
Wida menuruti kemauan Prima dan naik ke motor duduk dibelakang Prima. Prima melajukan motornya ke arah jalan raya.
"Kau yakin, kita tidak kesekolah?" tanya Wida yang cemas karena ia tidak pernah membolos.
"Ya.. aku akan tanggung jawab kalau ada apa-apa nanti.." jawab Prima meyakinkan Wida.
Prima menarik tangan Wida agar ia berpegangan erat.
Dengan malu-malu Wida merangkul pinggang Prima. Prima tersenyum. Ditambahnya kecepatan laju motornya dan mau tak mau Wida pun semakin erat merangkulnya. Huft.. nakalnya si Prima..
Ternyata Prima membawa Wida ke Mega mall. Tempat ia mencari Wida kemarin. Namun karena masih pagi , mall belum di buka. Prima mengajak Wida sarapan di warung kopi pinggir jalan yang ada di sekitar mall. Dipesankannya susu putih hangat dan bubur kacang hijau untuk Wida. Sedangkan dirinya memesan roti bakar dan segelas kopi susu.
"Kemarin aku kerumahmu.." kata Prima memulai percakapan. "Tapi kamu tidak ada."
Wida yang tadinya hendak menyuap buburnya menaruh kembali sendoknya. Ditatapnya Prima dengan rasa bersalah.
"Maaf.." katanya.
"Kau kemana?" lanjut Prima.
"Ke mall.."
"Aku juga ke mall.. tapi kamu juga tidak ada disana." Prima menunjuk Mega mall.
__ADS_1
"Bukan kesana.. tapi Grand Plaza.." jawab Wida pelan.
Prima terdiam. Pantas saja.. pikirnya.
"Apa yang kamu lakukan disana"
"Hanya keliling-keliling saja.. ke toko buku.. lalu makan.." Wida mengaduk-aduk buburnya. Ia merasa seperti sedang di introgasi oleh Prima.
"Nonton?" Prima semakin menyelidik.
Tangan Wida berhenti mengaduk. Ditatapnya Prima dengan kesal karena mencurigainya.
"Tentu saja tidak!" jawabnya. "Memangnya kau mau aku nonton dengannya?"
"Aku.. aku hanya merasa bosan saja kemarin. Lagi pula ia temanmu.. jadi kupikir tak apa kalau aku jalan dengannya." Wida menjawab tanpa menatap Prima. Siapa yang berani menatap orang yang lagi cemburu begitu?
"Apa kau harus jalan dengan temanku, kalau mereka mengajakmu jalan?" tanya Prima yang kesal dengan kepolosan Wida.
"Aku sudah pernah bilang, kalau laki-laki.. mengajak jalan perempuan.. pasti ada maunya! Masa kamu lupa?"
Wida makin terdiam. Iya juga sih..pikirnya. Kemarin Soni menunjukkan tanda-tanda seperti yang Prima katakan. Merinding juga ia bila ingat kejadian kemarin.
"Kenapa? Apa Soni melakukan sesuatu padamu?" tebak Prima yang curiga melihat Wida terdiam. Wida terkejut dengan pertanyaan Prima, karena seakan tahu apa yang ada dipikirannya. Dengan cepat ia menggeleng.
__ADS_1
"Tidak.. ia tidak melakukan apa-apa.." sedikit gugup Wida menjawab pertanyaan Prima.
"Benar?" Prima ragu dengan jawaban Wida. Wida mengangguk meyakinkan Prima.
"Awas saja kalau ia melakukan sesuatu padamu.." ancam Prima.
Hheh.. Wida menghela napas pelan. Hampir saja! pikirnya. Jangan sampai Prima mengetahui apa yang terjadi kemarin. Ia tidak ingin pertemanan Prima dengan Soni rusak karenanya. Ia harus menutup mulutnya rapat.. jangan sampai keceplosan.
Wida merasa selera makannya hilang. Bubur yang ada di hadapannya hanya di aduk-aduk saja. Prima yang melihatnya menegurnya.
" Kenapa? Kok tidak dimakan? Tidak enak?" katanya.
"Enak.. aku hanya kenyang saja," jawab Wida pelan. Diambilnya susu puith yang ada dihjadapannya, di minumnya sampai tak bersisa.
"Masih lamakah?" tanyanya setelah meletakkan gelas susunya. Dilihatnya jam tangan mungil yang ada di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam sembilan.
"Sebentar lagi.." jawab Prima.
"Hari ini kau harus menebus kesalahanmu yang kemarin," kata Prima santai.
"Kau akan menemaniku jalan-jalan seperti yang kau lakukan kemarin bersama Soni. Oke?"
Wida menatap Prima.. dan kemudian mengangguk pasrah. Dan Prima tersenyum melihatnya.
__ADS_1