
Prima sedang mengaduk-ngaduk mie di dalam mangkok yang ada di hadapannya. Setelah dirasa mie yang di aduknya telah tercampur dengan baik, ia pun mendorong mangkuk mie tersebut kehadapan Wida.
"Makanlah..." katanya menyuruh Wida, sambil tersenyum manis.
Wida yang sebenarnya agak canggung dengan perlakuan Prima yang sepertinya memanjakannya, hanya mengangguk saat mendengar perintah Prima. Dengan perlahan ia menyantap mienya.
Melihat Wida yang sudah mulai makan, Prima pun juga ikut menyantap mienya dengan mata yang tak lepas dari wajah Wida. Namun tak berapa lama tiba-tiba pandangannya beralih ke belakang Wida. Ke pojok kantin, dimana ada tiga siswi yang sedang berbincang. Nina, Sifa dan Anin. Mata yang tadi memandang mesra seketika berubah menjadi sinis. Rahangnya pun terlihat mengeras menandakan ia sedang kesal.
Wida yang memperhatikan perubahan ekspresi Prima, mengerutkan alisnya karena heran. Ia pun langsung menoleh kebelakang, ke arah pandangan Prima. Dan ia langsung mengerti kenapa wajah Prima berubah kesal.
Wida kembali melihat ke arah Prima, disentuhnya tangan kiri Prima yang sedang memegang garpu.
"Hei..." serunya pelan, "sudahlah... nanti selera makanmu hilang.." Wida menggoyang lembut tangan Prima untuk mengalihkan perhatian Prima.
Prima mendesah kesal. Ditariknya tangannya yang sedang di pegang Wida untuk meletakkan garpu dan sendoknya kembali ke mangkuk, lalu ia bersandar setelah mendorong mangkuk mienya kedepan.
"Selera makanku memang sudah hilang karena melihat mereka," katanya sambil tetap melihat ke tempat Nina berada. "Lihatlah... apalagi yang sedang mereka rencanakan sekarang.."
__ADS_1
Wida pun menarik tangannya dan ikut berhenti makan.
"Kau jangan berprasangka buruk dulu. Aku rasa Nina memang tidak tahu kalau Anin adalah pelakunya. Ia terlihat begitu terkejut kemarin saat kau bilang temannya adalah pelakunya."
Prima menghela napasnya pelan. Matanya kembali menatap Wida dengan sayang.
"Itulah mengapa aku menyukaimu.. kau selalu baik pada siapa saja, bahkan rivalmu."
"Aku tidak pernah menganggap Nina rivalku," kata Wida sedikit merajuk, membuat Prima kembali tersenyum.
"Ya sudah, ayo makan lagi.. nanti keburu masuk," kata Prima yang tidak ingin sarapan Wida jadi terganggu karenanya..
Eko berjalan menghampiri bangku Wida dan Asti. Dua sahabat yang seakan sudah tahu maksud kedatangan Eko, menyambutnya dengan senyuman.
"Biasa.. keruang Bk," kata Eko begitu berada di depan keduanya. Tanpa perlu menunggu lama, mereka pun segera keluar kelas menuju ke ruang Bk.
Ternyata, semua yang terkait dengan kasus foto sudah berada diruang BK. Pak Anton, Bu Shinta, Prima, Nina, Sifa dan juga Anin. Bahkan kepala sekolah juga ada disana, di dampingi Bu Rum yang duduk disampingnya. Semuanya tampak duduk melingkari meja dengan beberapa kursi tambahan yang masih kosong, mungkin untuk Wida, Asti dan Eko.
__ADS_1
Wajah Wida berubah tegang saat melihat kepala sekolah yang sedang duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Setelah memberi salam dan mengangguk hormat, dengan canggung ia masuk lalu duduk di samping Prima, disusul oleh Eko dan Asti yang juga duduk menempati bangku yang masih kosong. Matanya pun sempat beradu pandang dengan mata Prima. Dilihatnya Prima yang tersenyum tipis untuk menenangkannya. Namun Wida yang tampak gugup, hanya menundukkan kepalanya tanpa membalas senyum Prima.
Bukan hanya Wida yang terlihat gugup dan gelisah di ruang itu. Anin lebih terlihat jelas kegelisahannya. Keringat dinginnya membasahi keningnya, dan matanya tidak berhenti mengejap-ngejap karena gugup.
Saat Bu Shinta masuk ke kelas tadi, sebenarnya Anin sudah merasa resah. Apalagi ketika namanya di sebut setelah nama Prima, untuk datang ke ruang BK. Anin merasa sekujur tubuhnya terasa lemas karena takut. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya akan menuaikan hasil seperti ini.
Saat ia menoleh kebelakang dimana Nina dan Sifa duduk, ia melihat kedua sahabatnya itu sedang menatap tajam padanya. Seakan tak percaya bahwa dugaan mereka tentangnya tadi pagi, ternyata benar adanya.
"Kenapa kau dipanggil?" tanya Nina padanya sambil menyentuh bahunya. "Jadi benar kau yang melakukannya?" terdengar nada kecewa pada suara Nina. Sentuhan tangan Nina pun berubah menjadi cengkraman, karena rasa kesalnya pada dirinya. Untung saja ada Sifa yang melepaskan cengkraman tangan Nina pada bahunya.
"Jangan asal bicara," kata Sifa mencoba menenangkan Nina. "Kita belum tahu kebenarannya, apa sebaiknya kita juga ikut ke ruang BK, agar semuanya jelas?"
Dan disinilah akhirnya ia berada dengan kedua sahabatnya, di ruang BK yang entah mengapa udaranya terasa begitu dingin saat menyentuh kulitnya dan membuat dirinya berkeringat dingin..
Berbeda dengan wajah Nina yang tampak kesal, setelah tahu bahwa Anin memang terlibat. Hampir saja ia menyakiti sahabatnya itu, kalau saja tidak di cegah Sifa. Dan ia merasa bersyukur, saat Bu Shinta mengijinkannya ketika ia meminta agar diperbolehkan ikut ke ruang BK dengan alasan sebagai saksi.
Ia pun sengaja memilih duduk disamping Prima, walau Prima tampak tidak mempedulikannya sama sekali. Diliriknya Prima yang sesekali melihat ke arah pintu. Mungkin ia menunggu Wida, batinnya sedikit cemburu.
__ADS_1
Dan benar saja, saat Wida masuk senyum Prima tampak mengembang walau tak terlalu terlihat. Wajahnya yang tadi gelisah pun tampak berubah tenang seketika..