
Wida benar-benar tidak bisa mengabaikan pikiran teman-temannya tentang dirinya. Ia terlalu malu menghadapi teman-teman sekolahnya untuk saat ini. Baginya, semua mata temannya saat ini seakan sedang menelanjanginya dengan pandangan jijik.
Begitu Prima keluar dari kelasnya karena jam istirahat telah berakhir, ia pun segera meraih tasnya dan beranjak keluar kelas.
Ia berjalan cepat agar tidak berpapasan dengan Asti, yang pasti akan mencegahnya untuk meninggalkan sekolah. Dengan kepala tertunduk dan tanpa pamit ke guru piket, Wida berlari menuju ke gerbang sekolah.
Dilihatnya penjaga sekolah sedang berbincang dengan salah seorang pedagang jajanan yang ada diluar sekolah. Dan Wida pun mengambil kesempatan itu, lalu berlari ke luar gedung sekolah.
Tanpa menoleh Wida berlari di trotoar jalan. Setelah dirasa cukup jauh dari sekolah, ia pun memperlambat larinya. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu harus kemana. Ingin pulang kerumah, tapi ia tidak tahu alasan apa yang akan ia katakan, bila ibunya bertanya kenapa ia pulang. Aaahh.. desahnya pelan.
__ADS_1
Asti setengah berlari menuju kelasnya di antara siswa lain, yang juga berlari menuju kelasnya masing-masing. Walau bell telah berbunyi, ia tetap membeli sebungkus somay dan teh kotak yang akan diberikannya pada Wida.
Sesampainya di kelas, ia bingung mendapati bangku Wida yang kosong. Tadi mereka meninggalkan Wida dengan Prima di kelas. Dan... bukankah tadi ia sempat melihat Prima yang sedang memasuki kelasnya saat ia kembali dari kantin? Lalu dimana Wida? Ia lebih terkejut lagi saat menyadari tas Wida tidak ada di laci mejanya. Apakah Wida ijin pulang? Batinnya bertanya-tanya. Apakah Prima mengetahuinya?
Belum sempat ia berpikir kemana Wida pergi, guru yang akan mengisi jam pelajaran berikutnya telah datang. Dengan cepat Asti duduk dan meletakkan jajanan yang di bawanya untuk Wida di laci. Dan akhirnya pikirannya memutuskan bahwa Wida mungkin ijin pulang, dan Prima mengetahuinya.
Di kelas, Prima tampak masih memikirkan Wida, ia sepertinya tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Sebentar-sebentar diliriknya jam tangannya yang seakan berputar sangat lambat baginya.
Di jalan yang tidak terlalu ramai, tampak Wida berjalan dengan langkah kaki yang cepat, walau ia tidak tahu kemana tujuannya. Kepalanya sedikit tertunduk dengan mata tertuju pada aspal yang ia lalui.
__ADS_1
Pikirannya yang kini mulai tenang, mulai memikirkan siapa orang yang telah mengambil gambarnya dan menempelnya di mading. Satu persatu wajah yang selama ini mengusiknya hadir di kepalanya. Dari Nina yang selama ini tidak menyukainya, Sifa yang juga membencinya bahkan Soni... yang tidak menyukai Prima.
Wida menggelengkan kepalanya pelan. Tidak! Batinnya. Bukan Soni! Kalau Soni, mengapa yang diburamkan wajah Prima? Bukan dirinya? Ini jelas-jelas orang yang mengambil gambarnya adalah orang yang membenci dirinya. Jadi.. bukan Soni.
Langkah Wida yang cepat tiba-tiba behenti. Ia hampir saja menabrak seseorang. Tanpa mengangkat kepala, ia memberikan jalan pada orang itu agar melewatinya. Namun orang itu tidak bergerak. Ia juga ikut berhenti, bahkan ikut bergeser, berdiri kembali menghalangi langkah Wida.
Alis Wida berkerut. Dengan sedikit kesal ia mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang menghalangi langkahnya.
"Ryan!" serunya terkejut saat melihat penghalangnya itu.
__ADS_1
Tubuh Ryan yang tinggi berdiri dengan kokoh menghalangi langkah Wida. Matanya yang tajam menatap datar wajah gadis yang selama ini disukainya. Tatapannya seakan menyimpan banyak pertanyaan disana. Dan tanpa bicara, tiba-tiba ia menarik tangan Wida dan membawanya untuk mengikuti langkahnya...