Tidak, terima kasih, Kak," tolaknya halus, "saya masih ada urusan di TU."
"Oh..." ujar Danu pelan.
"Maaf, saya permisi dulu," pamit Nina sambil menganggukkan kepalanya.
Belum sempat melangkah, Wida menghentikan Nina. "Tunggu!" serunya menahan langkah Nina dengan memegang lengannya. "Ada yang ingin aku tanyakan..."
Nina melihat ke tangan Wida yang sedang memegang lengannya. Matanya terlihat jelas kalau ia tidak suka lengannya di pegang Wida.
Nina terdiam dengan mata menatap Wida. Tatapan yang terlihat jelas kalau ia tidak suka dengan pertanyaan Wida.
"Dia agak kurang sehat beberapa hari ini," jawabnya datar, "jadi ia tidak datang ke kampus."
"Oh... pantas..." gumam Wida.
"Kalau kamu penasaran, kenapa kamu tidak menghubunginya?"
Wida terdiam.
"Apa Prima tahu, kalau kamu ada di Jogja?" tanya Nina menyelidik.
Wida menggeleng. "Belum... Ia belum tahu. Aku berniat untuk memberi kejutan padanya."
Nina manggut-manggut. "Oh.. Begitu..." katanya seolah-olah menyetujui rencana Wida.
__ADS_1
"Kau... Jangan beritahu Prima dulu ya.." ujar Wida penuh harap.
Nina mengangguk pelan. "Baiklah.. Aku tidak akan mengatakannya pada Prima."
"Terima kasih..." kata Wida tulus.
"Oke.. Aku permisi dulu," pamit Nina seraya menganggukan kepalanya pada Danu. Dan dengan langkah cepat ia meninggalkan keduanya.
Sambil berjalan ia melihat jam tangannya. Terdengar dengusan kesal dari mulutnya. Sepertinya ia akan datang terlambat ke kantin, tempat dimana Prima sedang menunggunya. Tak ingin berlama-lama, dipercepatnya langkahnya..
**
Sepeninggal Nina, Danu langsung menoleh ke arah Wida. Ditatapnya gadis itu dengan mata menyipit. "Siapa Prima?" tanyanya dengan nada menggoda.
Wida yang ditanya tampak gelagapan. "Teman," jawabnya gugup sambil menundukkan kepalanya.
Danu tertawa melihat kegugupan Wida. "Teman apa pacar?" godanya membuat wajah Wida memerah.
Tanpa menjawab pertanyaan, Wida bergegas melangkahkan kakinya, meninggalkan Danu yang terbahak karena merasa geli dengan kelakuan adik sepupunya itu.
"Hei...Jawab dong pertanyaan Mas.." kata Danu setelah berjalan di samping Wida masih dengan nada menggoda. "Teman apa pacar?"
"Teman, Mas..." jawab Wida enggan. "Masa pacar..."
"Yah... siapa tahu? Masa gadis semanis dirimu tidak punya pacar?"
"Sudah, ah.. Jangan di bahas.." kata Wida merajuk. Dipercepat langkahnya yang membuat Danu tertinggal lagi.
"Iya... Iya... Mas gak tanya lagi deeeh.." Danu terkekeh sambil mengejar langkah Wida.
***
Prima melihat jam tangannya. Setengah jam lebih ia menunggu Nina di kantin, namun Nina tak kunjung datang. Diambilnya ponselnya dari dalam tasnya.Di kutak-katiknya aplikasi hijaunya untuk melihat kabar orang-orang terdekatnya. Di bukanya satu persatu status sahabat-sahabatnya yang ada di Jakarta. Eko, Robi, Edi, bahkan Sony, semuanya tampak baik-baik saja. Sesekali ia tersenyum saat melihat ulah para sahabatnya itu yang selalu update status.
Saat melihat kontak Wida ia tampak kecewa. Sudah hampir seminggu kekasihnya itu tidak online. Sejak terakhir mereka saling berkomunikasi. Entah nomornya yang di blokir, atau memang Wida benar-benar tidak aktif. Lewat panggilan biasa pun ponsel Wida tidak merespon. Yah Wida benar-benar seperti hilang dalam kehidupannya...
__ADS_1