
Nina yang sedang rebahan di atas tempat tidurnya tampak tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya ia sedang senang, karena merasa berhasil membuat Wida jauh dari Prima. Terbayang olehnya kejadian tadi siang, saat dirinya sedang berbicara dengan Wida. Bagaimana wajah Wida yang terlihat tertekan saat mengetahui kalau orang tua Prima tidak menyukai dirinya. Hmmm... gumamnya senang.
Apalagi saat ia bertemu dengan ibunya Prima tadi siang. Ia sepertinya mendapat dukungan penuh darinya.
"Besok kau harus sudah siap, karena kalian harus berangkat pagi," kata ibu Prima tadi siang padanya, "jagalah hubungan baik dengan Prima disana.."
Aaah... desahnya. Tentulah ia akan mencoba berhubungan baik dengan Prima, toh disana tidak ada Wida, yang merupakan penghalang terbesarnya. Bukankah sebelum Wida hadir, hubungan mereka baik-baik saja? Yah... semoga nanti di Jogja Prima akan kembali membuka hati untuknya. Dilihatnya dua buah koper besar yang sudah berdiri disamping lemarinya, yang telah terisi penuh dengan perlengkapan yang akan di bawanya ke Jogja nanti. Di wajahnya tampak bibirnya yang sedang tersenyum puas...
***
Dikamarnya, Prima tampak galau. Berbeda dengan Nina yang memandang kopernya dengan senyuman, Prima memandang kopernya dengan kesal. Hhhh... desahnya. Kenapa ia merasa di usir dari rumahnya sendiri? Pakaian dan atributnya telah di packing tanpa seijinnya. Dan kepergiannya ke Jogja tanpa kompromi dulu dengannya. Tahu-tahu ia harus berangkat besok. Apa itu bukan di usir namanya?
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dewi, adiknya, tanpa mengetuk pintu menyeruak masuk.
"Kaak!" serunya, "apa Kakak sudah tahu?"
Prima yang memang sedang kesal, hanya menoleh kearah adiknya tanpa bangun dari tempat tidurnya.
"Apa?" katanya dengan malas, "awas kalo gak penting, main masuk ajah.."
"Kalau tidak penting untuk apa aku kemari?" kilah Dewi. "Kakak tahu gak, kalau Kakak akan berangkat besok pagi? Jam setengah delapan?"
Prima tampak terkejut. Dengan cepat ia langsung bangun dan duduk disamping Dewi, yang duduk di pinggir ranjangnya.
"Kenapa sepagi itu?" tanyanya dengan wajah serius. "Memangnya Om Januar tidak lelah, kalau harus langsung berangkat begitu ia tiba besok?"
"Siapa bilang Om Januar tiba besok? Om Januar sudah sampai kok, barusan. Makanya aku tahu kalau Kakak akan berangkat pagi, besok," kata Dewi antusias. "Ini, memangnya Kakak tidak ingin Kak Wida melihat kepergian Kakak besok?" kata Dewi sambil menyodorkan ponselnya.
"Kakak harus memberitahu Kak Wida.. kasian nanti kalau dia datang, tapi Kakak sudah berangkat.."
Prima tersenyum. Diacaknya lembut rambut adiknya yang penuh perhatian itu.
"Makasih, ya," katanya sambil meraih ponselnya.
Dewi mengangguk.
"Ya sudah, aku kembali ke kamar dulu ya. Nanti kalau sudah selesai, Kakak antar ponselnya ke kamarku."
Setelah Dewi keluar dari kamarnya, Prima langsung menghubungi Wida. Cukup lama Wida menjawab panggilannya. Mungkin ia sudah tertidur, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
__ADS_1
"Iya... hallo.." akhirnya terdengar jawaban dari seberang. Suara Wida, yang sepertinya baru terjaga dari tidurnya.
"Ini aku, Prima. Kau sudah tertidur ya? Maaf ya kalau aku mengganggu.."
"Ah.. tidak apa-apa,kok. Memangnya ada apa kau telepon? Besok kan kita masih bisa bertemu sebelum kau berangkat.."
Prima terdiam sejenak.
"Iya.. tapi.. ternyata aku harus berangkat pagi. Jam setengah delapan. Bisakah kau datang pagi, sebelum aku berangkat?"
Wida yang tadi menjawab panggilan Prima sambil tiduran, langsung terduduk saat mendengar perkataan Prima.
"Kenapa sepagi itu? Kenapa kesannya terburu-buru?"
"Entahlah.. Kau tahu mamihku, bila sudah mengambil keputusan, tidak bisa di ubah. Tapi... kau bisa, kan datang pagi? Jam enam.. aku tunggu di samping rumahku.."
Wida terdiam. Entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi sedih. Mau mengantar kepergian Prima saja sesulit ini. Bertemu diam-diam disamping rumah.
"Bagaimana Wida? Bisakah kau datang besok?"
"Iya.. Akan aku usahakan.."
