Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXIII : Apakah Ini Karena Terbiasa...?


__ADS_3

Nina, Sifa, Anin, dan Soni memperhatikan Prima dan Wida yang berdiri di dekat pintu kelas dengan pandangan berbeda. Nina, Sifa dan Anin memandang dengan pandangan kesal, sedang Soni dengan pandangan cemburunya.


Saat Wida mengajak Prima keluar dari kelas, bertambah kesal saja Nina melihatnya. Baginya Prima seakan semakin jauh darinya.


"Apa perlu kita ikut mereka ke kantin?" tanya Anin tiba-tiba mengejutkan Nina.


"Mengapa kita harus mengikuti mereka?" tanya Sifa kesal. "Memangnya kita tidak ada kerjaan, apa?"


"Kali aja.. biar kita tahu apa yang mereka lakukan..." jawab Anin polos yang langsung mendapat jitakan dari Sifa.


"Kau ini... tidak bisa lihat, ya, kalau Nina sedang kesal dengan mereka?" Sifa mendelik kesal pada Anin.


"Maaf..." kata Anin sambil memandang Nina iba.


Nina menundukkan kepalanya.


"Kali ini... aku yang salah. Aku yang telah membuat Prima marah. Aku terlalu ikut campur."


Sifa mengerutkan alisnya bingung.


"Memangnya apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


"Selama ini.. aku selalu melaporkan segala kegiatan Prima pada ibunya. Dan ternyata, ibunya malah memberitahu Prima..." kata Nina pelan. "Aku tidak menyangka kalau hal itu malah jadi bumerang bagiku."


"Kau sampai melakukan itu?" tanya Sifa tidak menyangka kalau Nina berani memata-matai Prima.


Nina mengangguk.


"Aku pikir, ibunya Prima akan mendukungku. Tapi ternyata.. aku hanya disuruhnya menunggu. Menunggu Prima jenuh pada Wida.. dan akan kembali padaku. Tapi kenyataannya..." Wida menghela napas pelan. "Prima malah membenciku."


"Lagian, kenapa ibunya memberitahu hal itu pada Prima? Masa ia tidak tahu kalau itu bisa membuat Prima marah padamu?" kata Sifa sambil beranjak bangun. "Aku lapar... peduli amat pada mereka... aku mau kekantin."


Sifa berjalan kearah pintu diiringi tatapan Anin yang bingung. Anin menatap Nina yang masih terduduk di depannya.


"Kau tidak lapar?" tanyanya pelan.


"Aku disini saja, aku tidak terlalu lapar."


Sifa mencari tempat duduk yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Prima dan yang lainnya berada. Sepertinya ia sengaja mendekati mereka untuk mencuri dengar mereka.


Tak berapa lama Anin datang menyusul dan langsung duduk di samping Sifa. Sifa menoleh kearah Anin.


"Mana Nina?" tanyannya.

__ADS_1


"Katanya ia tak lapar," jawab Anin sambil melihat ke arah bangku Prima. "Ternyata mereka berkumpul. Apa yang mereka bicarakan?"


"Mana aku tahu.." jawab Sifa acuh.


Pak Somad datang mengantar pesanan Sifa. Anin yang memang belum memesan makanan langsung memesannnya pada pak Somad.


"Aku juga pesan yang seperti ini ya, Pak" katanya.


"Iya, Neng," kata pak Somad sambil mengangguk dan kemudian berlalu pergi.


Ternyata Asti menyadari kehadiran Sifa dan Anin. Langsung saja paras wajahnya berubah menjadi kesal. Eko yng melihatnya merasa heran.


"Kenapa?" tanyanya.


Asti tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah Sifa dengan kepalanya. Eko pun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Asti. Prima dan Wida juga mengikuti arah pandangan Eko.


"Kalau begitu, kita jangan bahas masalah ini disini. Karena kita tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan itu pada Wida," kata Prima mengingatkan. Ketiganya pun mengangguk serempak.


Tanpa di ketahui ketiga temannya, sebenarnya perasaan Prima agak sedikit cemas dengan keadaan Nina, karena tidak dilihatnya Nina diantara sahabatnya.


Apakah aku terlalu kejam padanya tadi? Batinnya. Bukannya ia tak melihat wajah Nina tadi pagi saat ia masuk kekelas, dengan mata yang merah karena menangis. Tapi ia hanya mencoba untuk sedikit tidak peduli pada Nina, agar ia tidak terlalu mencapuri urusan pribadinya.

__ADS_1


Tapi kini, mengapa ada sedikit cemas di hatinya, saat ia tidak melihat Nina datang kekantin untuk sekedar jajan? Apakah ini karena ia terbiasa dengan Nina?


__ADS_2