Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXVIII : Ia Tak Lebih Dari....


__ADS_3

"Kau ini kenapa? Masalah Wida lagi?" tanya Eko setelah Pak Bram keluar dari kelas. "Bukankah kemarin semua baik-baik saja?"


Prima menghela napas. "Aku tidak menjemput Wida tadi. Aku menjemput Nina..." kata Prima tanpa menoleh ke Eko.


"Laah... kok bisa? Memangnya kau lupa jalan ke rumah Wida hingga nyasar ke rumah Nina?" sindir Eko kesal.


"Nina sedang sakit, jadi ibunya memintaku untuk menjemput dia," bela Prima yang merasa tindakkannya tidak salah.


"Sampai kapan Nina terus bergantung padamu? Kalau kau terus begitu, kau pacaran saja sama Nina, jangan sama Wida."


Prima menoleh dan menatap Eko kesal. "Jangan ngawur kamu! Sampai kapan pun juga Nina hanya teman bagiku. Tidak lebih dari itu!"


"Kau bilang itu sama Wida, bukan padaku. Aku sih masa bodo! Mau teman atau bukan, itu bukan urusanku. Tapi kalau Wida, apa kau tahu bagaimana perasaannya bila ia tahu?"


Prima tertunduk. "Ia sudah tahu... tadi ia melihatnya saat kami papasan dijalan," kata Prima dengan suara nyaris tak terdengar. Yah... ia juga tahu bagaimana perasaan Wida, karena ia juga mengalami hal yang sama seperti Wida.


"Gila!" seru Eko, "Bagaimana kalian bisa papasan?"


"Tadi ia berangkat bareng Soni," jawab Prima setelah menghela napas.


"Benar-benar ya, kalian..." Eko menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tak habis pikir... sekalian saja kalian bertukar pasangan! Kau dengan Nina dan biarkan Soni dengan Wida!" kata Eko yang sepertinya kesal mendengar cerita Prima.


"Tapi... mengapa Wida mau di bonceng Soni?"

__ADS_1


"Aku yang menyuruhnya. Aku takut dia terlambat, jadi aku bilang padanya agar ikut Soni saja kesekolah..."


Eko hanya menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan jalan pikiran Prima. "Kalau kau seperti itu, berarti kau telah menyerahkan Wida pada Soni."


Jam istirahat pun tiba. Prima merapikan bukunya dan bersiap akan keluar kelas. Tiba-tiba Nina telah berdiri di samping meja Prima. Eko yang masih duduk disamping Prima melihat kearah Nina.


"Ada apa?" tanyanya, karena posisi Eko duduk di pinggir.


"Aku ada perlu sama Prima," kata Nina sambil melihat ke arah Prima yang telah selesai merapikan peralatan tulisnya.


"Ooh.." Eko pun bangun dari duduknya meninggalkan Prima dan Nina.


"Ada perlu apa?" tanya Prima dengan nada enggan.


"Aku mau kekantin. Kau mau ikut?" tanya Nina pelan.


"Untuk apa?" Nina terkejut mendengar alasan Prima menolaknya.


"Kau tidak perlu tahu," kata Prima datar, "kau pergi saja dengan Sifa dan Anin, mereka sepertinya sedang menunggumu." Prima memberitahu dengan menggerakkan kepalanya kearah Sifa dan Anin yang sepertinya memang tengah menunggu Nina. Prima pun bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Nina yang tampak kecewa.


Sifa dan Anin menghampiri Nina.


"Sudahlah..." kata Sifa, "Kau tahu Prima tidak bisa di paksa. Kau harus tarik ulur. Hari ini sudah bagus kau bisa membuat Prima datang menjemputmu. Pelan-pelan saja." Sifa memeluk bahu Nina dan mengajaknya kekantin.

__ADS_1


"Kau tidak ingin kekantin?" tanya Asti pada Wida yang masih mencatat dibukunya.


"Aku mau selesaikan ini dulu," jawab Wida beralasan.


Asti menghela napas. Ia tahu kalau itu hanya alasan Wida saja.


"Baiklah," kata Asti sambil berdiri, "akan aku bawakan saja nanti."


Asti pun berlalu tanpa menunggu jawaban Wida.


Setelah Asti berlalu, Wida meletakkan pulpennya dengan kesal. Lalu ia menelungkupkan kepalanya di meja dengan wajah menghadap tembok.


Bagai layar bioskop, Wida melihat bayangan yang ia lihat pagi tadi ditembok. Dimana Nina duduk dengan nyamannya di boncengan Prima.


Wida memejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan itu. Tiba-tiba dirasakannya ada yang datang dan duduk di sebelahnya.


Saat keluar dari kelas, Asti berpapasan dengan Prima. Mata Asti yang bulat, makin melebar karena melotot pada Prima.


"Kau ini bagaimana sih!" kata Asti kesal setelah menghadang Prima. "Janji tapi tidak di tepati! Malah membonceng Nina yang jelas-jelas saingan Wida. Apa sih maumu? Bubar dengan Wida?!" Suara Asti yang cempreng membuat beberapa mata yang mendengarnya menoleh.


"Jangan keras-keras," kata Prima sambil meletakkan jarinya di kedua bibirnya yang mengerucut.


"Kenapa? Memang benar kan?" Asti masih emosi.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang kalau itu salah paham. Tidak terjadi apa-apa di antara kami," prima mencoba menjelaskan. "Sudahlah... aku mau ke Wida, ia di kelas kan?"


Asti menatap Prima kesal. "Awas saja kalau kau macam-macam dengan Wida!"


__ADS_2