
Nina benar-benar tidak bisa tidur siang hari itu. Berkali-kali ia melihat ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan atau panggilan masuk, yang tentu saja dari Sifa. Tubuhnya pun berkali-kali berganti posisi dengan gelisah. Dilihatnya jam dinding di kamarnya yang sudah hampir menunjukkan pukul tiga. Baginya hari itu waktu berjalan amat lambat. Ia mencoba memejamkan matanya, namun baru beberapa detik matanya kembali terbuka, karena dikejutkan oleh dering ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.
Nina segera meraih ponselnya yang tak jauh dari bantalnya. Ternyata Sifa memanggilnya.
"Halo,Sifa?! Bagaimana?" tanya Nina cepat tanpa basa-basi.
"Kau lihat saja sendiri," jawab Sifa terdengar santai dan langsung mematikan panggilannya.
Nina langsung membuka ponselnya, lalu dibukanya salah satu akun medianya, dimana Sifa telah mengirim begitu banyak pesan gambar foto Soni dan Wida yang tampak terlihat mesra bagaikan sepasang kekasih. Nina tersenyum puas. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu begitu andal dalam mengambil gambar.
"Kenapa ia tidak jadi fotografer saja?" gumamnya sambil tersenyum senang.
Lalu dengan antusias ia pun mengirim kembali gambar-gambar itu ke ponsel Prima. Setelah semua terkirim, matanya pun langsung melihat ke arah pintu kamarnya. Mulutnya pun mulai menghitung pelan, "Satu, dua, tiga..." Belum sampai hitungan kesepuluh, pintu kamarnya pun terbuka. Dan sesuai dengan dugaannya, Prima menyeruak masuk dengan wajah penuh amarah...
***
Prima yang masih menunggu telepon dari Wida, terlihat gelisah. Berulang kali ia mengambil ponselnya, dan kemudian kembali membuangnya. Tubuhnya pun berulang kali duduk dan rebah diatas tempat tidurnya. Kelihatan sekali ia begitu menantikan telepon dari Wida. Ada rasa ingin untuk mencoba menelepon Wida. Namun rasa gengsi yang telah menguasai dirinya, meencegahnya untuk tidak melakukan panggilan ke Wida melalui ponselnya.
Saat ia menghempaskan tubuhnya ke kursi belajarnya, tiba-tiba terdengar nada pesan masuk dari ponselnya. Lalu setengah panik, ia langsung kembali ke atas tempat tidurnya, untuk mengambil ponselnya yang ia lempar tadi. Namun wajahnya terlihat kecewa setelah melihat siapa pengirim pesan itu. Dan dengan rasa enggan di bukanya pesan yang ternyata dari Nina. Seketika parasnya pun kembali berubah, yang semula kecewa, kini menjadi amarah. Dan dengan ponsel di genggamannya ia keluar dari kamarnya dan langsung menyeruak masuk ke kamar Nina yang ada di seberang kamarnya.
Nina yang memang sudah menunggu kedatangan Prima tampak terlihat tenang. Tidak ada sedikit pun rasa terkejut saat Prima membuka pintu kamarnya dan menyeruak masuk. Ia dengan santai bangun dari tidurnya dan duduk diatas tempat tidurnya sambil memeluk bantalnya.
"Apa maksudmu mengirim gambar-gambar ini kepadaku?!" tanya Prima yang penuh emosi sambil mengacungkan ponselnya ke arah Nina.
Nina menyeringai sinis.
"Agar matamu terbuka," jawab Nina datar, "dan kau tahu, bagaimana kelakuan Wida di belakangmu!"
__ADS_1
Prima terdiam sesaat. Matanya menatap Nina dengan geram.
"Aku tidak menyangka kau masih melakukan hal buruk terhadap Wida. Berani sekali kau menyuruh seseorang untuk memata-matai dia!"
Nina mendesah kesal.
"Kenapa kau marah padaku? Harusnya kau berterima kasih, karena aku sudah membantumu mengawasi Wida," kata Nina dengan nada yang agak tinggi. "Memangnya aku tidak tahu, kalau kau seharian ini mencemaskan dia? Cemas apa yang sedang dia lakukan dengan sainganmu itu?!"
"Itu urusanku!"
"Kalau memang urusanmu, jangan kau perlihatkan wajahmu yang kusut di depanku. Kau pikir aku senang melihat wajahmu yang seperti itu karena dia?" jawab Nina ketus.
Nina kemudian beranjak dari duduknya, dan menghampiri Prima. Lalu dengan sekali sentak ia merebut ponsel Prima. Di bukanya satu perasatu gambar-gambar kiriman Sifa di hadapan Prima.
"Kau lihat," katanya sambil menunjukkan gambar dimana Wida sedang duduk berdampingan dengan Soni, saat membaca buku. "Betapa senangnya wajah pacarmu itu saat jauh darimu. Ia bisa tersenyum senang dengan Soni saat kau tidak ada disisinya. Sedangkan kau? Kau begitu mencemaskan dia yang sepertinya tidak peduli bila dibelakangmu," kata Nina mulai menghasut.