"Ada apa, Wid?" tanya Asti saat menjawab panggilan Wida. "Tumben kau belum tidur.."
"As... bisakah kau menemani aku besok pagi kerumah Prima?" tanya Wida langsung.
"Mau apa kau pagi-pagi kesana?" sepertinya Asti bingung dengan permintaan sahabatnya itu.
"Prima akan berangkat ke Jogja jam setengah delapan. Ia ingin aku menemuinya besok jam enam pagi. Bisa kau antar aku?"
***
Dan Wida memenuhi janjinya. Ia datang bersama Asti jam enam pagi itu, ke rumah Prima. Asti menjemput Wida dengan sepeda motornya. Mereka berhenti tidak jauh dari rumah Prima.
"Cepat kau hubungi Prima. Bilang kalau kau sudah sampai di dekat rumahnya," kata Asti memberi saran pada Wida.
Wida terdiam. Entah mengapa ia menjadi ragu untuk menemui Prima. Yah, ia takut, bila mereka bertemu nanti, akan memberatkan Prima saat ia akan berangkat nanti. Dan... yang terutama dirinya.. akankah ia sanggup untuk melepas Prima?
"Tidak usah. Kita disini saja. Aku takut, jika kita bertemu, akan terasa berat bagi kita berdua..."
__ADS_1
Asti melirik ke arah sahabatnya. Ia tidak ingin ikut campur dengan hubungan sahabatnya itu.
"Ya sudah, terserah dirimu. Kau lakukan saja apa yang terbaik untukmu.."
Tiba-tiba ponsel Wida berdering. Wida membaca nama sang penelpon. Prima.. Wida mendesah pelan sebelum ia menjawab panggilan Prima.
"Ya Prima.." jawabnya pelan.
"Kau dimana? Apakah kau sudah sampai?"
Wida dan Asti yang berdiri tidak jauh dari rumah Prima, tiba-tiba melihat pintu pagar rumah itu terbuka. Wida yang terkejut saat Prima tiba-tiba keluar dari sana, langsung menarik tangan Asti untuk bersembunyi, agar Prima tidak melihat mereka.
"Apa-apaan kau ini...." ujar Asti yang terkejut karena di tarik dengan tiba-tiba oleh Wida. Namun kata-katanya langsung terhenti saat dilihatnya Wida menaruh telunjuknya di bibirnya. Wida menunjukkan ponselnya pada Asti, kalau ia masih berbicara dengan Prima di ponsel. Asti mengangguk tanda mengerti.
"Halo Wida.. kau dengar aku?" suara Prima terdengar heran karena Wida tidak langsung menjawabnya.
"Iya... a.. aku dengar," jawab Wida tergagap. "Aku masih dirumah. Sepertinya aku tidak mendapat ijin dari ibu untuk keluar rumah pagi ini. Ibu mau antar ketring soalnya."
Asti langsung menoleh ke arah Wida, saat mendengar sahabatnya yang sedang berbohong itu. Wida yang tahu kalau Asti sedang menatapnya, segera memalingkan wajahnya ketempat lain. Ia takut bila melihat ke arah Asti, ia tidak akan bisa berbohong pada Prima.
"Tidak bisakah kau usahakan untuk datang kesini? Aku sangat ingin kita bertemu sebelum aku berangkat.." nada suara Prima terdengar sedih.
Wida begitu mendengar suara Prima yang tampak kecewa, hampir goyah. Namun saat melihat sebuah taxi berhenti didepan rumah Prima, dan melihat Nina keluar dari sana, Wida kembali tegar. Kakinya yang hampir melangkah kembali terpaku. Tampak olehnya wajah Nina yang tersenyum ceria saat melihat Prima. Mungkin ia mengira kalau Prima sedang menyambut dirinya. Tapi saat Prima mengacuhkannya, wajah Nina langsung terlihat datar. Dan tanpa mempedulikan Prima yang mengacuhkannya, Nina langsung masuk ke halaman rumah Prima sambil menarik kedua kopernya. Dan itu semua tak luput dari pandangan Wida.
Wida tersenyum. Sepertinya ia senang, karena tanpa ada dirinya, Prima tetap menjaga hatinya.
"Halo Wida.. kenapa kau terdiam? Bisakah kau datang?"
Wida mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup saat berbicara.
"Aku benar-benar tidak bisa. Kau berangkat saja. Nanti kita 'vc' saat kau tiba disana.."
"Prima!" terdengar suara seseorang memanggil Prima di ponsel.
"Sepertinya kau di panggil.." kata Wida mengingatkan Prima. "Memangnya kau sedang ada dimana?" Wida pura-pura menanyakan keberadaan Prima.
"Aku sedang di luar.. aku sedang menunggumu.."
"Kalau begitu masuklah. Kau tidak ingin hubungan kita semakin rumit, jika mamihmu tahu kalau kau menungguku bukan....?"
__ADS_1