
Eko baru keluar dari toilet. Saat melewati depan kelasnya ia menyempatkan diri melongok kedalam kelas. Dilihatnya Prima masih berbicara dengan Nina. Ia pun melanjutkan berjalan ke arah kelas Wida.
Saat masuk ke kelas Wida ia terkejut dengan kerumunan di pojok kelas, tempat dimana Asti dan Wida duduk. Iwan yang melihat Eko datang, langsung menghampirinya.
"Ko!" katanya setelah berada di dekat Eko. "Sebaiknya kau hubungi Prima! Wida sepertinya sedang di intimidasi! Kau tahu bagaimana seramnya anak perempuan kalau lagi marah!"
Tanpa menunggu lama, Eko merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
'Cepat ke kelas Wida!' ketiknya, 'sepertinya Wida sedang disidang!'
Dan tak lama kemudian Prima pun datang. Setengah berlari ia melewati Eko dan Iwan, menghampiri tempat duduk Wida. Ia mendengar salah seorang anak perempuan yang sedang berbicara.
Mendengar pembicaraan Rina, salah seorang teman sekelas Wida, Prima tampak marah. Ia menyeruak masuk ke kerumunan yang mengerubungi Wida dan Asti.
"Memangnya itu tempat apa?" kata Prima penuh emosi, begitu berada di tengah kerumunan. Matanya menatap nanar pada Rina dan Laras yang berdiri di dekat tempat duduk Wida. Mereka tampak terkejut dengan kedatangan Prima.
"Kalau Kalian tidak tahu apa yang terjadi, tidak usah menduga yang macam-macam!"
Rina dan Laras langsung ciut melihat Prima yang tampak begitu marah. Mereka pun mundur menjauhi tempat Wida.
"Siapa yang tak akan menduga macam-macam, kalau yang di datangi tempat seperti itu..." gumam Laras.
__ADS_1
Prima yang mendengarnya kembali melihat ke arah Laras dengan mata yang melebar.
"Bubar! Bubar!" seru Iwan yang tiba-tiba datang membubarkan teman sekelasnya yang sedang berkerumun itu.
"Apa kalian tidak ada kerjaan, apa? Pengen tahu saja urusan orang!"
Anak-anak yang berkerumun pun membubarkan diri dengan gerutuan yang tak jelas. Laras dan Rina pun juga ikut membubarkan diri dengan wajah yang terlihat kesal.
Prima yang tadi sepertinya sudah akan meledak, kembali reda saat Iwan datang membubarkan teman-temannya. Ia lalu berpaling ke Wida yang masih terdiam.
"Ayo.. kita ke kantin," ajaknya pada Wida.
Asti yang duduk disampingnya tampak ikut sedih melihatnya. Ia pun hanya bisa membelai punggung Wida untuk menenangkan sahabatnya itu.
Lalu ia beranjak bangun dari duduknya, memberi tempat agar Prima bisa berbicara dengan Wida. Prima berterima kasih pada Asti dengan anggukkan kepalanya atas pengertian Asti. Asti lalu mengajak Eko dan Iwan keluar kelas, untuk memberi ruang pada Prima dan Wida.
Prima terdiam sesaat, ia bingung harus bicara apa. Ingin ia membelai punggung Wida, namun takut Wida tidak ingin disentuh. Akhirnya Prima hanya memandangi tubuh Wida dan membiarkannya menangis.
Lama Wida tenggelam dalam tangisnya dan Prima pun dengan sabar menunggunya. Akhirnya tangis Wida berhenti. Namun ia masih menelungkupkan wajahnya, mungkin masih menenangkan dirinya.
Tak lama Wida mengangkat wajahnya, tanpa melihat kearah Prima ia mengambil tasnya dan berdiri.
__ADS_1
"Aku mau lewat," katanya pada Prima dengan suara yang terdengar sedikit serak.
Prima mendongakkan wajahnya. Ia menatap Wida dengan alis berkerut.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau pulang," jawab Wida singkat tanpa menatap mata Prima. Sepertinya ia tak ingin Prima melihat matanya yang sembab.
Prima menarik tangan Wida agar ia kembali duduk.
"Jangan begitu," kata Prima pelan, "apa kata ibumu bila kau tiba-tiba pulang? Kau mau ibumu tahu masalah ini? Biarkan saja, ada aku, Asti juga Eko. Kami akan menjagamu."
Wida yang kembali terduduk, karena Prima menariknya, menatap Prima dalam. Matanya tampak masih memerah karena menangis tadi.
"Aku malu.." gumam Wida pelan. "Semua pasti berpikiran negatif tentang aku... dan kau.."
Prima menghela napas pelan.
"Aku tidak peduli dengan pikiran orang lain," kata Prima sambil menarik tangan Wida lalu menggenggamnya. "Karena aku tidak melakukan kesalahan, begitu juga dengan mu."
Wida meletakkan kembali tasnya. Benar juga kata Prima, batinnya, kalau ia pulang, ibu pasti akan bertanya-tanya kenapa ia pulang. Dan akan mencari tahu kenapa ia pulang. Tapi ia tidak bisa bersikap seperti Prima... mengabaikan pikiran orang lain tentangnya...
__ADS_1