
Prima juga merasa bahwa hari Minggu kali ini terasa cerah. Setelah bangun dari tidurnya tadi pagi, ia langsung mandi. Air yang dingin terasa sejuk di tubuhnya. Bibirnya pun tak berhenti komat kamit menyanyikan sebuah lagu. Terlihat jelas bahwa hatinya sedang bahagia.
Bagaimana tidak, perasaan yang terpendam selama dua tahun ini akhirnya telah tersampaikan. Rasa sayang yang biasanya ia tunjukkan dengan diam-diam melalui perhatian-perhatian kecil terhadap Wida, kini telah ia utarakan secara terang-terangan. Gayung pun bersambut. Wida akhirnya mau menerimanya menjadi pacarnya, setelah usahanya beberapa hari ini.
Di bukanya lemari baju, dipilihnya beberapa t-shirt yang sekiranya cocok untuk di pakai jalan. Ya.. hari ini ia berniat mengajak Wida jalan. Ia ingin mengajak Wida kencan.. dan memberi tahu arti kencan yang sesungguhnya. Bukan kencan yang telah Wida lakukan dengan si brengsek Ryan. Prima mendengus kesal ketika di ingatnya kejadian itu. Kejadian dimana Ryan memaksa Wida untuk kencan dengannya.
Diraihnya t-shirt putih polos, yang akan di padukannya dengan levis hitam dan jaket kaos yang berwarna hitam juga. Setelah dipakainya ia berjalan kedepan cermin yang ada di atas meja kecil, tempat berbagai macam atribut riasnya. Dari parfum, gel rambut, sisir, hand body bahkan pembersih wajah. Prima memang menyukai kebersihan dan kerapihan.
Setelah ditata rambutnya dengan rapi, ia pun bergaya sebentar didepan cermin. Tersenyum sendiri melihat penampilannya yang dirasa cukup keren. Kemudian berjalan ke rak sepatu, dan disambarnya kets hitam sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Mbok Uti yang melihatnya tersenyum senang, karena tuan mudanya sudah kembali bersemangat. Disiapkannya sarapan pagi Prima dengan cepat.
"Mari mas, makan dulu..biar tambah sehat.." katanya menyambut Prima.
Prima tersenyum. "Terima kasih mbok" jawabnya sambil duduk dan memulai sarapannya.
__ADS_1
"Mau kemana mas.. kok sudah rapi benar, toh?" tanya mbok Uti kepo dengan logat jawanya yang kental.
"Jalan mbok.. kan hari Minggu.. " jawab Prima sambil tersenyum manis.
"Dengan 'non' yang manis kemarin itu, ya.." goda mbok Uti. Prima hanya tersenyum menanggapi godaan mbok Uti.
Vespa merahnya telah siap di halaman rumahnya. Rupanya pak Jafar suami mbok Uti yang telah mempersiapkannya atas perintah istrinya. Disiapkannya helm untuk dipakai Wida nanti, setelah ia memekai helmnya. Setelah dipanasi sebentar, ia pun melaju pergi melewati pak Jafar yang membukakan pintu pagar untuknya.
Prima membawa kendaraannya dengan santai. Ia membayangkan bagaimana ekspresi wajah Wida nanti saat ia datang mengajaknya kencan. Terkejutkah.. senangkah.. aah.. senang rasanya memberi kejutan untuk Wida.
Di ucapkannya salam dengan suara yang cukup keras. Setelah dua kali ia ucapkan salam, terdengar jawaban salamnya dari dalam rumah. Dan tak lama pintu rumah pun terbuka. Seorang wanita seusia ibunya, keluar dari dalam rumah. Mungkin ibunya Wida, pikirnya. Sang ibu itupun tersenyum ramah.
"Cari siapa?" tanyanya.
"Widanya ada, bu?" Prima balik bertanya dengan sopan.
__ADS_1
Ibu Wida memandang Prima dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dirinya heran, siapa lagi anak laki-laki ini? Sudah dua orang anak laki-laki yang mendatangi anak gadisnya hari ini. Dan salah satunya sudah pergi dengannya.
Prima yang di pandangi seperti itu, akhirnya memperkenalkan dirinya.
"Saya Prima, bu.. teman sekolah Wida.." katanya dengan sesopan mungkin.
"Oooh.. " ibu Wida manggut-manggut mendengar perkataan Prima.
"Tapi, Widanya tidak ada.." katanya, "ia sudah keluar tadi, sama anak laki-laki.. Soni, namanya."
Deg! Dada Prima seperti terkena pukulan yang keras begitu mendengarnya. Bahkan ia sampai kehilangan kata-kata. Ibu Wida yang melihat perubahan paras wajah Prima, menawarkannya untuk masuk.
"Mau menunggu didalam?" tanyanya.
Prima menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, bu. Saya pamit saja. Terima kasih.." kata Prima setelah sadar dari rasa terkejutnya, dan berbalik pergi menuju ke motornya.