Prima terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat, sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa. Sedikit, hatinya mulai terhasut. Matanya yang menatap layar ponselnya dimana gambar Wida yang sedang tersenyum ceria terpampang, membuat hatinya membenarkan ucapan Nina. Yah, kekasihnya itu memang terlihat bahagia. Bahagia saat bersama lelaki lain, yang ia juga tahu kalau itu adalah saingannya.
Prima terduduk di tepi tempat tidurnya. Wajahnya tertunduk dengan mata yang tak lepas dari ponsel yang ada di genggamannya. Satu persatu jari telunjuknya menggeser-geser foto yang di kirim Nina. Terlihat jelas bahwa Wida tampak bahagia di foto itu. Apakah karena Soni? Apakah karena bersama laki-laki itu makanya iya bahagia? Batinnya bertanya-tanya. Dan saat melihat foto terakhir, dimana Soni tampak terlihat seperti menggandeng Wida, Prima merasa hatinya seperti teriris...
***
Sepanjang perjalanan pulang, Wida sama sekali tidak berbicara. Wajahnya yang manis tampak cemberut, menandakan hatinya yang sedang kesal. Entah ia kesal dengan Soni, atau dengan Prima yang tidak menghubunginya. Soni beberapa kali mencoba mengajak Wida berbicara, namun tak satu pun di tanggapi gadis itu. Dan akhirnya Soni juga memilih untuk diam.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Wida. Dan gadis itu langsung melompat turun, ketika motor berhenti. Saat Wida melintas hendak masuk ke rumahnya, Soni kembali meraih tangan Wida. Wida yang tangannya di pegang Soni, mau tidak mau menghentikan langkahnya. Matanya dengan kesal melihat ke arah tangan Soni.
"Sudah tiga kali kau memegang tanganku hari ini," ujar Wida ketus. "Kau tahu, kan, kalau aku tidak menyukainya?" Wida menarik tangannya yang langsung di lepas oleh Soni.
__ADS_1
" Maaf... aku..."
"Kau tidak sengaja lagi?" potong Wida saat Soni hendak bicara.
"Bukan begitu..." jawab Soni pelan, "aku hanya mau minta maaf kalau aku salah bicara tadi. Aku hanya bercanda."
Wida terdiam. Iya... kenapa juga ia harus marah? Batin Wida. Toh belum tentu apa yang di ucapkan Soni itu benar.
"Tapi bercandamu itu tidak lucu," kata Wida kesal. "Sudahlah... aku masuk dulu. Kau lebih baik pulang saja. Aku lelah sekali hari ini." Wida mengusir Soni secara halus.
Soni hanya terdiam. Ia merasa menyesal telah merusak suasana di antara mereka.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf. Kalau kau marah aku tidak akan bisa tenang."
Wida menghela nafas pelan.
"Baiklah. Aku tidak marah, oke?" akhirnya Wida mengalah.
Soni tersenyum lega.
"Ya sudah... kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih kau sudah mau jalan denganku hari ini. Kau masuklah," kata Soni lembut.
Wida mengangguk pelan. Dan tanpa berkata lagi, ia langsung masuk ke halaman rumahnya, meninggalkan Soni yang terus menatapnya hingga ia hilang di balik pintu rumahnya.
Soni tampak tersenyum simpul. Ia sebenarnya senang saat Wida marah padanya, ketika mereka membicarakan Prima. Bukankah itu berarti Wida terpancing oleh perkataannya? Dan itu artinya... Wida mulai meragukan Prima...
***
__ADS_1
Wida yang sedang kacau pikirannya langsung masuk kedalam kamarnya begitu ia tiba di rumah. Tubuhnya yang tiba-tiba terasa lelah, langsung di hempaskannya ke atas tempat tidur. Ingin sekali ia memejamkan matanya, namun gambaran Prima yang sedang bersama Nina seakan tak mau lepas dari pandangannya. Walaupun itu hanya bayangannya saja. Aaaah... desahnya sambil berusaha memejamkan matanya. Kenapa kini ia berpikiran yang tidak-tidak tentang Prima? Bukankah itu hanya perkataan lepas Soni saja? Tapi mengapa itu sangat mengganggunya?
Wida kembali membuka matanya, kini tangannya sibuk mencari ponselnya disaku celananya. Setelah menemukannya, dibukanya ponselnya. Dan rasa kecewa kini menghiasi wajahnya. Ternyata Prima benar-benar tidak menghubunginya sama sekali. Jangankan telepon, mengirim pesan saja tidak. Wida semakin resah saat mengingat perkataan Soni, 'mungkin ia juga sedang bepergian dengan Nina'. Apakah itu benar? Batinnya bergelut. Apakah ia juga sibuk dengan Nina, sehingga ia tidak sempat menghubunginya? Apakah harus aku yang menghubunginya? Ah... tidak! Nanti yang ada ia hanya mengganggunya saja.. Akhirnya dengan kesal Wida melempar ponselnya dengan sembarang...