
Prima yang sedang memerankan orang sakit memasang wajah tak berdaya. Ia hanya tersenyum menanggapi sapaan Eko. Begitu juga dengan sapaan Asti dan Wida. Eko menarik kursi belajar yang ada disamping ranjang Prima dan menyuruh Wida duduk disana. Sedangkan Asti dan Eko duduk di pinggir ranjang Prima.
"Bagaimana bro.. sudah baikkan, kah?" tanya Eko pada Prima memulai percakapan.
"Ya pasti sudahlah.. " Asti pun menimpali, "kan obatnya sudah datang.." katanya sambil melirik Wida.. dan tersenyum melihat Wida yang salah tingkah karena godaannya.
Prima yang melihatnya pun tersenyum.
"Terima kasih ya.. sudah mau datang," katanya pada Wida dengan suara yang di buat selirih mungkin. Eko yang melihat tingkah sahabatnya itu menahan tawanya. Pinter juga akting si Prima ini, pikirnya geli.
Wida tersenyum menanggapi perkataan Prima. " Iya.. sama-sama.." jawabnya pelan. Dan mereka pun kembali terdiam karena rasa canggung, hanya mata mereka yang sesekali saling menatap.
Eko yang melihat kecanggungan antara Wida dan Prima menjawil Asti.
"As.." katanya, "kayanya kita cuma jadi pengganggu.. kita ke ruang tamu aja yuk" ajaknya pada Asti dan kemudian berdiri.
Asti yang mengerti maksud Eko pun ikut berdiri. "Iya.. kita di ruang tamu aja.." jawabnya.
"Kita keluar dulu, ya.." pamitnya pada Prima dan Wida.
"Lah.. kok gitu.." kata Wida yang akan ikut berdiri.. namun ditahan oleh Asti dengan menekan pundak Wida.
__ADS_1
"Kamu disini aja.." katanya, "masa orang sakit ditinggal sendiri. Kalian ngobrol aja sepuasnya." Asti mengedipkan mata kirinya pada Wida. Kemuadian ia menoleh ke Prima. "Kami keluar, ya.." katanya, "titip Wida.. " Prima hanya tersenyum.
"Keluar dulu ya, bro.." Eko juga pamit lalu menggandeng tangan Asti dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.
Sepeninggalnya Eko dan Asti, Wida duduk dengan gelisah. Prima yang masih terbaring di balik selimut menatapnya dalam. Wida yang di tatap seperti itu makin tak tenang duduknya. Hatinya menerka-nerka apa arti tatapan Prima. Apakah ia marah padanya karena masalah Ryan? batinnya.
Tiba-tiba tangan Prima terjulur dari balik selimut. Memegang ujung kursi dan menariknya agar kursi yang diduduki Wida lebih dekat ke ranjang. Dan kursi yang beroda itu pun dengan mudah di tariknya. Wida yang terkejut hanya diam tak bisa berbuat apa-apa. Wajahnya yang tampak panik membuat Prima tersenyum.
"Hai.. " sapa Prima lembut. Wida tak menyangka Prima malah menyapanya lembut.. karena ia pikir Prima marah padanya.
"Hai.." balas Wida dengan suara lirih.
"Aku kangen padamu.. " kata Prima sambil meraih tangan Wida. Wida yang merasa risih ingin menarik tangannya.. namun Prima malah memegangnya erat.
Ditatapnya Wida yang masih menunduk itu.
"Aku mencarimu hari itu.. tapi kamu tidak ada.." kata Prima mengungkit kejadian yang telah lewat itu. "Kau tahu.. aku kira kamu sakit.."
Wida mengangkat kepalanya, ditatapnya Prima dengan rasa bersalah.
"Maaf.." katanya lirih, "aku.. aku malu bertemu denganmu hari itu.." Wida terbata.
__ADS_1
"Karena malu.. lalu kamu kabur dengan orang itu?" tanya Prima membuat Wida makin merasa bersalah.
"Itu... bukan aku sengaja.. juga bukan kemauanku.." Wida merajuk.
Prima tersenyum.
"Lalu.. kenapa kamu ikut dengannya?" selidik Prima.
"Ia memaksaku!" Wida membela diri, "aku kira itu kamu yang menarik aku ke taksi.." kata Wida berusaha meyakinkan Prima.
Prima mendesah kesal. Berani sekali anak itu, batinnya.
"Lalu... apa yang ia lakukan padamu?" Prima makin penasaran. Ia tidak rela bila Ryan sedikit saja menyentuh Wida.
Wida menatap mata Prima, terlihat disana bahwa Prima sedang kesal. Aku tidak boleh salah bicara.. batin Wida, ia takut bila Prima marah.
"Ia tidak melakukan apa-apa.. " katanya pelan.
"Tidak pegang tangan kamu?" tanya Prima sambil mengangkat tangan Wida yang di genggamnya.
"Se.. sedikit.." Wida gugup.
__ADS_1
Prima makin kesal. "Mana ada pegang tangan sedikit?" katanya gemas dengan kepolosan Wida. "Apa.. ia menciummu..?"